Hadirin Meneteskan Air Mata: Sambutan Tamsil Linrung dalam Doa Bersama Takziah Almarhumah Azizah Nurul Izzah

Sambutan Wakil Ketua DPD RI Tamsil Linrung di Rumah Dinas dk  Jalan Denpasar Raya, Kuningan, Jakarta Selatan

Saudara-saudaraku yang saya muliakan…

Di beberapa tempat hari ini, masih ada langkah-langkah yang datang membawa doa. Di Bintaro, sahabat-sahabat masih bertakziah. Di Mataram, rumah anak saya tak pernah benar-benar sepi.

Hari ini pula adik-adiknya baru kembali ke Jakarta, membawa pulang rindu yang tak sempat dituntaskan dan air mata yang tak pernah benar-benar selesai.

Bulan Juli… Juli 2026 ini.  Tiga puluh delapan tahun. Anak saya persis di bulan Juli ini 38 tahun usianya. Dia lahir Juli 1988 dan meninggal Juli 2026.

Terlalu singkat bagi seorang ayah untuk mengucapkan selamat tinggal kepada putrinya.

​Saya biasa mengantarkan anak pergi sekolah, mendaftar sekolah, mengantarkan untuk bepergian sampai melihat, melepas… setelah tinggal punggungnya yang kelihatan. Tapi saya tidak pernah membayangkan bahwa anak saya yang usianya separuh dari saya, saya mengantarkan ke suatu tempat yang tidak kembali lagi.

​Kalau kita berpikir urut kacang, mestinya yang lebih tua… lebih duluan. Tetapi kullu nafsin dza’iqatul maut, ya tiap-tiap yang bernyawa akan mengalami maut. Bukan tiap-tiap yang tua, bukan juga tiap-tiap yang sakit.

Sebelumnya, bulan Juli ini menjadi bulan yang kami nantikan. Bulan penuh syukur karena Allah menghadirkan seorang anak perempuan ke dalam keluarga kami. Juli 1988, ia lahir membawa senyum, harapan, dan cahaya.

Namun ternyata, Allah juga memilih bulan yang sama untuk memanggilnya kembali.

Sepanjang hidup, saya terbiasa mengantar anak saya. Saya mengantarnya mendaftar sekolah, mengantarnya berangkat belajar, mengantarnya bepergian. Saya selalu berdiri di belakang, memandang punggungnya yang perlahan menjauh, lalu menunggu ia kembali pulang.

Tetapi tak pernah sekali pun saya membayangkan… suatu hari saya harus mengantarnya menuju sebuah tempat yang tidak pernah lagi mengembalikannya kepada saya.

Begitulah hidup.

Sering kali logika manusia berkata, yang tua mestinya pergi lebih dahulu. Tetapi Allah mengingatkan kita:

Kullu nafsin dzā’iqatul maut.”

Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Bukan setiap yang tua. Bukan setiap yang sakit.

Melainkan siapa pun yang telah Allah tetapkan waktunya. Karena itu saya hanya memohon satu hal kepada sahabat-sahabat semua.

Doakan saya…

Doakan agar Allah menganugerahkan keikhlasan, kesabaran, dan kekuatan kepada saya untuk memikul ujian yang terasa begitu berat ini.

Sesungguhnya, tidak ada apa pun yang benar-benar menjadi milik kita.

Bahkan diri kita sendiri hanyalah titipan. Anak-anak kita pun hanyalah amanah.

Dan ketika Sang Pemilik memanggil kembali titipan-Nya, tidak ada pilihan yang lebih indah selain berkata:

“Ya Allah… Engkau yang memberi, Engkau pula yang mengambil. Kami ridha atas ketetapan-Mu.”

Almarhumah Nurul Izzah adalah anak yang sangat mencintai pengabdian.

Di sekolah anak-anaknya yang notabene anak-anak kurang mampy, ia dipercaya menjadi Ketua Komite Sekolah. Kepala sekolah, para guru, hingga para wali murid datang menemui saya.

Mereka berkata,

“Pak, putri Bapak adalah orang baik. Kalau bukan karena kebaikannya, kami tidak mungkin memilihnya menjadi ketua komite.”

Kalimat itu menjadi pelipur lara bagi hati seorang ayah.

Ketika saya mengetahui ia sakit, saya memintanya segera berobat.

Saya menawarkan agar ia datang ke Jakarta.

Namun ia berkata,

“Ayah, saya ingin ke Penang.”

Saya menyetujuinya. Saya tahu pelayanan kesehatan di sana baik.

Saya hanya meminta satu hal, “Nak, segeralah berangkat.”

Tetapi ia menjawab dengan tenang,

“Ayah, izinkan saya menuntaskan amanah saya sebagai Ketua Komite. Saya tidak ingin meninggalkan tanggung jawab. Anak-anak di sekolah ini berasal dari keluarga sederhana. Saya tidak ingin kegiatan mereka terbengkalai.”

Di tengah tubuh yang menahan rasa sakit…

Yang dipikirkannya justru anak-anak orang lain.

Ia bahkan meminta saya membantu membiayai kegiatan sekolah itu.

Saya kirimkan uang.

Lalu saya bertanya,

“Cukup?”

Ia menjawab sambil bercanda,

“Kalau boleh… tambah sedikit lagi.”

Saya pun mengirimkannya.

Kemudian ia mendoakan saya,

“Semoga rezeki Ayah semakin luas dan semakin berkah.”

Di sela-sela perjuangannya melawan penyakit, ia masih sempat memikirkan ulang tahun putri-putrinya.

“Ayah… hadiah untuk Halwa mana?”

Saya kirimkan.

Lalu ia kembali menggoda saya,

“Masa yang dapat hadiah cuma Trio H? Bundanya bagaimana?”

Saya berkata,

“Minta sama Kak Sudir.”

Ia tertawa,

“Ah… nanti Kak Sudir pasti bilang, tanya Ayah dulu.”

Akhirnya saya kirimkan juga.

Kini saya mengenang percakapan-percakapan sederhana itu…

Percakapan yang dulu terasa biasa…

Kini menjadi harta paling mahal yang tak mungkin bisa dibeli oleh apa pun.

Adik-adiknya kemudian datang dari Mataram dan berkata kepada saya,

“Ayah… Kak Nurul sakitnya serius.”

Saya pun berangkat.

Saya sempat memiliki agenda bertemu Gubernur, Wakil Gubernur, dan beberapa sahabat.

Biasanya saya selalu mengajaknya.

Ia senang berdiskusi, senang mengabdi, senang memperjuangkan pendidikan.

Bahkan suatu ketika ia datang hanya untuk mengajak Gubernur hadir dalam kegiatan sekolah.

Ia tidak pernah memikirkan dirinya sendiri.

Ada cerita unik dari anak saya Nurul ini. Pernah pula ia datang menemui saya dengan membonceng seorang tukang sayur.

Katanya,

“Ayah… saya tahan dulu gerobaknya. Sekarang Ayah yang ganti uang dagangannya.”

Begitulah dia.

Sederhana.

Penuh empati.

Selalu mampu membuat orang lain tersenyum.

Bahkan ayahnya sendiri sering kali menjadi “korban” candanya.

Ketika akhirnya saya datang ke rumahnya, saya melihat sendiri luka-luka di persendiannya.

Saat itulah hati saya hancur. Rasa hati ini sakit  hanyut dalam luka persendiannya.

Ternyata selama ini ia menyembunyikan rasa sakitnya. Tapi kenapa tak mengeluh? Tak menyampaikan rasa sakit.

Ia tidak ingin kami khawatir.

Ia memilih menanggung semuanya dalam diam.

Tanggal keberangkatan ke Penang akhirnya ditetapkan.

Dari sana ia terus mengabarkan keadaannya.

Tetap bertanya tentang adik-adiknya.

Tetap memikirkan anak-anaknya.

Tetap menjadi ibu yang luar biasa hingga napas terakhirnya.

Kini…

Yang ditinggalkan adalah tiga putri yang masih membutuhkan pelukan seorang ibu.

Yang pertama duduk di kelas dua SMA.

Yang kedua kelas tiga SMP.

Yang ketiga baru akan memasuki SMP.

Semoga Allah menjadi Penjaga terbaik bagi mereka.

Saudara-saudaraku…

Tahun 2010 saya membangun sebuah sekolah di BSD.

Di sana saya juga membangun sebuah masjid.

Hari ini saya memberi nama masjid itu Masjid Nurul Islam, sebagai pengingat kepada putri saya, Azizah Nurul Izzah.

Saya berharap…

Setiap takbir yang berkumandang…

Setiap ayat Al-Qur’an yang dibaca…

Setiap sujud yang dipanjatkan…

Setiap doa yang terucap di dalam masjid itu…

Semuanya menjadi aliran pahala yang tidak pernah putus untuknya.

Semoga Allah menjadikan cahaya ibadah di masjid itu sebagai cahaya yang menerangi kuburnya.

Nama Nurul Izzah bukanlah nama yang dipilih tanpa makna.

Puluhan tahun lalu, ketika saya aktif di HMI dan sering berada di Malaysia bersama Pak Anwar Ibrahim dalam berbagai kegiatan dakwah dan kemahasiswaan, saya mengenal putri beliau yang juga bernama Nurul Izzah.

Saat istri saya akan melahirkan, saya meminta izin menggunakan nama itu.

Profesor Siddiq Fadzil kemudian menyarankan agar nama ibunya, Azizah, disandingkan di depannya.

Maka lahirlah nama:

Azizah Nurul Izzah.

Kemuliaan…

yang menjadi cahaya.

Dan saya percaya…

Ia telah kembali kepada Pemilik Cahaya itu.

Terima kasih kepada seluruh sahabat, para senior, para kerabat, dan semua yang telah mengirimkan doa.

Mohon terus doakan putri kami agar Allah melapangkan kuburnya, mengampuni segala khilafnya, menerima seluruh amal salehnya, serta menempatkannya di surga terbaik bersama orang-orang yang dicintai-Nya.

Dan doakan pula kami yang ditinggalkan…

Agar hati ini tetap teguh.

Agar air mata ini berubah menjadi doa.

Agar kerinduan ini kelak dipertemukan kembali di Jannah-Nya.

Karena sesungguhnya…

Perpisahan ini hanyalah sementara.

Yang benar-benar abadi adalah perjumpaan di sisi Allah, bagi mereka yang beriman.

Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *