JAKARTA – BELA RAKYAT – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji menegaskan pentingnya sinergi antara keluarga dan sekolah dalam membentuk generasi Indonesia yang berkualitas. Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia unggul tidak dapat dilakukan hanya melalui pendidikan formal, tetapi harus dimulai dari lingkungan keluarga sebagai fondasi utama.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman antara Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengenai sinergi tugas dan fungsi di bidang kependudukan, pembangunan keluarga, serta pendidikan dasar dan menengah.
Wihaji mengatakan, kolaborasi ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat koordinasi lintas sektor dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa yang sehat, cerdas, berkarakter, dan berdaya saing.
“Program-program kedua kementerian memiliki banyak irisan yang bisa disinergikan. Keluarga merupakan benteng pertama dalam membentuk karakter anak, sementara sekolah memperkuat proses pembelajaran dan pengembangan kompetensinya,” ujar Wihaji kepada wartawan, Jakarta, Jumat (31/7/2026).
Ia menambahkan, pencapaian visi Indonesia Emas 2045 sangat bergantung pada kualitas generasi muda, khususnya generasi alpha yang saat ini sedang menempuh pendidikan dasar dan menengah.
Karena itu, menurutnya, penguatan kompetensi harus dilakukan secara menyeluruh, baik dari aspek akademik, ketahanan fisik, maupun kesehatan mental agar mampu menghadapi tantangan global di masa depan.
Sebagai tindak lanjut kerja sama tersebut, Kemendukbangga dan Kemendikdasmen akan mengembangkan program Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) melalui lima strategi utama.
Kelima strategi tersebut meliputi integrasi materi kependudukan ke dalam mata pelajaran, pembentukan Pojok Kependudukan di sekolah, penguatan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), integrasi isu kependudukan dalam kegiatan kepramukaan, serta layanan pengembangan diri berupa asesmen bakat, perlindungan kesehatan mental, dan pelatihan industri digital.
“Kami akan mengoordinasikan implementasinya hingga tingkat teknis agar seluruh bidang yang dapat dikerjasamakan bisa berjalan optimal,” kata Wihaji.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa nota kesepahaman tersebut akan ditindaklanjuti melalui berbagai program kolaboratif di tingkat unit teknis.
Menurut Abdul, pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga harus terhubung dengan keluarga dan lingkungan masyarakat sehingga pembentukan karakter peserta didik dapat berjalan lebih efektif.
Melalui kerja sama ini, pemerintah berharap lahir generasi Indonesia yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, kesehatan fisik dan mental yang baik, serta mampu menjadi penggerak pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.






