Final World Cup 2026 Mirip Pilpres di Indonesia

Gelaran sepak bola kasta tertinggi adalah Piala Dunia. Banyak bintang-bintang muda bertarung sekaligus menunjukkan kelasnya untuk mendapatkan “cap” sebagai pemain terbaik. Namun, dalam gelaran Piala Dunia 2026 ini ada yang menarik dari segala kehebatan timnas negara peserta, yaitu adanya dua pemain bintang yang secara usia sudah “gaek” alias tua, yakni Cristiano Ronaldo dari Portugal dan Lionel Messi dari Argentina sebagai juara bertahan.

Dua bintang ini menjadi sentral isu dalam perhelatan Piala Dunia kali ini. Mengapa? Karena sama-sama memiliki level di atas bintang-bintang muda dan memiliki fans fanatik masing-masing di belahan dunia. Sehingga setiap jadwal pertandingan Portugal dan Argentina menjadi sorotan khusus penonton di seluruh dunia.

Bacaan Lainnya

Diawali ketika Portugal tersingkir dan gagal lolos ke semifinal, seolah Piala Dunia menjadi tidak imbang dalam hal kemenarikan tontonan. Sebab, otomatis Lionel Messi sang mega bintang bertengger sendiri. Sinarnya tak ada yang mampu menyaingi, meski banyak bintang muda sekalipun seperti Mbappe, Haaland, Kane, dan lain-lain, seolah tidak bisa menjadi pembanding sinar seorang Lionel Messi.

Selain itu, setiap kemenangan Argentina memang sangat kontras dengan peran sang maestro lapangan, Messi. Argentina tidak selalu mulus dalam proses meraih kemenangan di setiap pertandingan. Bahkan, selalu tertinggal lebih dahulu sampai akhirnya membalikkan keadaan menjadi unggul, dan itu dialami hingga tahap final.

Portugal dan Argentina berada di grup yang berbeda, dan hampir seluruh penonton di dunia berharap bahwa di final yang bertemu adalah Cristiano Ronaldo versus Lionel Messi, bukan hanya untuk memperebutkan trofi Piala Dunia, tetapi juga untuk memperebutkan legitimasi siapa yang layak disebut The GOAT sesungguhnya.

Namun, perjalanan Portugal ternyata kandas di babak 16 besar setelah dikalahkan Spanyol. Artinya, jalan mulus bagi seorang Messi untuk meraih legitimasi The GOAT semakin terbuka lebar.

Akan tetapi, rupanya kubu anti-pendukung Messi tidak tinggal diam begitu saja. Strategi dan upaya untuk mendelegitimasi setiap kemenangan Argentina pun dijadikan sebuah isu konspirasi FIFA, seolah FIFA sebagai rumah penyelenggara turnamen tertinggi di dunia berpihak kepada Argentina. Isu atau wacana itu pun dihembuskan di semua platform media sosial.

Hate speech terhadap setiap kemenangan Argentina selalu merajai opini di banyak media dunia, bahwa kemenangan Argentina tidak lepas dari keberpihakan FIFA.

Fenomena itu mirip dengan saat pemilu presiden di Indonesia, ketika masa kampanye berlangsung, di mana kandidat yang kuat dianggap dibantu oleh KPU atau, dengan kata lain, KPU sebagai lembaga penyelenggara yang independen dianggap berpihak kepada salah satu calon. Dan itu menjadi isu sentral yang ditujukan kepada calon yang kuat.

Hate speech, fitnah, disetting sedemikian rupa secara terstruktur dan masif, sehingga menjadi opini di masyarakat bahwa kemenangan (dalam hal ini Prabowo–Gibran) merupakan hasil dari kecurangan KPU yang berpihak, dengan tuduhan-tuduhan yang beraneka ragam. Bahkan sampai saat ini, ketika pemerintahan Prabowo sudah disahkan sekalipun, wacana-wacana tersebut masih bisa kita lihat di permukaan.

Perbedaannya, jika Prabowo sebagai kandidat kuat sejak awal akhirnya menang, sedangkan Argentina sebagai kandidat kuat harus kalah di final oleh Spanyol. Dan ketika Argentina ternyata kalah, tidak ada satu pun opini yang menyebutkan bahwa kemenangan Spanyol atas Argentina karena setingan atau campur tangan FIFA.

Di sinilah jelas sekali bahwa di era serba digital dan fenomena AI, perang sesungguhnya tidaklah selalu terjadi di medan pertandingan, melainkan pada opini yang dibentuk oleh keinginan kelompok tertentu sebagai legitimasi daripada kemenangan sesungguhnya.

Dalam konteks politik sekarang, suara rakyat belum tentu menjadi suara Tuhan, karena suara rakyat sekarang bisa dibentuk oleh lembaga survei.

Oleh; Asbit, Pengamat Sepak Bola dan Aktivis Politik

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *