Dari Pengangguran Menuju Profesional, Ranny Fahd A Rafiq Gaungkan Reformasi Total BLK

JAKARTA: BELA RAKYAT – Tantangan ketenagakerjaan yang terus berkembang menuntut perubahan besar dalam sistem pengembangan sumber daya manusia di Indonesia. Salah satu langkah yang dinilai paling strategis adalah memperkuat peran Balai Latihan Kerja (BLK) agar tidak lagi sekadar menjadi tempat pelatihan, melainkan pusat pengembangan kompetensi yang mampu melahirkan tenaga kerja profesional sesuai kebutuhan industri.

Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Ranny Fahd A Rafiq, menilai transformasi BLK merupakan salah satu kunci penting dalam menekan angka pengangguran sekaligus meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia di tingkat global.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, pelatihan vokasi harus mengikuti perkembangan dunia industri yang berubah sangat cepat akibat kemajuan teknologi dan digitalisasi. Karena itu, kurikulum pelatihan perlu terus diperbarui agar menghasilkan lulusan yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan pasar kerja.

“BLK harus menjadi pusat pencetak tenaga kerja yang adaptif, inovatif, dan siap bersaing. Kita tidak bisa lagi mempertahankan pola pelatihan yang tertinggal dari kebutuhan industri,” ujar Ranny di Jakarta, Minggu (5/7/2026).

Ranny menegaskan bahwa setiap warga negara memiliki potensi besar untuk berkembang apabila memperoleh akses pelatihan yang tepat. Oleh sebab itu, negara harus hadir memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat agar mampu meningkatkan kompetensi sekaligus memperoleh pekerjaan yang layak.

Sebagai anggota Komisi IX DPR RI yang membidangi ketenagakerjaan, Ranny memandang investasi terhadap kualitas manusia merupakan investasi jangka panjang yang memberikan manfaat paling besar bagi kemajuan bangsa.

Ia juga menilai paradigma pencari kerja perlu diubah menjadi pencipta nilai. Melalui pelatihan yang berkualitas, masyarakat diharapkan tidak hanya siap bekerja di perusahaan, tetapi juga mampu membangun usaha mandiri yang membuka lapangan pekerjaan baru.

Selain peningkatan kemampuan teknis, Ranny menekankan pentingnya pembentukan karakter, kedisiplinan, etos kerja, kemampuan beradaptasi, serta kreativitas dalam setiap program pelatihan BLK. Menurutnya, kualitas tersebut menjadi faktor penting yang semakin dibutuhkan dunia kerja modern.

Ranny juga mendorong keterlibatan lebih luas kalangan perempuan dalam berbagai sektor industri, termasuk bidang yang selama ini didominasi laki-laki. Menurutnya, kesempatan memperoleh pelatihan dan pekerjaan harus diberikan secara setara kepada seluruh masyarakat tanpa diskriminasi.

Di sisi lain, ia mengingatkan pentingnya tata kelola anggaran yang transparan dan tepat sasaran agar setiap program peningkatan kompetensi tenaga kerja benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Lebih lanjut, Ranny menilai sinergi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, serta sektor industri menjadi faktor utama dalam keberhasilan reformasi sistem pelatihan nasional. Kolaborasi tersebut diperlukan agar materi pelatihan selalu sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja yang terus berkembang.

Ia juga mendorong pemanfaatan teknologi digital dalam proses pembelajaran di BLK, termasuk penggunaan simulasi berbasis virtual reality, analisis data kebutuhan tenaga kerja, hingga digitalisasi sistem pelatihan agar peserta memperoleh pengalaman belajar yang lebih efektif.

Menurut Ranny, pemetaan kebutuhan tenaga kerja berbasis data akan membantu pemerintah menentukan jenis pelatihan yang benar-benar dibutuhkan di setiap daerah sehingga lulusan BLK memiliki peluang kerja yang lebih besar.

Selain itu, ia mengusulkan adanya pendampingan berkelanjutan bagi para alumni BLK melalui program mentorship bersama pelaku industri. Pendampingan tersebut dinilai penting agar lulusan mampu beradaptasi ketika memasuki dunia kerja sekaligus terus meningkatkan kompetensinya.

Ranny juga menilai pemerintah perlu memperkuat dukungan terhadap lulusan BLK yang ingin menjadi wirausaha melalui kemudahan akses permodalan, insentif fiskal, dan regulasi yang mendukung pengembangan usaha baru.

Menurutnya, keberhasilan pembangunan ketenagakerjaan tidak hanya diukur dari berkurangnya angka pengangguran, tetapi juga dari meningkatnya produktivitas masyarakat serta terciptanya ekosistem ekonomi yang lebih kuat.

“BLK harus berkembang menjadi pusat inovasi yang mampu melahirkan tenaga kerja unggul sekaligus menciptakan wirausahawan baru. Dengan begitu, Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk menghadapi persaingan global,” tegasnya.

Ranny optimistis, apabila transformasi BLK dijalankan secara konsisten dengan dukungan seluruh pemangku kepentingan, Indonesia akan memiliki sumber daya manusia yang semakin kompetitif dan mampu menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional di masa depan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *