Meutya Hafid Dorong Indonesia Kuasai Nilai Ekonomi Digital, Bukan Sekadar Jadi Pasar Teknologi

JAKARTA – Di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi digital Asia Tenggara, pemerintah mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh puas hanya menjadi konsumen teknologi global. Di balik besarnya transaksi digital yang terjadi setiap hari, terdapat tantangan besar agar keuntungan ekonomi tidak hanya dinikmati pelaku usaha asing, melainkan mampu menciptakan nilai tambah yang berputar di dalam negeri.

Pesan tersebut disampaikan Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, saat berbicara dalam Asia Economic Summit (AES) 2026 yang digelar Tech in Asia di Jakarta. Forum yang dihadiri ratusan pemimpin bisnis, investor, dan pengambil kebijakan kawasan itu membahas arah baru ekonomi digital Asia Tenggara di tengah dinamika ekonomi global yang terus berubah.

Bacaan Lainnya

Ekonomi Digital Indonesia Tumbuh Pesat, Tapi Siapa yang Menikmati?

Indonesia saat ini tercatat sebagai ekonomi digital terbesar di kawasan ASEAN. Nilainya diperkirakan telah mencapai sekitar 100 miliar dolar AS dan diproyeksikan melonjak hingga 360 miliar dolar AS pada 2030.

Namun di balik angka fantastis tersebut, muncul pertanyaan mendasar: seberapa besar manfaat ekonomi itu benar-benar dinikmati masyarakat Indonesia?

Meutya menilai besarnya nilai transaksi digital belum otomatis mencerminkan kekuatan ekonomi nasional. Menurutnya, yang lebih penting adalah kemampuan Indonesia mempertahankan nilai ekonomi agar tidak mengalir keluar negeri melalui dominasi platform, teknologi, maupun ekosistem digital asing.

“Pertumbuhan ekonomi digital harus diterjemahkan menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Dari Konektivitas Menuju Integrasi Ekonomi

Selama satu dekade terakhir, fokus pembangunan digital Indonesia banyak diarahkan pada perluasan akses internet dan konektivitas. Namun pemerintah kini melihat tantangan berikutnya jauh lebih kompleks.

Bukan lagi sekadar menghubungkan masyarakat dengan internet, melainkan memastikan teknologi mampu mengintegrasikan sistem ekonomi, meningkatkan produktivitas, serta menciptakan peluang usaha baru yang lebih luas.

Menurut Meutya, fase pembangunan digital berikutnya adalah bagaimana negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, mampu berperan sebagai pembentuk arah ekonomi digital global, bukan hanya menjadi pasar bagi produk dan layanan teknologi dunia.

Modal Besar Indonesia

Data yang dipaparkan pemerintah menunjukkan Indonesia memiliki fondasi kuat untuk memimpin transformasi digital kawasan.

Dengan jumlah penduduk sekitar 281 juta jiwa atau hampir 40 persen populasi ASEAN, Indonesia memiliki pasar domestik yang sangat besar. Selain itu, terdapat sekitar 220 juta pengguna internet yang menjadi basis pertumbuhan ekonomi digital nasional.

Faktor lain yang dinilai mendukung adalah stabilitas pertumbuhan ekonomi serta tingginya arus investasi asing langsung yang mencapai sekitar 55 miliar dolar AS sepanjang tahun lalu.

Kombinasi faktor tersebut menjadikan Indonesia memiliki posisi strategis untuk menjadi pemain utama dalam ekonomi digital regional.

Retensi Nilai Jadi Kunci

Meski demikian, pemerintah menilai pertumbuhan digital harus dibarengi strategi retensi nilai ekonomi. Artinya, aktivitas digital yang tumbuh pesat perlu menghasilkan manfaat ekonomi yang tetap berputar di dalam negeri.

Konsep ini menjadi penting mengingat sebagian besar keuntungan dalam ekonomi digital sering kali terkonsentrasi pada pemilik platform dan teknologi.

Karena itu, pemerintah mendorong pemanfaatan teknologi untuk memperkuat sektor riil, terutama kelompok usaha kecil dan masyarakat produktif.

Dalam paparannya, Meutya mencontohkan bagaimana teknologi digital dapat memotong rantai distribusi yang selama ini mengurangi keuntungan pelaku usaha.

Nelayan misalnya, kini memiliki peluang menjual hasil tangkapannya langsung kepada pembeli melalui platform digital tanpa harus bergantung pada banyak perantara. Kondisi serupa juga dapat dirasakan pelaku UMKM dan produsen kecil yang dapat menjangkau pasar nasional bahkan regional dengan biaya lebih efisien.

“Transformasi digital yang sesungguhnya adalah ketika teknologi mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

AI Harus Berdampak pada Kesejahteraan

Dalam kesempatan tersebut, Meutya juga menyinggung perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang saat ini menjadi pusat perhatian dunia.

Ia menilai keberhasilan AI tidak semata diukur dari kecanggihan teknologinya, melainkan dari sejauh mana teknologi tersebut mampu memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat.

Menurutnya, teknologi harus menjadi alat untuk memperluas kesejahteraan, membuka akses ekonomi, serta menciptakan kesempatan yang lebih merata.

“Nilai terbesar AI bukan terletak pada teknologinya semata, tetapi pada bagaimana teknologi itu digunakan untuk menciptakan kesejahteraan yang lebih luas bagi masyarakat,” tegas Meutya.

Momentum Menentukan Masa Depan Digital Indonesia

Pernyataan Menkomdigi tersebut menjadi sinyal bahwa pemerintah mulai menggeser fokus pembangunan digital dari sekadar perluasan akses menuju penciptaan nilai ekonomi yang lebih besar.

Di tengah persaingan global yang semakin ketat, Indonesia dihadapkan pada pilihan strategis: tetap menjadi pasar yang besar bagi produk digital dunia, atau naik kelas menjadi negara yang mampu menciptakan, mengendalikan, dan menikmati nilai ekonomi dari transformasi digitalnya sendiri.

Pilihan itulah yang diyakini akan menentukan posisi Indonesia dalam peta ekonomi digital dunia pada dekade mendatang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *