BEKASI | MEDIA BELA RAKYAT — Desa Tridaya Sakti, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, memasuki babak baru. Kepala Desa terpilih periode 2026–2034, Sopian, S.E., mulai merajut komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat sebagai fondasi pemerintahan desa yang inklusif, modern, sekaligus berakar pada identitas lokal. Langkah itu terlihat saat Sopian melakukan lawatan ke kediaman Tokoh Pemuda Rizal di wilayah RT 007/RW 006, Minggu (4/10/2026) malam, didampingi Ketua RW 006 Saudih, Tokoh Pemuda Deni, Ustadz Saiful selaku Tokoh Masyarakat, serta Bang Ijong. Bagi Sopian, pembangunan desa bukan sekadar membangun jalan dan gedung, tetapi menyatukan kembali seluruh denyut kehidupan masyarakat dalam satu rumah besar bernama Tridaya Sakti.
Sopian menegaskan, “Pemerintahan yang akan dipimpinnya harus tumbuh dari ruang dialog dan keterlibatan seluruh unsur masyarakat. Ia ingin menghapus sekat psikologis maupun sosial antara kawasan perumahan dan perkampungan agar keduanya tidak berjalan dalam dua dunia yang berbeda,” ujarnya.
“Saya ingin Desa Tridaya Sakti maju bersama. Semua unsur dan elemen masyarakat harus bersatu dalam membangun desa. Tidak boleh lagi ada dikotomi antara perumahan dengan perkampungan. Kita ini satu desa, satu rumah besar, sehingga pembangunan dan pelayanan harus dirasakan bersama,” tegas Sopian dalam selayang pandangnya, Minggu (4/10/2026).

Gagasan tersebut sejalan dengan semangat penyelenggaraan pemerintahan desa sebagaimana kerangka UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa yang telah beberapa kali diubah, terakhir melalui UU Nomor 3 Tahun 2024, yang antara lain mengatur masa jabatan kepala desa selama delapan tahun sejak pelantikan.
Tak berhenti pada pembangunan fisik, Sopian membawa agenda yang lebih luas yakni menjadikan pemuda sebagai energi utama pembangunan. Olahraga, seni, budaya hingga ketahanan pangan akan didorong agar menjadi ruang produktif bagi generasi muda.
“Bidang olahraga, seni dan budaya harus kita optimalkan. Pemuda Tridaya Sakti jangan hanya menjadi penonton, tetapi harus menjadi pelaku pembangunan. Begitu juga ketahanan pangan, mulai dari ternak bebek, budidaya lele dan berbagai potensi lainnya, akan kita dorong agar dikelola pemuda melalui Karang Taruna Desa dan Bumdes. Kita ingin pemuda memiliki ruang berkarya sekaligus ruang ekonomi,” ungkapnya. Gagasan penguatan seni dan budaya tersebut memiliki pijakan sejalan dengan UU Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang menempatkan pemajuan kebudayaan sebagai bagian penting pembangunan kehidupan kebangsaan.
Salah satu gagasan yang dinilai strategis adalah rencana penyusunan Buku Desa Tridaya Sakti, yang tidak sekadar menjadi arsip administratif, melainkan dokumentasi sejarah dan identitas desa. Sopian menjelaskan buku tersebut nantinya akan mengupas sejarah berdirinya Desa Tridaya Sakti, perkembangan wilayah, asal-usul dan perubahan kehidupan masyarakat, profil para kepala desa dari masa ke masa, perjalanan pembangunan, tokoh-tokoh masyarakat, potensi ekonomi, seni-budaya, tradisi, prestasi, hingga berbagai catatan penting yang membentuk wajah Tridaya Sakti hari ini.
“Saya ingin Desa Tridaya Sakti mempunyai catatan sejarahnya sendiri. Kita akan membuat Buku Desa yang menggambarkan sejarah desa, biografi kepala desa dari masa ke masa, tokoh masyarakat, perkembangan pembangunan, seni budaya, potensi ekonomi dan berbagai perjalanan penting desa. Jangan sampai anak cucu kita nanti mengenal desanya sendiri hanya dari cerita yang tercecer,” tutur Sopian.
Visi tersebut kemudian dipertajam dengan konsep Smart Village, yakni mendorong Tridaya Sakti bergerak menuju tata kelola desa yang semakin adaptif terhadap teknologi dan kebutuhan zaman.
“Kita akan menuju Smart Village, desa digital dalam segala hal yang memungkinkan. Pelayanan masyarakat harus semakin mudah, cepat dan transparan. Infrastruktur juga menjadi prioritas. Perbaikan jalan mulai dari Simpang Lima hingga Masjid At-Taqwa dengan panjang sekitar 420 meter akan segera kita dorong, termasuk Jalan Kali Baru. Drainase dan saluran air juga harus diperbaiki. Penataan desa akan kita lakukan agar Tridaya Sakti menjadi lebih indah, aman dan nyaman. Saya ingin desa ini benar-benar terang-benderang,” papar Sopian.
Langkah tersebut mendapat respons positif dari kalangan pelaku seni. Dahlianto alias Lian, pemilik Sanggar Tari Nirwasita, menilai perhatian kepala desa terpilih terhadap seni dan budaya merupakan sinyal penting bagi masa depan kebudayaan di tingkat desa. Menurutnya, desa tidak cukup hanya dibangun dengan beton dan aspal, tetapi juga membutuhkan pembangunan karakter melalui seni, tradisi dan kreativitas.
“Kami menyambut baik langkah Pak Sopian. Ketika kepala desa memiliki perhatian terhadap seni dan budaya, itu berarti beliau memahami bahwa pembangunan manusia tidak hanya berbicara tentang ekonomi dan infrastruktur. Seni adalah identitas, ruang pendidikan karakter sekaligus jembatan yang menyatukan masyarakat. Sanggar-sanggar seni dan para pelaku budaya di Tridaya Sakti siap bersinergi, memberikan gagasan dan karya terbaik untuk desa,” ujar Lian.
Apresiasi pun datang dari Sekjen Rumah Hebat Nusantara yang juga berprofesi sebagai jurnalis sekaligus sastrawan, Moh Cahyadi atau yang akrab disapa Den Cupank, gagasan Buku Desa Tridaya Sakti memiliki makna jauh lebih dalam daripada sekadar dokumentasi. Ia menyebutnya sebagai “biografi sebuah desa”, sebuah ikhtiar untuk menyelamatkan ingatan kolektif masyarakat agar sejarah tidak kalah oleh pergantian zaman.
“Saya sangat mengapresiasi gagasan Pak Sopian mengenai pembuatan Buku Desa Tridaya Sakti. Bagi saya, buku itu nantinya bukan sekadar kumpulan data, melainkan biografi desa yang merupakan sebuah cermin yang merekam dari mana Tridaya Sakti berasal, siapa saja yang pernah mengabdikan dirinya, bagaimana masyarakat tumbuh, bagaimana pembangunan berjalan, serta bagaimana seni, budaya dan tradisi menjadi napas kehidupan masyarakat. Saya siap membantu merumuskan konsep dan kerangka penulisannya, bersama para tokoh, seniman, budayawan dan masyarakat yang memiliki pengetahuan tentang sejarah desa,” tutur Den Cupank.
“Dan ketika kepala desa baru nanti resmi dilantik, kami ingin menyambutnya bukan hanya dengan seremoni, tetapi dengan karya. Saya bersama para seniman dan budayawan Desa Tridaya Sakti akan berupaya mempersembahkan sebuah pertunjukan seni yang spektakuler, elegan dan sarat pesan kebudayaan sebagai penghormatan sekaligus penanda dimulainya babak baru desa ini. Karena bagi kami, desa bukan hanya tempat manusia tinggal; desa adalah ruang tempat sejarah ditulis, kebudayaan diwariskan dan masa depan dipahat bersama. Semoga Tridaya Sakti benar-benar menjadi desa yang bukan hanya terang oleh lampu jalan, tetapi juga terang oleh gagasan, terang oleh kebudayaan, terang oleh persatuan dan terang oleh masa depan.” Pungkas Den Cupank.
(CP/red)






