Perbedaan Pola dan Gaya Konsolidasi Iran dan Indonesia

Rupanya jenazah Imam Khamenei bukan tanpa maksud ditunda pemakamannya. Rupanya ada tujuan yang jauh lebih besar. Yaitu memanfaatkan momentum pemakaman itu untuk konsolidasi ke dalam domestik Iran sendiri dan menggalang pendukung internasional Iran. Implikasinya jelas nyata: reputasi dan bobot geopolitik Iran meroket. Citra ketahanan Iran pun menanjak. Dalam bahasa populer di Indonesia saat ini, aktivitas Iran tersebut bagian dari: tata kelola. Cuma kalau di Indonesia pintar ngasi istilahnya, tapi pengejewantahannya kacau.

Jika Iran sukses mengeksploitasi keterpojokan dan kerentanan mereka di hadapan serangan Israel dan AS menjadi alasan ofensif hingga membuat selat Hormuz berada dalam kendali Iran, maka Indonesia jangankan mendefinisikan ulang Selat Malaka agar tidak lebih banyak menguntungkan Singapura, malah untuk perkara konsolidasi domestik pun berantakan. Misalnya, MBG dan KDMP yang banyak disorot itu, alih-alih mengonsolidasikan rakyat, justru hanya sekedar mengonsolidasikan faksi dan golongan yang organik mendukung politik domestik pemerintah. Tentu saja banyak yang tidak mendukung jika tata kelolanya demikian.

Bacaan Lainnya

Mari bandingkan Iran dengan selat Hormuznya dengan Indonesia dengan selat Malakanya. Kita tahu batas wilayah teritorial laut pada suatu negara berada 22 km dari garis pantai, yang artinya, batas lautan itu sebenarnya dalam kekuasaan suatu negara. Nah, jarak Singapura dengan Batam hanya 20 km. (https://www.batamnews.co.id/berita-97620-jarak-antara-batam-dan-singapura-hanya-20-kilometer.html). Apalagi Singapura terus mereklamasi wilayahnya ke laut. Berarti sebagian daratan Singapura otomatis milik Indonesia. Kita belum bahas ZEE yang mensyaratkan 370 km dari dasar garis pantai.

Sementara selat hormuz pada titik sempitnya selebar 33 km. Jauh lebih lebar ketimbang jarak Batam – Singapura. Tapi karena Iran mendefinisikan selat itu milik historisnya, seperti China mendefinisikan Laut China Selatan, ditambah dengan alasan kerawanan yang ditimbulkan oleh AS, maka Iran kini tidak membiarkannya sebagai wilayah tanpa tuan.

Iran memang tidak mungkin sama secara mental dan spirit dengan Indonesia, untuk saat ini. Entah di masa mendatang. Indonesia lebih sibuk mengamankan arisan giliran berkuasa antar beragam partai politik dan koalisi. Arisan kuasa model begini menimbulkan kerentanan untuk retak dan akhirnya beralih lagi ke koalisi yang lain. Potensi kerentanan dan keretakan ini sangat mudah dieksploitasi untuk berubah menjadi keruntuhan politik, termasuk dari Singapura, tempat dimana para penguasa ekonomi dan politik Indonesia menempatkan markas bayangannya. Terbayang betapa musykilnya menggeser Singapura dari kuasa maritim selat Malaka.

Oleh: Syahrul E Dasopang, Penulis Buku

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *