Presiden FIFA Gianni Infantino Didesak Mundur, Javier Tebas: Sistem FIFA Sedang Sakit dari Akarnya!

JAKARTA – BELA RAKYAT – Gelombang kritik terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino semakin menguat pasca berakhirnya Piala Dunia 2026. Presiden LaLiga Javier Tebas menjadi salah satu tokoh sepak bola paling vokal yang secara terbuka mendesak Infantino mundur dari jabatannya.

Menurut Tebas, berbagai polemik yang terjadi sepanjang penyelenggaraan Piala Dunia 2026 menunjukkan bahwa tata kelola FIFA sedang menghadapi persoalan serius. Ia menilai organisasi sepak bola dunia tersebut lebih mengutamakan kepentingan komersial dibanding menjaga integritas olahraga.

Pernyataan tersebut muncul setelah rentetan kontroversi mewarnai Piala Dunia 2026, mulai dari kebijakan pertandingan hingga munculnya kritik terhadap independensi FIFA dalam mengambil keputusan.

Javier Tebas: Saatnya Gianni Infantino Bertanggung Jawab

Dalam pernyataannya, Javier Tebas menegaskan bahwa sudah waktunya Gianni Infantino mempertanggungjawabkan berbagai persoalan yang muncul selama kepemimpinannya.

“Menurut pendapat saya, ya, saya pikir waktunya telah tiba,” kata Tebas ketika ditanya apakah Infantino sebaiknya mundur dari jabatan Presiden FIFA.

Ia bahkan menilai akar persoalan berada pada sistem yang selama ini menopang kepemimpinan FIFA.

“Infantino tidak tertarik pada sepak bola, tetapi ia mendapat dukungan dari federasi-federasi karena tidak ada yang berani menentangnya,” terangnya.

Lebih lanjut, Tebas mengatakan bahwa tidak adanya kandidat penantang membuat mekanisme pengawasan terhadap kepemimpinan FIFA menjadi lemah.

“Tidak ada kandidat oposisi, tidak ada yang ingin kalah. Begitulah sistemnya dan sistem ini sakit dari akarnya. Dia seharusnya tidak bertahan di posisinya saat ini,” ungkapnya.

Polemik Piala Dunia 2026 Menjadi Pemicu

Sorotan terhadap FIFA meningkat setelah sejumlah keputusan selama Piala Dunia 2026 menuai kritik.

Beberapa kebijakan yang dipersoalkan antara lain penerapan hydration break yang dinilai membuka ruang komersialisasi melalui slot iklan tambahan.

Kontroversi lain muncul ketika hukuman kartu merah pemain Amerika Serikat Folarin Balogun dianulir. Keputusan tersebut memicu berbagai kritik karena disebut terjadi setelah adanya intervensi dari Gedung Putih.

Selain itu, muncul pula polemik terkait wasit asal Somalia Omar Artan yang dikabarkan ditolak masuk ke Amerika Serikat.

Rangkaian peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan mengenai independensi FIFA sebagai organisasi yang selama ini mengedepankan prinsip netralitas dalam sepak bola internasional.

Tebas Nilai FIFA Terlalu Berorientasi Komersial

Kritik Javier Tebas tidak berhenti pada penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Ia juga menyoroti rencana FIFA yang mewacanakan penambahan peserta Piala Dunia 2030 menjadi 64 negara, setelah sebelumnya Piala Dunia 2026 sudah diperluas menjadi 48 peserta.

Lebib lanjut Tebas menjelaskan, kebijakan tersebut semakin memperlihatkan bahwa FIFA lebih berorientasi pada keuntungan ekonomi dibanding menjaga keseimbangan ekosistem sepak bola.

“Industri sepak bola bukan hanya Piala Dunia, yang merupakan ajang terpenting. Tidak semuanya bisa berputar di sekitar Piala Dunia,” papar Tebas.

Ia mengingatkan bahwa kompetisi domestik merupakan fondasi utama industri sepak bola dunia.

“Kompetisi nasional yang mendukung olahraga ini,” ujarnya.

Dinilai Mengancam Kompetisi Domestik

Presiden LaLiga menilai ekspansi Piala Dunia berpotensi memberikan dampak besar terhadap kalender kompetisi nasional.

Bagi Tebas, semakin banyak pertandingan internasional akan mempersempit ruang bagi liga domestik yang selama ini menopang ribuan klub, pekerja, sponsor, hingga industri olahraga secara keseluruhan.

“Mereka menghancurkan industri sepak bola, yang menghasilkan puluhan ribu lapangan kerja, untuk sebuah ajang yang berlangsung selama 40 hari dan melibatkan minoritas pemain,” tegas Tebas

Ia juga meminta agar FIFA lebih memprioritaskan perlindungan terhadap kompetisi nasional.

“Kita membutuhkan lebih sedikit tim nasional dan lebih banyak perlindungan untuk sepak bola nasional, di semua tingkatan. Mereka tidak menyadari, mereka membuat keputusan yang tidak bertanggung jawab,” jelas Tebas.

Kritik Terhadap Infantino Semakin Meluas

Tak hanya itu Tebas, kritik terhadap Gianni Infantino sebenarnya semakin banyak terdengar, termasuk ketika dirinya berada di Amerika Serikat selama Piala Dunia berlangsung.

Namun, ia menyayangkan banyak pihak yang memilih diam meskipun mengetahui adanya persoalan.

“Akhir-akhir ini di Amerika saya mendengar begitu banyak orang menentang Infantino, yang tidak setuju dengan apa yang dia lakukan. Mereka bersuara tapi tidak melakukan apa pun,” kata Tebas.

Ia bahkan mempertanyakan sikap sejumlah pihak yang dinilai mengetahui persoalan namun enggan bertindak.

“Saya tidak tahu mana yang lebih buruk, diam atau terlibat, karena mereka yang tetap diam sangat menyadari kerusakan yang diderita sepak bola.”

Desakan Mundur Menguat Pasca Piala Dunia

Berakhirnya Piala Dunia 2026 tidak menghentikan perdebatan mengenai arah kepemimpinan FIFA.

Berbagai polemik yang terjadi selama turnamen, ditambah rencana memperluas peserta Piala Dunia 2030 menjadi 64 tim, membuat kritik terhadap Gianni Infantino semakin menguat.

Di tengah situasi tersebut, Javier Tebas menjadi salah satu tokoh sepak bola internasional yang secara terbuka meminta Presiden FIFA bertanggung jawab atas berbagai kontroversi yang muncul, bahkan menilai sudah saatnya Gianni Infantino mengakhiri masa kepemimpinannya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *