Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI, PKS, Kalimanran Selatan I
Sering kali kita begitu sibuk membersihkan sesuatu yang terlihat oleh manusia, tetapi lupa membersihkan sesuatu yang paling penting: hati kita sendiri.
Kita membersihkan rumah, pakaian, kendaraan, wajah dan tubuh. Namun, apakah kita pernah bertanya kepada diri sendiri: bagaimana keadaan hati saya di hadapan Allah?
Bisa jadi pakaian kita bersih, tetapi hati kita masih menyimpan iri.
Bisa jadi wajah kita terlihat tenang, tetapi di dalam hati ada dendam.
Bisa jadi lisan kita banyak berzikir, tetapi hati kita masih sulit memaafkan.
Bisa jadi kita terlihat baik di hadapan manusia, tetapi masih ada kesombongan yang diam-diam tumbuh dalam diri.
Inilah pentingnya tazkiyatun nafs, yaitu usaha sungguh-sungguh untuk menyucikan jiwa, membersihkan hati dari penyakit batin, serta mendidik diri agar semakin dekat dan tunduk kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam QS. Asy-Syams ayat 9–10: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
Ayat ini mengingatkan kita bahwa keberuntungan yang sesungguhnya bukan hanya tentang harta, jabatan, popularitas, atau keberhasilan dunia.
Keberuntungan terbesar adalah ketika kita memiliki hati yang bersih dan jiwa yang dekat dengan Allah.
HATI ADALAH TEMPAT YANG HARUS DIJAGA
Saudaraku,
Penyakit hati terkadang tidak terlihat oleh manusia. Iri, dengki, sombong, ujub, riya, dendam, merasa paling benar, senang melihat orang lain jatuh—semuanya bisa bersembunyi di balik senyum.
Karena itu, jangan hanya bertanya, “Apa yang sudah saya miliki?”
Tetapi bertanyalah: “Apa yang sudah berubah dalam diri saya?”
Apakah setelah banyak beribadah kita menjadi lebih rendah hati?
Apakah setelah banyak membaca Al-Qur’an kita menjadi lebih lembut?
Apakah setelah banyak berzikir kita menjadi lebih mudah memaafkan?
Apakah setelah sering bersedekah kita menjadi lebih peduli kepada sesama?
Sebab ibadah bukan hanya tentang banyaknya aktivitas yang kita lakukan, tetapi juga tentang perubahan akhlak dan kebersihan hati yang lahir dari ibadah tersebut.
DOA NABI UNTUK KESUCIAN JIWA
Di antara doa yang sangat indah untuk memohon kesucian jiwa adalah doa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW:
“Allahumma aati nafsi taqwaha, wa zakkiha anta khairu man zakkaha, anta waliyyuha wa maulaha.”
Artinya: “Ya Allah, karuniakanlah ketakwaan kepada jiwaku dan sucikanlah ia. Engkaulah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkaulah pelindung dan pemeliharanya.”
Perhatikan doa ini. Kita tidak mengatakan, “Ya Allah, saya sudah bersih.”
Justru kita mengakui bahwa yang mampu membersihkan hati kita adalah Allah SWT. Karena itu, jangan pernah merasa sudah baik.
Jangan pernah merasa sudah lebih suci daripada orang lain. Jangan pernah memandang rendah seseorang hanya karena kita melihat kekurangannya.
Boleh jadi seseorang yang kita anggap banyak dosa justru sedang menangis dalam kesendirian memohon ampun kepada Allah.
Dan boleh jadi kita yang merasa baik justru sedang diuji dengan penyakit hati yang tidak kita sadari.
MEMBERSIHKAN HATI DENGAN ISTIGHFAR
Saudaraku,
Salah satu jalan membersihkan hati adalah memperbanyak istighfar. Ucapkan: Astaghfirullah wa atubu ilaih.
Bukan sekadar dengan lisan, tetapi dengan hati yang benar-benar ingin kembali kepada Allah.
Ada dosa yang kita ingat. Ada dosa yang kita lupa. Ada kesalahan yang kita sadari. Ada kesalahan yang bahkan tidak kita sadari.
Maka jangan pernah bosan meminta ampun.Jangan menunggu menjadi orang baik baru beristighfar.
Beristighfarlah agar Allah membimbing kita menjadi lebih baik. Ketika hati mulai keras, istighfar. Ketika hidup terasa sempit, istighfar. Ketika hati dipenuhi kegelisahan, istighfar. Ketika kita terjatuh dalam kesalahan, jangan menjauh dari Allah. Justru kembalilah kepada Allah.
AL-QUR’AN ADALAH OBAT BAGI HATI
Allah SWT menyebut Al-Qur’an sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang beriman.
Maka jangan jadikan Al-Qur’an hanya sebagai bacaan ketika Ramadan. Jangan hanya dibaca ketika ada orang meninggal.
Jangan hanya dibaca ketika hati sedang sedih. Jadikan Al-Qur’an sebagai sahabat kehidupan.
Baca meskipun sedikit. Renungkan meskipun satu ayat. Amalkan meskipun satu pesan.
Karena terkadang kita tidak membutuhkan jawaban yang panjang. Kita hanya membutuhkan satu ayat Allah yang menyentuh hati dan membuat kita berkata:
“Ya Allah, ternyata selama ini Engkau sedang mengingatkanku.”
TAHajUD: SAAT PALING JUJUR ANTARA HAMBA DAN ALLAH
Ada satu ibadah yang sangat indah untuk membersihkan jiwa: shalat Tahajud. Ketika malam semakin sunyi, manusia terlelap dalam tidurnya.
Telepon tidak lagi berbunyi. Media sosial mulai sepi. Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada kamera. Tidak ada pujian manusia. Pada saat itulah seorang hamba bangun dan berdiri di hadapan Allah.
Inilah salah satu momen paling jujur dalam kehidupan seorang mukmin. Kita bangun bukan karena ingin dilihat manusia.
Kita bangun karena ingin bertemu dengan Allah. Kita mengambil wudu. Kita menghadap kiblat. Kita mengangkat tangan.
Lalu kita membaca takbir: Allahu Akbar.
Pada saat itu, dunia seakan kita tinggalkan sejenak. Jabatan kita tinggalkan. Masalah pekerjaan kita tinggalkan. Perselisihan kita tinggalkan. Kekhawatiran kita tinggalkan.
Kita datang kepada Allah sebagai seorang hamba yang lemah.
TAHAJUD BUKAN HANYA TENTANG BERAPA RAKAAT
Jangan berpikir bahwa Tahajud hanya tentang banyaknya rakaat. Yang lebih penting adalah kehadiran hati.
Dua rakaat yang dilakukan dengan hati yang penuh ketundukan bisa menjadi sangat berarti.
Di dalam sujud, ceritakan kepada Allah apa yang tidak sanggup kita ceritakan kepada manusia.
Jika sedang kecewa, sampaikan kepada Allah. Jika sedang takut, sampaikan kepada Allah. Jika sedang bingung menentukan jalan hidup, mintalah petunjuk kepada Allah. Jika sedang memiliki masalah keluarga, mintalah pertolongan Allah. Jika sedang mengejar cita-cita, mintalah keberkahan Allah.
Dan jika kita telah mendapatkan banyak nikmat, jangan lupa mengucapkan syukur kepada Allah. Karena sujud adalah tempat seorang hamba meletakkan kesombongannya.
Semakin sering kita bersujud dengan benar, semoga semakin hilang kesombongan dari hati kita.
PUASA SUNNAH DAN PENGENDALIAN DIRI
Selain Tahajud, puasa sunnah juga menjadi latihan untuk mengendalikan hawa nafsu.
Ketika berpuasa, kita belajar menahan lapar. Kita belajar menahan haus. Kita belajar menahan amarah. Kita belajar menjaga lisan. Kita belajar mengendalikan keinginan.
Dan sesungguhnya kehidupan juga membutuhkan latihan seperti itu. Tidak semua yang kita inginkan harus kita miliki.
Tidak semua perkataan harus kita jawab. Tidak semua provokasi harus kita layani. Tidak semua orang yang menyakiti kita harus kita balas.
Terkadang diam adalah kekuatan. Terkadang memaafkan adalah kemenangan. Dan terkadang meninggalkan pertengkaran adalah bentuk kemuliaan.
JANGAN BIARKAN DENDAM MENJADI BEBAN HATI
Ada orang yang hidup bertahun-tahun tetapi hatinya masih terikat oleh masa lalu. Ia membawa luka ke mana-mana.
Mengingat perkataan orang. Mengingat perlakuan orang. Mengingat pengkhianatan orang. Padahal orang yang menyakiti kita mungkin sudah melupakannya.
Sementara kita masih membawa rasa sakit itu setiap hari. Maka belajarlah melepaskan. Bukan berarti kita membenarkan kesalahan orang lain.
Tetapi kita memilih untuk tidak membiarkan kebencian menguasai hati.
Berdoalah:”Rabbana-ghfir lana wa li ikhwaninalladzina sabaquna bil iman…”
Ya Allah, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman.
Doa ini mengajarkan kita untuk membersihkan hati dari kebencian kepada sesama mukmin.
JANGAN IRI TERHADAP REZEKI ORANG LAIN
Salah satu penyakit hati yang paling berbahaya adalah iri. Melihat orang lain sukses, hati kita gelisah. Melihat orang lain mendapatkan jabatan, kita kecewa.
Melihat orang lain kaya, kita merasa kurang. Melihat orang lain dipuji, kita ingin menjatuhkannya.
Padahal rezeki Allah tidak pernah tertukar. Allah memberikan setiap manusia jalan yang berbeda. Kalau orang lain mendapatkan nikmat, doakan:
“Ya Allah, berkahilah dia dan berikan pula kepadaku rezeki yang terbaik menurut-Mu.”
Belajarlah mengubah iri menjadi doa. Mengubah dengki menjadi motivasi. Mengubah persaingan menjadi perbaikan diri. Dan mengubah keberhasilan orang lain menjadi inspirasi.
PENUTUP: KEMBALI KEPADA ALLAH
Kita tidak tahu berapa lama lagi kita hidup. Karena itu, jangan menunda untuk memperbaiki hati. Kalau hari ini masih ada iri, lepaskan. Kalau masih ada dendam, maafkan.
Kalau masih ada kesombongan, rendahkan hati. Kalau masih banyak dosa, bertaubatlah. Kalau sudah lama meninggalkan Tahajud, malam ini cobalah bangun.
Tidak perlu menunggu menjadi sempurna. Datanglah kepada Allah dalam keadaan kita sekarang.
Allah tidak meminta kita menjadi manusia tanpa dosa. Tetapi Allah memerintahkan kita untuk selalu kembali ketika kita jatuh.
Malam ini, ketika semua orang tertidur, cobalah bangun. Ambil wudu.
Laksanakan shalat Tahajud meskipun hanya dua rakaat. Kemudian duduklah sejenak.
Angkat tangan. Dan katakan dengan hati yang paling jujur:
“Ya Allah, bersihkan hatiku. Ampuni dosa-dosaku. Hilangkan iri dan dengki dari diriku. Jauhkan aku dari kesombongan. Lembutkan hatiku. Kuatkan imanku. Bimbing langkahku. Jadikan hidupku bermanfaat bagi orang lain dan jadikan akhir hidupku dalam keadaan Engkau ridha kepadaku.”
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang hatinya bersih, lisannya baik, amalnya ikhlas, hidupnya bermanfaat, dan istiqamah dalam ketaatan.
Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk mencintai kebaikan, memaafkan kesalahan, menjauhi kesombongan, serta senantiasa memperbaiki diri.
Dan semoga setiap tahajud yang kita lakukan menjadi jalan turunnya ketenangan, ampunan, keberkahan, serta pertolongan Allah SWT.
اللهم آت نفوسنا تقواها، وزكها أنت خير من زكاها، أنت وليها ومولاها.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Barakallahu fiikum.





