Diam Itu Emas, Bicara Itu Mutiara: Seni Jaga Lisan di Zaman Fitnah

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI, PKS, Kalimantan Selatan I

Tidak semua yang kita pikirkan harus kita ucapkan. Tapi apa yang kita ucapkan, harus kita pikirkan matang-matang.

Wahai saudaraku, di zaman ini, menjaga perut dari makanan haram mungkin mudah. Tapi menjaga lisan dari perkataan haram, itulah perjuangan yang paling berat. Jari kita lebih cepat dari akal kita. Satu ketikan di status WhatsApp, satu komentar di Instagram, satu potongan voice note, bisa menghancurkan persaudaraan bertahun-tahun.

BAGIAN PERTAMA: MENGAPA LISAN ADALAH PENENTU SURGA DAN NERAKA

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah ditanya, apa penyebab paling banyak manusia masuk surga? Beliau menjawab: “Taqwa kepada Allah dan akhlak yang mulia.” Lalu ditanya, apa penyebab paling banyak manusia masuk neraka? Beliau menjawab: “Karena mulut dan kemaluannya.” (HR. Tirmidzi)

Lisan itu kecil, tidak bertulang, tapi ia bisa mengangkat derajat setinggi langit dan bisa membanting pemiliknya ke dasar neraka paling dalam.

Allah berfirman dengan ancaman yang sangat keras:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)

Bayangkan, setiap kata kita dicatat. Bahkan keluhan kita, umpatan kita di jalan, ghibah kita yang kita anggap remeh sambil tertawa, semua ada transkripnya di Lauhul Mahfudz.

Rasulullah juga bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang diridhai Allah, ia anggap remeh, namun Allah mengangkat derajatnya karenanya. Dan seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang dimurkai Allah, ia anggap remeh, namun ia terjerumus ke dalam neraka Jahannam karenanya.” (HR. Bukhari)

Betapa banyak orang yang bangkrut di akhirat bukan karena tidak shalat, tapi karena lisannya. Pahalanya habis untuk membayar orang-orang yang ia sakiti, ia ghibahi, ia fitnah.

BAGIAN KEDUA: KISAH-KISAH YANG MENGGUNCANG HATI TENTANG LISAN
Agar kita tidak menganggap enteng, mari kita belajar dari salafus shalih:

1. Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu.

Abu Bakar adalah manusia terbaik setelah Nabi. Beliau sering memegang lidahnya sendiri dan berkata sambil menangis, “Inilah yang akan menjerumuskanku. Inilah yang akan mencelakakanku.” Jika Abu Bakar yang dijamin surga saja takut dengan lisannya, bagaimana dengan kita?

2. Kisah Luqman Al-Hakim dan Anaknya.

Luqman adalah seorang hamba yang Allah abadikan namanya dalam Al-Qur’an karena hikmahnya. Suatu hari ia menyuruh anaknya menyembelih kambing dan membawa 2 potongan daging terbaik. Anaknya membawa lidah dan hati. Di hari lain, ia menyuruh membawa 2 potongan daging terburuk, anaknya pun membawa lidah dan hati lagi. Luqman berkata, “Wahai anakku, lidah dan hati adalah yang terbaik jika baik, dan yang terburuk jika buruk.”

3. Kisah Dua Wanita di Zaman Rasulullah

Diceritakan kepada Rasulullah ada seorang wanita yang rajin shalat malam, rajin puasa sunnah, rajin sedekah, tapi lisannya tajam, gemar menyakiti tetangganya. Rasulullah bersabda: “Dia di neraka.”

Dan diceritakan ada wanita lain yang ibadah wajibnya saja, sedekahnya hanya sedikit, tapi ia tidak pernah menyakiti tetangganya dengan lisannya. Rasulullah bersabda: “Dia di surga.” (HR. Ahmad)

Lihat, ibadah sunnah yang banyak tidak mampu menyelamatkannya dari lisan yang jahat.

BAGIAN KETIGA: INDAHNYA DIAM – KAPAN EMAS ITU HARUS KITA PAKAI

Diam bukan berarti pengecut. Diam adalah kekuatan. Diam adalah benteng.

1. Alangkah Indahnya Diam, Bila Bicara Hanya Menyakiti Orang Lain.

Diamlah. Rasulullah mengajarkan, jadilah orang yang jika tidak ada, dirindukan. Bukan jika tidak ada, dibicarakan kejelekannya, tapi jika ada, ditakuti lisannya. Lebih baik mereka menganggapmu sombong karena diam, daripada mereka membencimu karena lisanmu yang menyakitkan.

Di era media sosial ini, berapa banyak orang tua yang sakit hati karena komentar anaknya? Berapa banyak istri yang menangis semalaman karena kalimat suaminya? Tahan. Diam sejenak. Tarik napas. Istighfar.

2. Alangkah Terhormatnya Diam, Bila Bicara Untuk Merendahkan Orang Lain.

Jangan pernah meninggikan diri dengan menginjak kepala orang lain. Jangan mencari panggung dengan menjatuhkan orang. Itu bukan terhormat, itu hina. Orang yang mulia adalah yang mengangkat orang lain, bukan merendahkannya. Ketika melihat teman dapat rezeki, jangan nyinyir. Diam dan doakan.

3. Alangkah Baiknya Diam, Bila Bicara Justru Menimbulkan Dosa.

Inilah penyakit zaman now: Ghibah online. Kita menonton video orang, lalu kita komentari fisiknya, aibnya, keluarganya. Kita share berita yang belum tentu benar. Ingat, Rasulullah bersabda: “Cukuplah seseorang dikatakan pendusta, jika ia menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim). Tidak semua berita harus di-share.

4. Alangkah Kerennya Diam, Bila Bicara Malah Menebar Aib Orang Lain

Saudaraku, aib saudaramu adalah amanah. Allah menutupi aibmu setiap hari, mengapa engkau begitu semangat membuka aib saudaramu? Siapa yang menutupi aib seorang muslim di dunia, Allah akan tutupi aibnya di akhirat.

BAGIAN KEEMPAT: DAHSYATNYA BICARA – KAPAN MUTIARA ITU HARUS KELUAR

Namun Islam adalah agama yang adil. Tidak selamanya diam itu emas. Terkadang diam itu adalah perunggu yang berkarat, bahkan bisa menjadi dosa besar.

1. Betapa Dahsyatnya Bicara, Bila Diam Dapat Mencelakakan Orang Lain.

Melihat teman mau ditipu, melihat tetangga mau kecelakaan, melihat ada bahaya di depan, kok kita diam? Di situlah bicara hukumnya wajib. Rasulullah bersabda: “Tolonglah saudaramu yang zalim dan yang dizalimi.” Sahabat bertanya, bagaimana menolong yang zalim? Beliau jawab: “Cegah dia dari kezalimannya, itulah pertolongan untuknya.”

Jika engkau diam melihat kemungkaran padahal engkau mampu bicara, maka engkau adalah setan bisu. Kata Abu Ali Ad-Daqaq Rahimahullah: “Orang yang diam dari kebenaran adalah setan bisu, dan orang yang berbicara kebatilan adalah setan yang berbicara.”

2. Betapa Saktinya Bicara, Bila Diam Dapat Merugikan Orang Lain

Jadilah saksi yang jujur. Jangan sembunyikan kebenaran demi pertemanan. Satu kesaksian jujurmu di pengadilan, di kantor, di keluarga, bisa menyelamatkan hak orang lain.

3. Betapa Pentingnya Bicara, Bila Diam Dapat Mengubur Harapan Masa Depan Orang Lain

Mungkin anakmu hampir menyerah sekolahnya. Karyawannmu hampir resign karena putus asa. Istrimu lelah mengurus rumah. Satu kalimat darimu: “Aku bangga padamu, kamu hebat, aku di sini untukmu” bisa menjadi bahan bakar untuk 10 tahun ke depan. Jangan pelit memuji kebaikan. Rasulullah adalah orang yang paling ringan memuji kebaikan sahabatnya.

4. Betapa Bagusnya Bicara, Bila Diam Dapat Merendahkan Derajat Orang Lain

Ketika saudaramu digunjingkan di sebuah grup, dan engkau ada di sana, lalu engkau diam saja, maka engkau ikut merendahkannya. Bela dia. Katakan: “Sudah, jangan bicarakan dia. Kita tidak tahu yang sebenarnya.” Satu pembelaan itu, Allah akan bela kehormatanmu di hari kiamat kelak.

BAGIAN KELIMA: LATIHAN PRAKTIS MENJAGA LISAN DI ZAMAN NOW

Bagaimana caranya agar kita bisa menjadi pemilik mutiara itu?

1. Puasa Bicara

Para ulama salaf sering melakukan puasa bicara, bukan puasa bicara total seperti syariat Bani Israil yang dilarang, tapi puasa dari bicara yang tidak perlu. Cobalah sehari, niatkan: hari ini saya hanya akan bicara yang penting dan baik saja. Latih. Karena berpuasa menahan lisan itu lebih berat daripada berpuasa menahan makan dan minum.

2. Filter 3 Lapis Imam Syafi’i

Sebelum bicara, saring dengan 3 saringan:
Saringan pertama: Apakah ini BENAR?
Saringan kedua: Apakah ini BAIK?
Saringan ketiga: Apakah ini PERLU?
Jika tidak lolos 3 saringan itu, telan kembali kata-katamu.

3. Perbanyak Dzikir

Lisan yang terbiasa berdzikir: Subhanallah, Alhamdulillah, Astaghfirullah, Shalawat, akan terasa berat untuk mengucapkan kata kotor. Karena lisan itu seperti teko, hanya akan mengeluarkan apa yang ada di dalamnya. Isi dengan dzikir.

4. Ingat, Mulutmu Harimaumu

Di dunia digital, jarimu adalah harimaumu. Jejak digital tidak akan hilang. Apa yang kau tulis hari ini, akan ditagih 10 tahun lagi.

Penutup Doa

Ya Allah, ampunilah dosa lisan kami selama ini.

Ya Allah, bimbinglah lisan kami agar hanya mampu berkata jujur, berkata baik, atau memilih diam yang terhormat.

Jadikanlah lisan kami lisan yang menjadi mutiara, yang menyejukkan hati yang mendengar, yang mendamaikan yang bertengkar, yang memotivasi yang putus asa.

Jagalah kami dari tajamnya lisan kami sendiri.

Wallahu A’lam Bishawab.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *