Jack Al Ghozali Mengguncang Panggung Kemanusiaan “Lebaran Yatim” di Gedung Juang 45 Tambun

BEKASI | MEDIA BELA RAKYAT — Panggung seni dan sastra kembali menunjukkan wajahnya yang paling manusiawi: bukan sekadar tempat seseorang berdiri, bernyanyi, membaca puisi, atau memainkan peran, melainkan ruang ketika kegelisahan, harapan, dan suara rakyat menemukan tubuhnya. Dalam gelaran bertajuk “Panggung Seni dan Sastra: Lebaran Yatim”, yang digelar pada Sabtu, 27 Juni 2026, di Gedung Juang 45, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, kebudayaan hadir bukan sebagai kemewahan yang berjarak, melainkan sebagai perayaan kebersamaan yang menyentuh sisi terdalam kehidupan.

Di atas panggung, Jack Al Ghozali, sang seniman ulung, tampil dengan energi artistik yang liar, ekspresif, dan tanpa sekat. Tubuhnya bergerak, suaranya meledak, dan seluruh gesturnya seolah hendak mengingatkan bahwa seni tidak pernah lahir dari ruang yang steril. Seni tumbuh dari denyut kehidupan: dari kegembiraan, kesedihan, kegelisahan, bahkan dari luka yang sering kali tak mampu dijelaskan oleh bahasa birokrasi maupun angka-angka statistik. Penampilannya menjadi bukti bahwa panggung seni bukan sekadar ruang pertunjukan, tetapi juga ruang pembebasan ekspresi dan penyampaian pesan kemanusiaan.

Dalam pandangan Jack Al Ghozali, seni dan sastra tidak boleh dipisahkan dari realitas kehidupan masyarakat. Panggung, menurutnya, harus tetap menjadi ruang tempat manusia berbicara tentang manusia, tentang mereka yang bahagia, mereka yang terluka, mereka yang terpinggirkan, serta mereka yang masih membutuhkan uluran tangan dan kepedulian. Karena itu, kegiatan Lebaran Yatim tidak semata-mata dimaknai sebagai acara seremonial, melainkan sebagai momentum untuk menghidupkan kembali rasa kepedulian sosial melalui bahasa seni, sastra, dan kebudayaan. Tuturnya, Sabtu (27/6/2026).

Di balik gelak, tepuk tangan, dan ekspresi artistik yang hadir di atas panggung, terselip pesan kebudayaan yang jauh lebih besar: bahwa anak yatim, para seniman, budayawan, dan masyarakat luas memiliki hak yang sama untuk memperoleh ruang kehidupan yang bermartabat. Kebudayaan tidak boleh hanya dipahami sebagai ornamen seremonial, apalagi sekadar latar belakang sebuah acara. Ia adalah bagian dari identitas bangsa dan instrumen penting dalam membangun manusia Indonesia yang berkeadaban.

Konstitusi telah menempatkan kebudayaan pada posisi yang fundamental. Pasal 32 ayat (1) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menegaskan bahwa negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya. Amanat tersebut kemudian diperkuat melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang menempatkan kebudayaan sebagai bagian penting dari pembangunan nasional. Dengan demikian, seni tidak semestinya diperlakukan sebagai pelengkap acara, melainkan sebagai kekuatan sosial yang memiliki nilai pendidikan, kemanusiaan, dan peradaban.

Karena itu, setiap panggung seni seharusnya tidak berhenti pada kemeriahan acara. Ia harus menjadi ruang pendidikan publik, ruang kritik sosial, ruang perjumpaan antarmanusia, sekaligus ruang untuk menumbuhkan solidaritas. Ketika seni hadir dalam kegiatan sosial seperti Lebaran Yatim, kebudayaan menemukan makna substantifnya: merawat kemanusiaan, membangun empati, dan memastikan bahwa mereka yang berada di pinggir kehidupan tidak dilupakan oleh hiruk-pikuk zaman. Dalam konteks ini, Jack Al Ghozali memperlihatkan bahwa seorang seniman tidak hanya dituntut untuk tampil, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan kesadaran melalui karya dan ekspresi artistiknya.
Di sinilah pentingnya negara dan masyarakat tidak memandang seni sebagai sesuatu yang remeh. Pasal 28C ayat (1) UUD 1945 menjamin hak setiap orang untuk mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, memperoleh pendidikan, serta memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya. Artinya, akses terhadap seni dan kebudayaan bukan semata-mata kemewahan bagi kelompok tertentu, melainkan bagian dari hak warga negara untuk tumbuh dan berkembang sebagai manusia. Seniman, dengan demikian, bukan sekadar penghibur, melainkan saksi zaman, penyimpan ingatan kolektif, dan suara yang kerap berani mengucapkan apa yang tidak sanggup dikatakan oleh banyak orang.

Pada akhirnya, “Lebaran Yatim” bukan sekadar sebuah acara, melainkan sebuah pesan: bahwa seni, sastra, solidaritas, dan kemanusiaan harus terus dirawat bersama. Dari Gedung Juang 45 Tambun Selatan, Jack Al Ghozali dan panggung seni kembali mengingatkan bahwa kebudayaan yang hidup adalah kebudayaan yang berpihak pada manusia. Sebab bangsa yang membiarkan kebudayaannya mati perlahan-lahan, pada hakikatnya sedang kehilangan cermin untuk mengenali dirinya sendiri. Dan selama masih ada panggung, seniman, sastra, serta masyarakat yang bersedia hadir dan berbagi, maka harapan itu belum padam, karena kebudayaan sejatinya bukan hanya tentang apa yang dipentaskan, melainkan tentang bagaimana manusia tetap memilih untuk saling memanusiakan.
(CP/red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *