Momen penghormatan terakhir untuk jasad Imam Khamenei mencuri perhatian. Setiap delegasi yang bergiliran memberikan penghormatan, diiringi dengan bacaan ayat-ayat Alquran yang mengiris hati dengan pesan yang sesuai untuk latar belakang delegasi. Agaknya panitia acara tersebut sudah memperhitungkan ayat apa yang cocok untuk menggugah para delegasi tersebut.
Salah satu yang menarik ialah ayat yang diperdengarkan kepada para delegasi Kerajaan Arab Saudi. Arab Saudi memang berbesar hati untuk datang ke acara agung tersebut. Kerajaan yang berpengaruh ini mengirimkan Wakil Menteri Luar Negeri mereka beserta rombongan.
Saat rombongan itu berdiri hening sejenak di hadapan peti jenazah Imam Khamenei dan keluarganya yang ikut gugur dibom oleh Amerika, suara qori yang menembus perasaan, sulit untuk tidak menyinggung hati delegasi Arab Saudi tersebut, mengingat mereka tentu mengerti arti ayat tersebut.
Isi ayat Alquran dari surah Ali Imran, yang dibacakan adalah:
قَدْ كَانَ لَكُمْ اٰيَةٌ فِيْ فِئَتَيْنِ الْتَقَتَاۗ فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَاُخْرٰى كَافِرَةٌ يَّرَوْنَهُمْ مِّثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِۗ وَاللّٰهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّاُولِى الْاَبْصَارِ ١٣
“Sungguh, telah ada tanda (bukti) bagimu pada dua golongan yang bertemu (dalam pertempuran). Satu golongan berperang di jalan Allah dan (golongan) yang lain kafir yang melihat dengan mata kepala bahwa mereka (golongan muslim) dua kali lipat jumlahnya. Allah menguatkan siapa yang Dia kehendaki dengan pertolongan-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (mata hati).”
Ayat ini seolah memberikan makna aktual bahwa Iran dan Arab Saudi laksana dua golongan dalam pertempuran. Dan Iran dikuatkan atas kehendak Allah dan harusnya menjadi pelajaran bagi Arab Saudi. Rasanya lebih kurang demikian sindiran ayat itu.
*Untung Delegasi Indonesia Tidak Hadir*
Bagaimana sekiranya delegasi Indonesia hadir dan ayat apa yang harus mereka dengarkan?
Kalau boleh menduga-duga, ayat yang diperdengarkan ke delegasi Indonesia, pasti yang sesuai dengan sikap dan keadaan Indonesia terkait dengan apa yang diterima dan dirasakan Iran. Indonesia jelas pro Amerika, dan tidak mengecam Amerika, pun tidak membantu Iran layaknya sebagai sesama Muslim. Padahal dalam piagam kemerdekaan negeri ini, jelas anti imperialisme. Namun pada praktiknya agak jauh dari kenyataan.
Maka yang tepat untuk diperdengarkan kepada delegasi Indonesia adalah Surat Al-Baqarah Ayat 13 – 14:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ ءَامِنُوا۟ كَمَآ ءَامَنَ ٱلنَّاسُ قَالُوٓا۟ أَنُؤْمِنُ كَمَآ ءَامَنَ ٱلسُّفَهَآءُ ۗ أَلَآ إِنَّهُمْ هُمُ ٱلسُّفَهَآءُ وَلَٰكِن لَّا يَعْلَمُونَ
Artinya: Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman”. Mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu.
وَإِذَا لَقُوا۟ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قَالُوٓا۟ ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوْا۟ إِلَىٰ شَيَٰطِينِهِمْ قَالُوٓا۟ إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُونَ
Artinya: Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”.
Mungkin intel Indonesia sudah mendeteksinya terlebih dahulu kemungkinan yang terjadi, sehingga untuk menghindari rasa kikuk di hadapan lantunan ayat Alquran, delegasi Indonesia pun, bahkan setingkat Wamenlu Anis Matta pun, tidak dikirimkan. Boro-boro Ketua PB NU dan Ketua PP Muhammadiyah. Jelas mereka kikuk berhadapan dengan gelitikan ayat itu.
Apa susahnya mengirimkan figur berpengaruh dari ormas Islam sekedar untuk menghormati ajaran persaudaraan sesama umat Islam. Itulah susahnya kalau kaki sudah ditambat dan mulut sudah terkunci oleh kepentingan domestik.
Malaysia saja mengirimkan delegasi yang dipimpin oleh Menteri Pertanian dan Ketahanan Pangan, Mohamad Sabu. Lebih jelas posisi Malaysia ketimbang Indonesia.
Tidak perlu menyalahkan pemerintah. Lebih baik umat Islam Indonesia introspeksi diri, mengapa mereka tidak berdaya mengartikulasikan kepentingan agama mereka.
Oleh: Syahrul E Dasopang, Pengamat Gerakan Islam






