Mencetak 1.000 Pengusaha Baru Setiap Tahun: Investasi Terbaik untuk Masa Depan Bulukumba

Oleh: Syafruddin Mualla, Wakil Ketua Umum KADIN Sulawesi Selatan
Ketua Umum FKPB (Forum Komunikasi Pengusaha Bulukumba)

Bulukumba dianugerahi potensi ekonomi yang luar biasa. Kelapa, rumput laut, hasil perikanan, pertanian, peternakan, industri maritim berbasis Pinisi, hingga pariwisata merupakan modal strategis yang tidak dimiliki banyak daerah di Indonesia. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya bertransformasi menjadi industri yang kuat, perusahaan yang kompetitif, serta lapangan kerja yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara signifikan.

Bacaan Lainnya

Dalam setiap pembahasan pembangunan ekonomi daerah, perhatian kita hampir selalu tertuju pada upaya mendatangkan investor. Harapan itu tentu penting karena investasi mampu menciptakan lapangan kerja, mendorong transfer teknologi, meningkatkan produktivitas, serta mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang patut kita renungkan bersama: apakah masa depan ekonomi Bulukumba harus bergantung pada datang atau tidaknya investor besar?

Menurut saya, jawabannya adalah tidak.

Daerah yang maju tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi yang masuk, tetapi juga oleh kemampuannya melahirkan pengusaha-pengusaha lokal yang tangguh. Investor dapat menjadi lokomotif pertumbuhan, tetapi pengusaha lokal merupakan fondasi yang menjaga roda ekonomi tetap berputar dalam jangka panjang.

Data menunjukkan bahwa Bulukumba memiliki modal yang sangat besar. Berdasarkan Sistem Informasi Data Tunggal (SIDT) UMKM, terdapat sekitar 55.811 UMKM, terdiri atas 55.549 usaha mikro, 218 usaha kecil, dan 44 usaha menengah. Angka ini menunjukkan bahwa ekonomi kerakyatan telah tumbuh, tetapi sebagian besar masih berada pada skala mikro. Karena itu, tantangan kita bukan sekadar menambah jumlah UMKM, melainkan mendorong usaha mikro naik kelas menjadi usaha kecil, usaha kecil berkembang menjadi usaha menengah, dan usaha menengah tumbuh menjadi perusahaan yang mampu bersaing di tingkat nasional bahkan global.

Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada Agustus 2025 jumlah angkatan kerja Bulukumba mencapai 269.762 orang, dengan 264.045 orang bekerja dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 2,12 persen. Sementara itu, perekonomian Bulukumba pada tahun 2024 tumbuh sekitar 4,60 persen, dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku sekitar Rp20,22 triliun.

Data tersebut menunjukkan bahwa fondasi ekonomi Bulukumba cukup baik. Namun, pertumbuhan ekonomi akan menjadi lebih berkualitas apabila diikuti oleh lahirnya semakin banyak pengusaha yang mampu menciptakan nilai tambah, membangun industri berbasis potensi lokal, serta membuka lapangan kerja baru.

Karena itu, saya mengusulkan sebuah target yang realistis sekaligus strategis, yaitu mencetak 1.000 pengusaha baru setiap tahun.

Target tersebut bukan sekadar slogan. Dengan jumlah penduduk sekitar 460 ribu jiwa dan angkatan kerja hampir 270 ribu orang, penambahan 1.000 pengusaha baru setiap tahun hanya setara sekitar 0,37 persen dari total angkatan kerja. Artinya, target ini sangat proporsional apabila didukung oleh kebijakan yang tepat serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.

Apabila dijalankan secara konsisten selama sepuluh tahun, Bulukumba berpotensi memiliki 10.000 pengusaha baru. Jika setiap pengusaha mampu mempekerjakan rata-rata lima orang, maka sekitar 50.000 lapangan kerja baru dapat tercipta. Dampaknya bukan hanya meningkatnya pendapatan masyarakat, tetapi juga berkembangnya usaha lokal, bertambahnya aktivitas ekonomi, meningkatnya penerimaan daerah, serta lahirnya perusahaan-perusahaan Bulukumba yang mampu bersaing di tingkat nasional hingga internasional.

Untuk mewujudkan target tersebut, Bulukumba memerlukan Gerakan 1.000 Pengusaha Baru yang melibatkan pemerintah daerah, KADIN, HIPMI, FKPB (Forum Komunikasi Pengusaha Bulukumba), perguruan tinggi, perbankan, koperasi, BUMN, BUMD, lembaga pelatihan, komunitas bisnis, dan sektor swasta.

Gerakan ini harus memiliki peta jalan yang jelas, mulai dari penjaringan calon wirausaha, pelatihan berbasis praktik bisnis, pendampingan, kemudahan perizinan, akses pembiayaan, inkubasi bisnis, digitalisasi pemasaran, hingga pembukaan akses pasar nasional dan ekspor.

Fokus pengembangannya juga harus diarahkan pada sektor-sektor unggulan Bulukumba, seperti hilirisasi kelapa, rumput laut, perikanan, peternakan, pertanian, industri maritim berbasis Pinisi, ekonomi kreatif, dan pariwisata. Dengan demikian, lahirnya pengusaha baru menjadi bagian dari strategi besar hilirisasi, industrialisasi, dan penguatan ekonomi daerah.

Keberhasilan gerakan ini tidak boleh diukur dari banyaknya pelatihan atau sertifikat yang dibagikan. Tolok ukurnya adalah berapa banyak usaha yang mampu bertahan, naik kelas, menyerap tenaga kerja, meningkatkan omzet, membayar pajak, serta berhasil menembus pasar nasional maupun ekspor.

Bulukumba tentu tetap membutuhkan investor besar. Kita memerlukan kawasan industri, pelabuhan niaga, infrastruktur logistik yang memadai, serta iklim investasi yang semakin kompetitif. Namun, investasi dari luar akan memberikan manfaat yang jauh lebih besar apabila didukung oleh ribuan pengusaha lokal yang tangguh sebagai pemasok bahan baku, mitra produksi, distributor, maupun bagian dari rantai pasok industri.

Pada akhirnya, investasi terbaik bukan hanya modal yang datang dari luar daerah. Investasi terbaik adalah investasi pada manusia—membangun karakter, kompetensi, keberanian, kepemimpinan, dan semangat kewirausahaan agar semakin banyak generasi muda menjadi pencipta lapangan kerja, bukan sekadar pencari kerja.

Sudah saatnya Bulukumba tidak hanya dikenal sebagai daerah yang kaya sumber daya alam, tetapi juga sebagai daerah pencetak pengusaha, pusat lahirnya industri berbasis potensi lokal, serta contoh keberhasilan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat dalam membangun ekonomi yang inklusif, mandiri, dan berkelanjutan.

Mencetak 1.000 pengusaha baru setiap tahun bukan sekadar program, melainkan strategi pembangunan ekonomi jangka panjang. Ketika target ini dijalankan secara konsisten, sesungguhnya Bulukumba sedang membangun fondasi ekonomi untuk 20 hingga 30 tahun ke depan. Sebab, daerah yang benar-benar maju bukanlah daerah yang hanya kaya sumber daya alam, melainkan daerah yang kaya akan pengusaha yang mampu mengubah potensi menjadi nilai tambah, menciptakan lapangan kerja, dan menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.

Mari kita jadikan Bulukumba bukan hanya dikenal sebagai daerah penghasil komoditas, tetapi juga sebagai daerah pencetak pengusaha, pusat pertumbuhan industri berbasis potensi lokal, dan rumah bagi perusahaan-perusahaan yang mampu bersaing di pasar nasional maupun global. Sebab, setiap pengusaha baru yang lahir bukan sekadar membuka sebuah usaha, melainkan menyalakan harapan, menciptakan lapangan kerja, menggerakkan perekonomian, dan mewariskan masa depan Bulukumba yang lebih mandiri, lebih maju, dan lebih sejahtera bagi generasi yang akan datang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *