Rahasia Bilal & Asiyah: Resep Mengubah Siksaan Menjadi Surga

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS / Kalimantan Selatan I 

Iman itu bukan sekadar ucapan di lisan. Iman adalah rasa. Dan jika rasa itu sudah masuk ke dalam hati, maka sekeras apapun dunia menghantam, ia tidak akan pecah.

Rasulullah SAW bersabda tentang manisnya iman ini:

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ

“Ada tiga perkara, barangsiapa ada pada dirinya tiga perkara itu, maka ia akan merasakan manisnya iman.”
(HR. Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43)

Di antaranya adalah mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari selain keduanya. Dari hadits inilah para ulama menjelaskan bahwa iman itu memiliki rasa manis, halaawatul iman, yang jika sudah dirasakan, maka penderitaan fisik menjadi kecil.

Inilah yang terjadi pada dua manusia agung dalam sejarah: Bilal bin Rabah dan Sayyidah Asiyah binti Muzahim.

1. Bilal bin Rabah: Budak Hitam yang Mengalahkan Gurun

Bilal adalah budak dari Bani Jumah. Tuannya, Umayyah bin Khalaf, adalah salah satu pembesar Quraisy yang paling keras memusuhi Islam.

Ketika Islam datang, Bilal adalah salah satu dari tujuh orang pertama yang menampakkan keislamannya. Maka mulailah siksaan itu.

Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyah meriwayatkan: Jika tengah hari yang terik, saat batu-batu di Mekkah membara seperti bara api, Umayyah membawa Bilal ke tanah lapang. Punggung Bilal yang hitam legam direbahkan di atas pasir yang mendidih. Sebuah batu besar yang beratnya tidak sanggup dipikul satu orang, diletakkan di atas dadanya.

Umayyah berteriak: “Demi Allah, kau akan tetap seperti ini sampai kau mati, atau kau ingkari Muhammad dan sembah Lata dan Uzza!”

Namun dari bibir Bilal yang kering dan pecah, hanya keluar satu kata yang menggetarkan Arsy:

“Ahad… Ahad…”

Satu hari, Abu Bakar Ash-Shiddiq lewat dan melihat pemandangan itu. Ia pun membeli Bilal dengan harga yang sangat mahal dan memerdekakannya karena Allah.

Ketika ditanya setelah merdeka, “Wahai Bilal, bagaimana kau sanggup menahan kekejaman itu?”

Bilal menjawab dengan kalimat yang engkau tulis itu, kalimat yang menjadi mutiara hikmah:

“Aku lebur manisnya iman dengan pahitnya siksaan, hingga rasa sakit itu larut dalam manisnya iman.”

Inilah rahasia. Bilal tidak melawan sakit dengan otot. Ia melawan sakit dengan rasa. Manisnya mengenal Allah, mengalahkan pahitnya batu di atas dada.

Allah abadikan kedudukan orang-orang seperti Bilal dalam firman-Nya:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah.”
(QS. Al-Baqarah: 207)

2. Keajaiban yang Lebih Menggetarkan: Sayyidah Asiyah, Ratu di Istana, Ratu di Surga

Bilal berkata dengan tawadhu’, “Jika seorang Bilal yang lelaki dan terbiasa hidup keras mampu bersabar, itu wajar. Namun keajaiban yang sesungguhnya adalah seorang perempuan bangsawan…”

Perempuan itu adalah Asiyah binti Muzahim, istri Fir’aun. Wanita paling mulia di istana paling megah di dunia saat itu.

Sejarahnya bermula dari seorang wanita tukang sisir, Masyithah, putri Fir’aun. Dalam riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Majah, ketika Masyithah sedang menyisir rambut putri Fir’aun, sisirnya jatuh. Ia spontan berkata, “Bismillah.”

Putri Fir’aun bertanya, “Apakah kamu punya Tuhan selain ayahku?”

Masyithah menjawab dengan iman yang teguh: “Ya, Tuhanku dan Tuhan ayahmu adalah Allah.”

Berita itu sampai ke Fir’aun. Masyithah dan anak-anaknya dibunuh dengan cara direbus dalam kuali besar. Namun sebelum itu, ia sempat bersaksi di hadapan Asiyah.

Asiyah yang selama ini menyembunyikan imannya kepada Allah dan kepada Musa ‘alaihissalam, tidak bisa lagi diam.

Fir’aun murka bukan kepalang. Bagaimana mungkin istrinya sendiri, ratu yang tidur di atas sutra, yang memakai perhiasan emas seberat-beratnya, mengkhianatinya?

Maka Fir’aun memerintahkan hukuman yang tidak pernah ia berikan kepada siapapun. Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan:

Tubuh Asiyah dibentangkan di atas papan kayu di bawah terik matahari Mesir. Kedua tangan dan kakinya dipasak dengan pasak-pasak besi hingga tembus. Wajahnya menghadap langit. Fir’aun dan para pembesarnya menertawakannya.

Allah SWT berfirman mengabadikan kisahnya sebagai teladan abadi bagi seluruh orang beriman, laki-laki dan perempuan hingga hari kiamat:

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir’aun, ketika dia berkata: ‘Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.'”
(QS. At-Tahrim: 11)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan detik-detik terakhir Asiyah. Saat pasak-pasak besi itu menancap, para malaikat menaunginya. Allah singkapkan hijab gaib. Di depan matanya, diperlihatkan istana-istana megah di surga yang terbuat dari permata yang akan menjadi miliknya.

Apa yang terjadi? Di tengah siksaan yang paling keji, Asiyah tersenyum.

Fir’aun berteriak gila, “Lihat! Ia gila! Ia disiksa malah tersenyum!”

Fir’aun tidak tahu, bahwa senyuman itu adalah senyuman seorang kekasih yang melihat rumah kekasihnya. Jasadnya di bumi Mesir, namun jiwanya sudah berada di surga.

Rasulullah SAW bersabda tentang kedudukannya:

كَمَلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا آسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ وَمَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ

“Telah sempurna banyak dari kalangan laki-laki, dan tidak sempurna dari kalangan perempuan kecuali Asiyah istri Fir’aun dan Maryam binti Imran.” (HR. Bukhari no. 3411 dan Muslim no. 2431)

3. Kisah Sekarang: Kita di Antara Batu dan Pasak Dunia Modern

Saudaraku, kisah Bilal dan Asiyah bukan dongeng sejarah. Ia adalah cermin untuk kita hari ini.

Hari ini kita tidak disiksa dengan batu besar di padang pasir Mekkah, atau dipasak besi di istana Mesir. Tapi siksaan kita bentuknya lain:

Batu besar kita adalah tekanan hidup: cicilan yang menumpuk, pekerjaan yang tidak dihargai, bisnis yang sepi, fitnah manusia, pasangan yang tidak memahami, anak yang sulit diatur.

Pasak besi kita adalah kemewahan itu sendiri. Seperti Asiyah yang diuji dengan kemewahan istana, kita hari ini diuji dengan kenyamanan. Betapa banyak orang yang imannya luntur bukan karena miskin, tapi karena terlalu nyaman.

Malas shalat karena kasur terlalu empuk. Enggan sedekah karena takut harta berkurang. Tidak mau hijrah karena takut kehilangan jabatan dan popularitas.

Jika Bilal mampu mengubah penderitaan menjadi kesaksian “Ahad”, dan Asiyah mampu mengubah istana Fir’aun menjadi jalan menuju istana di surga, maka apa alasan kita?

Resepnya sama, yang disampaikan Bilal: Leburkan pahitnya hidup dengan manisnya iman.

Bagaimana caranya?

Pertama, Kenali siapa yang menyiksamu dan siapa yang menjagamu. Fir’aun itu kecil. Umayyah itu kecil. Masalahmu hari ini kecil. Allah yang menjagamu itu Maha Besar. Ketika hati yakin Allah bersamanya, maka masalah sebesar apapun akan terlihat kecil.

Kedua, Miliki doa seperti doa Asiyah. Jangan hanya minta dunia. Mintalah “Rumah di sisi-Mu”. Dalam setiap sujud, katakan: “Ya Rabb, bangunkan untukku rumah di sisi-Mu di surga.” Orang yang matanya tertuju ke surga, tidak akan mudah menangis karena dunia.

Ketiga, Tersenyumlah. Senyuman Asiyah adalah kemenangan. Hari ini, ketika engkau difitnah, direndahkan, diuji, tersenyumlah. Bukan karena engkau tidak sakit, tapi karena engkau tahu Allah sedang memperlihatkan istana untukmu di ujung sabar itu.

Saudaraku, semoga Allah melembutkan hati kita untuk merasakan manisnya iman, sebagaimana Bilal dan Asiyah merasakannya. Sehingga ketika dunia menghantam dengan pahitnya, kita tetap bisa berkata dengan hati yang tenang: Hasbunallah wa ni’mal wakiil.

Wallahu a’lam bishawab.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *