Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS / Kalimantan Selatan I
Di antara sekian banyak sahabat Rasulullah ﷺ, ada seorang yang memperoleh kemuliaan yang sangat istimewa. Bukan karena kekayaan, bukan karena jabatan, bukan pula karena keturunan. Allah memilihnya untuk menjadi tuan rumah manusia paling mulia sepanjang sejarah. Dialah Sayyidina Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu.
Peristiwa ini terjadi pada tahun hijrah, ketika Rasulullah ﷺ meninggalkan Makkah menuju Madinah. Seluruh penduduk Madinah menanti dengan penuh kerinduan. Setiap keluarga berharap Rasulullah berkenan singgah di rumah mereka.
Masing-masing menarik tali unta Rasulullah seraya berkata, “Singgahlah di rumah kami, wahai Rasulullah.”
Di antara para sahabat Rasulullah ﷺ, terdapat seorang yang memperoleh kemuliaan yang sangat istimewa. Kemuliaan itu bukan karena kekayaan, jabatan, atau keturunan, melainkan karena Allah memilihnya menjadi tuan rumah bagi manusia paling mulia sepanjang sejarah. Beliau adalah Sayyidina Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu.
Peristiwa ini terjadi pada tahun hijrah, ketika Rasulullah ﷺ meninggalkan Makkah menuju Madinah. Seluruh penduduk Madinah menyambut kedatangan beliau dengan penuh kerinduan. Setiap keluarga berharap Rasulullah berkenan singgah di rumah mereka.
Masing-masing dari mereka menarik tali unta Rasulullah seraya berkata, “Singgahlah di rumah kami, wahai Rasulullah.”
Namun Rasulullah ﷺ menjawab:
“Biarkanlah unta itu berjalan, karena ia berada dalam perintah Allah.” (HR. Ahmad dan riwayat-riwayat sirah)
Unta beliau, Al-Qashwa’, terus melangkah hingga berhenti di depan rumah Abu Ayyub Al-Anshari. Ia sempat duduk, kemudian berdiri kembali, lalu kembali ke tempat semula. Rasulullah ﷺ pun bersabda bahwa di situlah beliau akan menetap.
Itulah pilihan Allah. Bukan rumah yang paling megah. Bukan rumah orang terkaya. Tetapi rumah seorang hamba yang dipenuhi keimanan dan keikhlasan.
Abu Ayyub segera mengangkat barang-barang Rasulullah ﷺ ke rumahnya. Dalam tradisi Arab, siapa yang membawa barang tamu berarti dialah yang menjadi tuan rumah. Sejak saat itu, rumah sederhana dua lantai tersebut menjadi pusat peradaban Islam yang baru lahir.
Di sanalah wahyu dibaca. Melainkan rumah seorang hamba yang dipenuhi keimanan dan keikhlasan.
Abu Ayyub segera memindahkan barang-barang Rasulullah ﷺ ke rumahnya. Dalam tradisi Arab, orang yang membawa barang tamu adalah pihak yang menjadi tuan rumah. Sejak saat itu, rumah sederhana dua lantai tersebut menjadi pusat peradaban Islam yang baru tumbuh.
Di sanalah wahyu dibacakan. Di sanalah para sahabat berkumpul. Di sanalah tamu-tamu dari berbagai kabilah datang menemui Rasulullah ﷺ.
Di sanalah sejarah Islam mulai ditulis. Ketika Abu Ayyub mempersilakan Rasulullah memilih lantai rumahnya, beliau berkata dengan penuh hormat,
Ketika Abu Ayyub mempersilakan Rasulullah memilih lantai rumahnya, ia berkata dengan penuh hormat,
“Wahai Rasulullah, pilihlah lantai yang engkau kehendaki.”
Namun Rasulullah ﷺ menjawab,
“As-suflu arfaq.”
“Lantai bawah lebih memudahkan.” (HR. Ibnu Majah)
Beliau memilih lantai bawah bukan karena lebih nyaman, melainkan agar para tamu, fakir miskin, utusan, dan masyarakat yang datang menemui beliau tidak perlu menaiki tangga. Bahkan dalam memilih tempat tinggal pun Rasulullah ﷺ mendahulukan kemudahan bagi orang lain daripada kenyamanan diri sendiri.
Beliau memilih lantai bawah bukan karena lebih nyaman, melainkan agar para tamu, fakir miskin, utusan, dan masyarakat yang datang menemui beliau tidak perlu menaiki tangga. Bahkan dalam memilih tempat tinggal pun Rasulullah ﷺ mendahulukan kemudahan bagi orang lain daripada kenyamanan dirinya sendiri.
Inilah teladan kepemimpinan Islam. Pemimpin bukan mencari tempat paling tinggi. Tetapi memilih posisi yang paling mudah dijangkau rakyatnya.
Namun, bagi Abu Ayyub, keputusan itu justru menjadi kegelisahan. Seorang pemimpin tidak mencari tempat yang paling tinggi.
Ia justru memilih posisi yang paling mudah dijangkau oleh rakyatnya. Namun bagi Abu Ayyub, keputusan itu justru menimbulkan kegelisahan.
Bagaimana mungkin ia dan istrinya berjalan di atas kepala Rasulullah ﷺ?
Sepanjang malam mereka hampir tidak bisa tidur. Setiap langkah terasa penuh rasa bersalah. Mereka khawatir suara kaki mereka mengganggu Rasulullah ﷺ.
Keesokan harinya mereka menyampaikan kegelisahan itu. Sepanjang malam mereka hampir tidak dapat tidur. Setiap langkah terasa penuh rasa bersalah. Mereka khawatir suara kaki mereka mengganggu Rasulullah ﷺ.
Keesokan harinya, mereka menyampaikan kegelisahan tersebut. Rasulullah ﷺ menjelaskan dengan penuh kelembutan bahwa beliau memilih lantai bawah agar memudahkan para tamu yang datang setiap saat.
Namun adab Abu Ayyub belum berhenti sampai di situ. Namun adab Abu Ayyub tidak berhenti sampai di situ.
Pada suatu malam, sebuah kendi berisi air tanpa sengaja tumpah di lantai atas. Air mulai merembes ke bawah.
Abu Ayyub dan istrinya panik bukan karena takut lantainya rusak, tetapi karena khawatir setetes air jatuh ke tempat Rasulullah ﷺ sedang beristirahat.
Mereka segera mengambil satu-satunya selimut yang mereka miliki lalu mengeringkan lantai sedikit demi sedikit agar tidak ada air yang menetes.
Abu Ayyub dan istrinya panik, bukan karena takut lantainya rusak, melainkan karena khawatir setetes air jatuh ke tempat Rasulullah ﷺ sedang beristirahat.
Mereka segera mengambil satu-satunya selimut yang mereka miliki, lalu mengeringkan lantai sedikit demi sedikit agar tidak ada air yang menetes.
Keesokan harinya Abu Ayyub berkata,
“Wahai Rasulullah, aku tidak sanggup tinggal di atas sementara engkau berada di bawahku.”
Melihat ketulusan itu, Rasulullah ﷺ akhirnya berpindah ke lantai atas.
Kisah ini diriwayatkan dalam banyak kitab hadis, di antaranya Shahih Muslim, Musnad Ahmad, dan kitab-kitab sirah Nabi.
Adab yang Lahir dari Iman
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi…”
(QS. Al-Hujurat: 2)
Ayat ini bukan hanya berbicara tentang volume suara.
Ayat ini tidak hanya berbicara tentang tinggi rendahnya suara.
Para ulama menjelaskan bahwa ayat tersebut mengajarkan penghormatan yang sempurna kepada Rasulullah ﷺ.
1. Menghormati beliau.
2. Menjaga adab di hadapan beliau.
3. Tidak mendahulukan pendapat di atas sabda beliau.
Abu Ayyub memahami makna ayat ini jauh sebelum ia menjadi teori. Abu Ayyub memahami makna ayat ini jauh sebelum ia menjadi pembahasan teoritis.
Adabnya lahir dari cinta. Bukan karena aturan. Bukan semata-mata karena aturan.
Mengapa Abu Ayyub Begitu Memuliakan Rasulullah? Karena ia memahami firman Allah:
“Sesungguhnya pada diri Rasulullah terdapat teladan yang paling baik bagi kalian.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Ia tahu bahwa memuliakan Rasulullah adalah bagian dari keimanan. Ia mengetahui bahwa memuliakan Rasulullah adalah bagian dari keimanan.
