Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI, PKS, Kalimantan Selatan I
Dengan lisan, kita dapat membaca Al-Qur’an, berdzikir, bershalawat, mengucapkan kalimat tauhid, menasihati sesama, menyampaikan ilmu, membahagiakan orang lain, dan mengucapkan kata-kata yang dapat menjadi jalan datangnya pahala.
Namun dengan lisan yang sama, seseorang juga dapat menyakiti hati, memfitnah, mencela, menghina, membuka aib, mengadu domba, dan melakukan ghibah.
Karena itu, salah satu bentuk ketakwaan yang sangat penting adalah kemampuan untuk menjaga lisan.
Allah SWT mengingatkan kita dalam Al-Qur’an tentang bahaya ghibah melalui Surah Al-Hujurat ayat 12. Allah menggambarkan ghibah dengan sebuah perumpamaan yang sangat keras: memakan daging saudara sendiri yang telah mati.
Mengapa perumpamaannya begitu mengerikan?
Karena ghibah bukan sekadar persoalan kata-kata. Di balik sebuah ucapan tentang keburukan seseorang, ada kehormatan manusia yang sedang kita lukai.
Ghibah adalah ketika kita membicarakan saudara kita dengan sesuatu yang apabila ia mendengarnya, ia tidak menyukainya. Bahkan apabila yang kita bicarakan itu benar sekalipun, tetap dapat menjadi ghibah.
Rasulullah SAW pernah menjelaskan makna ghibah kepada para sahabat. Ketika ditanya tentang ghibah, beliau menjelaskan bahwa ghibah adalah engkau menyebut tentang saudaramu sesuatu yang ia benci.
Kemudian para sahabat bertanya, bagaimana jika apa yang dikatakan itu memang benar?
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa apabila apa yang kita katakan itu benar, maka itulah ghibah. Tetapi apabila yang kita katakan ternyata tidak benar, maka kita telah melakukan fitnah atau buhtan.
Artinya, jangan sampai kita merasa aman hanya karena berkata, “Kan memang benar.”
Justru di situlah kita perlu berhati-hati. Sebab tidak semua kebenaran harus kita bicarakan kepada orang lain.
Ada kebenaran yang menjadi nasihat apabila disampaikan kepada orang yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan niat yang tepat.
Tetapi kebenaran yang disampaikan untuk mempermalukan, menjatuhkan, menertawakan, atau merusak nama baik seseorang dapat berubah menjadi dosa.
Ghibah hari ini tidak hanya terjadi ketika orang duduk berkumpul di warung kopi dan membicarakan seseorang.
Ghibah bisa terjadi di kantor. Ghibah bisa terjadi di rumah. Ghibah bisa terjadi dalam majelis. Ghibah bisa terjadi melalui telepon. Ghibah bisa terjadi dalam grup WhatsApp. Bahkan ghibah bisa terjadi melalui media sosial.
Satu komentar pendek, satu unggahan, satu potongan video, satu pesan berantai, atau satu kalimat yang kita sebarkan tanpa berpikir panjang, bisa menjadi sebab kita ikut menyebarkan keburukan seseorang.
Yang lebih berbahaya adalah ketika kita menikmati ghibah. Kita tertawa ketika mendengar aib orang lain. Kita merasa senang ketika melihat orang yang tidak kita sukai sedang jatuh. Kita ikut menyebarkan cerita karena merasa cerita tersebut menarik. Kita membuka aib seseorang karena ingin mendapatkan dukungan.
Padahal kita tidak pernah tahu, mungkin orang yang sedang kita bicarakan di belakangnya itu sedang berjuang memperbaiki dirinya.
Mungkin ia telah menangis di hadapan Allah. Mungkin ia telah bertaubat. Mungkin Allah telah menutup aibnya, tetapi kita justru berusaha membukanya.
Di sinilah kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Kalau Allah selama ini menutup begitu banyak aib kita, mengapa kita begitu mudah membuka aib orang lain?
Kalau Allah tidak memperlihatkan seluruh keburukan kita kepada manusia, mengapa kita begitu bersemangat menceritakan keburukan saudara kita?
Kalau kita berharap Allah mengampuni dosa-dosa kita, mengapa kita sulit memaafkan kesalahan orang lain?
Inilah waktunya kita melakukan muhasabah. Bukan sibuk menghitung kesalahan orang lain, tetapi mulai menghitung kesalahan diri sendiri.
Bukan sibuk mencari kelemahan orang lain, tetapi mulai melihat kelemahan hati kita sendiri. Bukan sibuk membicarakan perjalanan hidup orang lain, tetapi bertanya:
Sudah sejauh mana perjalanan kita menuju Allah?
Salah satu bahaya ghibah adalah ia sering dilakukan tanpa terasa. Kita mungkin awalnya hanya ingin bercerita.
Kemudian cerita berkembang menjadi komentar. Komentar berubah menjadi penilaian. Penilaian berubah menjadi penghinaan. Kemudian orang lain ikut tertawa.
Akhirnya satu dosa dilakukan bersama-sama. Yang lebih menyedihkan, terkadang setelah selesai ghibah, kita masih melanjutkan ibadah seolah tidak terjadi apa-apa.
Kita shalat. Kita membaca Al-Qur’an. Kita bersedekah. Kita berdzikir. Tetapi lisan kita masih digunakan untuk melukai kehormatan manusia.
Padahal menjaga hubungan dengan Allah tidak boleh membuat kita meremehkan hak manusia. Ada dosa yang berkaitan dengan hak Allah dan ada dosa yang berkaitan dengan hak sesama manusia.
Ghibah menyangkut kehormatan manusia. Karena itu, jangan pernah menganggap remeh dosa lisan.
Sebab luka karena kata-kata terkadang tidak terlihat oleh mata, tetapi bisa bertahun-tahun tinggal di hati seseorang.
Saudaraku yang dirahmati Allah. Ada sebuah renungan penting. Kita sering takut kehilangan uang. Kita takut kehilangan pekerjaan. Kita takut kehilangan jabatan. Kita takut kehilangan rumah. Kita takut kehilangan kendaraan.
Tetapi apakah kita pernah takut kehilangan pahala?
Padahal Rasulullah SAW mengingatkan tentang orang yang datang pada hari kiamat membawa amal ibadah, tetapi karena ia pernah menzalimi orang lain, pahala amalnya dapat diberikan kepada orang yang dizaliminya.
Dalam hadis tentang orang yang bangkrut atau muflis, Rasulullah SAW menggambarkan seseorang yang datang dengan membawa shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia juga datang dengan dosa karena mencela, menuduh, menyakiti, dan menzalimi orang lain.
Akhirnya pahala-pahalanya diberikan kepada orang-orang yang pernah ia zalimi.
Betapa mengerikannya. Kita bersusah payah mengumpulkan pahala, tetapi kemudian pahala itu berpindah karena lisan kita sendiri.
Kita membaca Al-Qur’an, tetapi lisan juga digunakan untuk ghibah. Kita bersedekah, tetapi lisan digunakan untuk merendahkan orang lain. Kita bangun malam untuk tahajud, tetapi siang harinya kita membuka aib saudara sendiri.
Maka jangan hanya bertanya: “Berapa banyak pahala yang sudah saya kumpulkan?”
Tetapi tanyakan pula: “Berapa banyak pahala yang mungkin telah saya berikan kepada orang lain karena kesalahan lisan saya?”
Ini adalah pertanyaan yang sangat berat untuk direnungkan. Allah sebenarnya mengajarkan kepada kita sebuah prinsip sederhana:
Kalau tidak mampu berkata baik, maka diam. Diam bukan berarti lemah. Diam bukan berarti kalah. Diam bukan berarti tidak punya pendapat.
Terkadang diam justru merupakan bentuk kemenangan seseorang atas hawa nafsunya. Kita mampu membalas, tetapi memilih diam.
Kita mampu membuka aib, tetapi memilih menutupinya. Kita mampu menghina, tetapi memilih mendoakan.
Kita mampu membalas keburukan, tetapi memilih menyerahkan urusan kepada Allah. Itulah akhlak yang jauh lebih mulia.
Karena orang kuat bukan hanya orang yang mampu memenangkan perdebatan. Orang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.
Dan orang yang mulia bukan hanya orang yang pandai berbicara. Orang yang mulia adalah orang yang tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam.
Lalu bagaimana jika kita sudah terlanjur melakukan ghibah? Jangan berputus asa dari rahmat Allah.
Pintu taubat selalu terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan matahari belum terbit dari arah barat.
Segeralah berhenti. Akui kesalahan di hadapan Allah. Perbanyak istighfar. Tinggalkan kebiasaan tersebut. Berusahalah tidak mengulangi.
Dan jika ghibah tersebut berkaitan dengan hak orang lain, jangan sembarangan meminta maaf dengan cara yang justru memperbesar masalah. Para ulama memberikan rincian dalam persoalan ini. Intinya, kita harus benar-benar bertaubat dan berusaha memperbaiki kerusakan yang telah kita sebabkan.
Jika dahulu kita membicarakan keburukan seseorang di sebuah kelompok, maka jangan menjadikan kelompok itu tempat untuk terus membicarakannya.
Sebaliknya, mulai hentikan pembicaraan tersebut. Jika kita pernah menjatuhkan seseorang, mulai bangun kembali kehormatannya sebisa mungkin.
Jika pernah menyebarkan kabar yang merugikan, maka berusahalah meluruskan informasi tersebut. Taubat bukan hanya mengatakan “Astaghfirullah.”
Taubat adalah perubahan. Taubat adalah keberanian untuk meninggalkan kebiasaan buruk. Taubat adalah kesediaan untuk memperbaiki kesalahan.
Taubat adalah perjalanan kembali kepada Allah. Dan salah satu waktu terbaik untuk melakukan muhasabah adalah sepertiga malam terakhir.
Ketika dunia mulai sunyi. Ketika banyak manusia tertidur. Ketika telepon tidak lagi ramai. Ketika media sosial tidak lagi menjadi perhatian.
Saat itulah seorang hamba berdiri di hadapan Allah. Melaksanakan shalat tahajud. Menundukkan kepala. Mengangkat tangan. Kemudian berkata: “Ya Allah, ampuni aku.”
Bukan hanya dosa besar yang kita mohonkan ampun. Tetapi juga dosa-dosa kecil yang mungkin kita anggap biasa.
Dosa mata. Dosa telinga. Dosa tangan. Dosa hati. Dan terutama dosa lisan.
Ya Allah, ampuni kami karena pernah membicarakan orang lain.
Ya Allah, ampuni kami karena pernah membuka aib saudara kami.
Ya Allah, ampuni kami karena pernah menyakiti hati orang lain dengan ucapan kami.
Ya Allah, bersihkan hati kami dari iri, dengki, sombong, dan kebencian.
Ya Allah, jadikan lisan kami sebagai lisan yang senantiasa berdzikir, berkata baik, memberikan nasihat, dan membawa kedamaian.
Jangan menunggu tua untuk berubah. Jangan menunggu sakit untuk bertaubat. Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai orang lain.
Dan jangan menunggu kematian datang untuk menyadari bahwa waktu kita ternyata terlalu banyak digunakan untuk membicarakan kehidupan orang lain.
Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan ghibah. Kita tidak tahu kapan Allah memanggil kita.
Kita tidak tahu apakah setelah hari ini kita masih mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri. Karena itu, mulai hari ini mari kita buat satu komitmen:
Kurangi membicarakan orang lain. Perbanyak membicarakan kebaikan. Kurangi menghakimi. Perbanyak mendoakan. Kurangi membuka aib. Perbanyak menutup aib. Kurangi membalas keburukan. Perbanyak memaafkan.
Dan yang paling penting: Kurangi sibuk melihat kesalahan manusia, perbanyak sibuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah SWT.
Sebab pada akhirnya, yang akan kita bawa bukan jabatan. Bukan kekayaan. Bukan popularitas. Bukan jumlah pengikut. Bukan banyaknya orang yang mengenal nama kita.
Yang akan kita bawa adalah amal dan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Maka sebelum tidur malam ini, mari kita bertanya kepada diri sendiri:
Siapa yang telah saya sakiti hari ini? Siapa yang telah saya bicarakan? Siapa yang telah saya rendahkan? Siapa yang seharusnya saya maafkan?
Dan yang paling penting: Apakah Allah ridha dengan ucapan saya hari ini? Jika jawabannya belum, maka jangan tunggu esok.
Ambillah wudhu. Bangunlah di sepertiga malam. Laksanakan tahajud. Perbanyak istighfar. Mohonlah ampun kepada Allah.
Dan bertekadlah bahwa setelah malam itu, lisan kita akan menjadi lebih baik.
Semoga Allah SWT menjaga lisan kita dari ghibah, fitnah, adu domba, dusta, penghinaan, dan seluruh perkataan yang mendatangkan murka-Nya.
Semoga Allah membersihkan hati kita dari iri dan dengki.
Semoga Allah menutup aib kita sebagaimana selama ini Dia telah menutup begitu banyak aib kita.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita.
Semoga Allah menerima tahajud kita, menerima istighfar kita, menerima amal kita, dan memberikan kita akhir kehidupan yang husnul khatimah.




