MEKKAH: BELA RAKYAT – Fenomena sandwich generation bukan lagi sekadar persoalan keluarga, melainkan telah berkembang menjadi persoalan sosial dan ekonomi yang dinilai berpotensi menghambat kemajuan Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi Partai Golkar Ranny Fahd A Rafiq yang menilai jutaan masyarakat usia produktif kini berada dalam tekanan akibat memikul beban membiayai orang tua sekaligus keluarga inti.
Dalam pandangannya, fenomena ini merupakan persoalan struktural yang memerlukan perubahan paradigma, bukan sekadar solusi individual.
“Fenomena generasi sandwich kini bukan sekadar tren, melainkan tragedi struktural yang membungkam masa depan jutaan penduduk Indonesia,” kata Ranny.
Beban Finansial yang Tak Lagi Bersifat Personal
Menurut Ranny, persoalan generasi sandwich tidak dapat dipandang hanya sebagai urusan hubungan anak dan orang tua. Di baliknya terdapat persoalan yang lebih besar, yakni sistem kesejahteraan sosial yang belum sepenuhnya mampu menopang masyarakat.
Ia mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 yang menyebut sekitar 71 juta jiwa berada dalam kondisi tersebut.
Baginya, angka itu menunjukkan bahwa perlindungan sosial masih sangat bergantung kepada kemampuan individu.
“Angka tersebut merefleksikan bagaimana sistem kesejahteraan sosial kita masih bertumpu pada pundak individu, alih-alih proteksi negara yang komprehensif,” ujar Ranny.
Budaya Bakti yang Berubah Menjadi Beban
Dalam analisisnya, Ranny tidak menolak nilai budaya menghormati dan membantu orang tua. Namun ia mengingatkan bahwa nilai luhur tersebut dapat berubah menjadi persoalan apabila tidak diiringi literasi keuangan.
Ia menilai banyak keluarga masih menganggap anak sebagai jaminan ekonomi di masa tua.
“Bakti anak kepada orang tua adalah kebajikan. Namun ketika tanpa dibarengi literasi finansial, ia bertransformasi menjadi jerat yang membelenggu produktivitas,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat generasi produktif sulit membangun aset, menabung, maupun berinvestasi.
Kota Besar Menjadi Episentrum Tekanan
Ranny menilai wilayah perkotaan seperti Jabodetabek menjadi contoh nyata meningkatnya tekanan terhadap generasi sandwich.
Biaya hidup yang tinggi harus dihadapkan dengan tuntutan sosial untuk terus membantu keluarga besar di kampung halaman.
“Ketidakseimbangan ini menciptakan bom waktu finansial yang siap meledak kapan saja bagi para pekerja usia produktif,” tegasnya.
Kasus Figur Publik Menjadi Cermin
Dalam paparannya, Ranny mencontohkan bahwa fenomena ini juga dialami kalangan publik figur.
Ia menyinggung kisah seorang artis yang tetap mengalami tekanan ekonomi meski memiliki penghasilan besar.
Lebih lanjut, Ranny menilai, pendapatan tinggi tidak otomatis menjamin kesehatan finansial apabila tidak memiliki batasan yang jelas terhadap tuntutan keluarga.
“Tanpa boundaries yang jelas, pendapatan berapa pun akan terserap habis oleh sumur tanpa dasar ekspektasi orang lain,” ujarnya.
Burnout Kolektif dan Ancaman Produktivitas Nasional
Ranny mengingatkan bahwa dampak generasi sandwich tidak hanya berupa tekanan ekonomi, tetapi juga berpengaruh terhadap kesehatan mental masyarakat.
Ia menyebut kelelahan berkepanjangan akan mengurangi kemampuan berpikir strategis serta menghambat lahirnya inovasi.
“Fenomena ini menciptakan burnout kolektif, sebuah kelelahan mental yang membuat masyarakat kehilangan daya kreatif untuk melahirkan inovasi,” katanya.
Ia menjelaskan, tekanan ekonomi yang berlangsung lama juga berdampak terhadap kualitas hubungan keluarga.
Anak Bukan Instrumen Jaminan Hari Tua
Dalam investigasi terhadap akar persoalan tersebut, Ranny menilai Indonesia membutuhkan perubahan cara pandang. Ia menegaskan, anak tidak semestinya diposisikan sebagai instrumen jaminan hari tua.
“Perlu ada perombakan paradigma besar-besaran agar anak-anak tidak lagi dianggap sebagai instrumen jaminan hari tua, namun sebagai individu mandiri yang harus membangun pondasi hidupnya sendiri,” ungkapnya.
Perbedaan Tanggung Jawab Moral dan Ketergantungan
Ranny juga membedakan antara kewajiban moral terhadap orang tua dengan ketergantungan ekonomi yang dinilainya sudah tidak sehat.
Menurutnya, membantu orang tua merupakan kewajiban. Namun membiayai seluruh keluarga besar yang masih produktif justru dapat memperpanjang rantai kemiskinan.
“Membiayai orang tua adalah kewajiban, namun membiayai seluruh anggota keluarga besar yang non-produktif adalah sebuah tindakan irasional,” tegasnya.
Literasi Keuangan Dinilai Masih Lemah
Ranny turut menyoroti rendahnya literasi keuangan di lingkungan keluarga.
Ia menilai banyak orang tua belum memiliki perencanaan finansial yang memadai sehingga beban akhirnya berpindah kepada anak.
“Sistem pendidikan kita gagal dalam memberikan financial literacy yang memadai bagi orang tua. Akibatnya, beban edukasi keuangan itu kini harus dipelajari dengan cara yang menyakitkan oleh sang anak,” katanya.
Lima Strategi Memutus Rantai Generasi Sandwich
Sebagai solusi, Ranny menawarkan lima langkah strategis agar siklus tersebut tidak terus berulang.
Pertama, mengubah pola bantuan konsumtif menjadi investasi produktif bagi keluarga.
Kedua, menetapkan batasan bantuan secara jelas melalui kesepakatan yang transparan.
Ketiga, membangun aset jangka panjang sebagai perlindungan masa depan.
Keempat, meningkatkan produktivitas melalui pengembangan keterampilan dan pemanfaatan teknologi.
Kelima, menanamkan nilai kemandirian kepada anak sejak dini agar tidak mewarisi pola ketergantungan yang sama.
Doktrin “Sandwich Terakhir”
Ranny mengajak masyarakat untuk menjadikan dirinya sebagai generasi terakhir yang mengalami tekanan tersebut.
Bahkan Ranny menerangkan, keberanian menetapkan batasan bukan berarti memutus hubungan kekeluargaan.
Sebaliknya, hal itu menjadi langkah untuk menjaga keberlangsungan ekonomi keluarga dalam jangka panjang.
“Doktrin ‘Sandwich Terakhir’ harus ditanamkan dalam sanubari. Kita harus menjadi generasi terakhir yang memikul beban ini, agar anak cucu kita bebas dari jerat yang sama,” ujarnya.
Penutup
Di akhir pernyataannya, Ranny Fahd A Rafiq menegaskan, perubahan pola pikir menjadi kunci utama dalam memutus rantai generasi sandwich. Ia mengungkapkan, keberanian membangun kemandirian finansial bukan hanya menyelamatkan individu, tetapi juga memberikan dampak besar bagi perekonomian nasional.
“Jika kita mampu mengubah paradigma ini, maka kita tidak hanya menyelamatkan diri sendiri. Kita sedang berkontribusi dalam menyelamatkan masa depan ekonomi bangsa secara keseluruhan,” tutup Ranny.