Bahkan Allah berfirman:
“…agar kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan agama-Nya, memuliakan Rasul-Nya, serta bertasbih kepada Allah pagi dan petang.” (QS. Al-Fath: 9)
Relevansi dengan Kehidupan Masa Kini
Hari ini kita hidup pada zaman ketika adab sering kalah oleh kebebasan. Media sosial membuat semua orang merasa berhak berbicara tentang siapa saja.
Hari ini kita hidup pada masa ketika adab sering kali kalah oleh kebebasan berekspresi. Media sosial membuat banyak orang merasa berhak berbicara tentang siapa saja.
1. Guru diperdebatkan.
2. Ulama dihina.
3. Orang tua dibentak.
4. Pemimpin dicaci tanpa etika.
Bahkan ajaran agama sering dinilai hanya berdasarkan logika pribadi. Padahal Islam dibangun bukan hanya dengan ilmu, tetapi juga dengan adab.
Imam Malik rahimahullah pernah berkata: “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.”
Sebab ilmu tanpa adab melahirkan kesombongan. Sedangkan adab akan menjaga ilmu agar menjadi cahaya.
Abu Ayyub mengajarkan bahwa menghormati guru bukanlah kultus, melainkan akhlak. Sebaliknya, adab akan menjaga ilmu agar tetap menjadi cahaya.
Abu Ayyub mengajarkan bahwa menghormati guru bukanlah bentuk kultus, melainkan akhlak.
Memuliakan orang saleh bukan berarti menyembah mereka. Menghormati ulama bukan berarti menganggap mereka maksum.
Semuanya adalah bentuk penghargaan kepada ilmu yang mereka bawa. Semuanya merupakan bentuk penghargaan terhadap ilmu yang mereka bawa.
Kemuliaan yang Terus Berlanjut
Abu Ayyub tidak hanya berjasa saat hijrah. Abu Ayyub tidak hanya berjasa pada masa hijrah.
Hingga usia lebih dari delapan puluh tahun, beliau tetap ikut berjihad di jalan Allah.
Beliau wafat dalam ekspedisi menuju Konstantinopel pada masa pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan.
Sebelum wafat beliau berwasiat agar dimakamkan sedekat mungkin dengan benteng musuh.
Berabad-abad kemudian, ketika Konstantinopel ditaklukkan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih pada tahun 1453, makam Abu Ayyub ditemukan kembali dan dihormati. Hingga kini kawasan Eyüp di Istanbul menjadi salah satu tempat bersejarah yang mengingatkan umat Islam kepada sahabat mulia tersebut.
Sebelum wafat, beliau berwasiat agar dimakamkan sedekat mungkin dengan benteng musuh.
Berabad-abad kemudian, ketika Konstantinopel ditaklukkan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih pada tahun 1453, makam Abu Ayyub ditemukan kembali dan dimuliakan. Hingga kini, kawasan Eyüp di Istanbul menjadi salah satu tempat bersejarah yang mengingatkan umat Islam kepada sahabat mulia tersebut.
Penutup
Kisah Abu Ayyub Al-Anshari bukan hanya tentang siapa yang menjadi tuan rumah Rasulullah ﷺ.
Ia adalah pelajaran bahwa kemuliaan tidak selalu lahir dari kekayaan, tetapi dari adab.
Kisah Abu Ayyub Al-Anshari bukan sekadar kisah tentang siapa yang menjadi tuan rumah Rasulullah ﷺ.
Ia adalah pelajaran bahwa kemuliaan tidak selalu lahir dari kekayaan, melainkan dari adab.
1. Rumahnya sederhana.
2. Hartanya biasa.
3. Namanya tidak setenar sebagian sahabat lainnya.
Namun Allah memilih rumahnya untuk menjadi tempat bernaung Nabi-Nya. Sungguh, orang yang memuliakan Rasulullah ﷺ akan dimuliakan Allah.
Namun Allah memilih rumahnya sebagai tempat bernaung Nabi-Nya. Sungguh, orang yang memuliakan Rasulullah ﷺ akan dimuliakan oleh Allah.
Semoga Allah menanamkan dalam hati kita adab sebagaimana adab Abu Ayyub Al-Anshari, menjadikan kita termasuk orang-orang yang mencintai Rasulullah ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta, dan mengumpulkan kita bersama beliau, keluarga, serta para sahabat di surga-Nya.
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.






