“Jika seorang hamba tahu bagaimana Allah mengatur semua urusannya maka hatinya akan dipenuhi cinta kepada Allah dan dia yakin Allah lebih sayang kepada dirinya daripada ayah dan ibunya.”
Kalimat yang disampaikan oleh Ibnu Qayyim bukanlah sekadar ungkapan yang indah. Ia merupakan buah dari pemahaman yang mendalam tentang sifat-sifat Allah, khususnya kasih sayang (rahmah), hikmah, dan kebijaksanaan-Nya dalam mengatur kehidupan manusia.
Seorang mukmin yang memahami hakikat ini tidak akan mudah berputus asa ketika diuji, tidak akan sombong ketika diberi nikmat, dan tidak akan iri melihat keberhasilan orang lain. Ia menyadari bahwa seluruh takdir Allah mengandung hikmah, meskipun terkadang belum mampu dipahami oleh akal manusia.
Allah adalah Dzat Yang Maha Mengetahui masa lalu, masa kini, dan masa depan. Tidak ada satu daun pun yang gugur melainkan dalam ilmu-Nya. Tidak ada air mata yang menetes, doa yang dipanjatkan, ataupun kesulitan yang menimpa seorang hamba kecuali semuanya berada dalam pengawasan dan kasih sayang Allah.
Dalam bahasa Arab:
وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Artinya: “Tetapi boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat ini menjadi fondasi penting dalam kehidupan seorang mukmin. Manusia sering menilai sesuatu berdasarkan pandangan sesaat. Kita menganggap kehilangan sebagai musibah, padahal boleh jadi itu adalah penyelamatan. Kita menganggap keberhasilan sebagai nikmat, padahal bisa saja menjadi awal dari kelalaian. Allah melihat apa yang tidak mampu kita lihat.
Kasih sayang Allah jauh melampaui kasih sayang manusia. Bahkan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah.
Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah ﷺ pernah melihat seorang ibu yang kehilangan anaknya di tengah para tawanan perang. Setelah menemukan bayinya, ia langsung memeluk dan menyusuinya dengan penuh kasih sayang. Rasulullah kemudian bertanya kepada para sahabat:
“Apakah menurut kalian ibu ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam api?”
Para sahabat menjawab, “Tidak mungkin.”
Beliau bersabda: “Sungguh Allah lebih penyayang kepada hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.”(HR Bukhari Muslim )
Hadis ini menunjukkan bahwa kasih sayang Allah tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang makhluk mana pun. Orang tua bisa saja salah mengambil keputusan karena keterbatasan ilmu. Mereka mencintai anaknya, tetapi tidak mengetahui masa depan anak tersebut. Allah mencintai hamba-Nya dengan ilmu yang sempurna, hikmah yang sempurna, dan rahmat yang sempurna.
Dalam sejarah para nabi, kita menyaksikan bagaimana kasih sayang Allah sering kali hadir dalam bentuk ujian.
dibuang ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya. Jika dilihat dengan mata manusia, peristiwa itu merupakan tragedi besar. Namun justru dari sumur itulah Allah memulai jalan yang akhirnya mengantarkan Yusuf menjadi penguasa Mesir dan menyelamatkan banyak manusia dari kelaparan.
dihanyutkan ke Sungai Nil sejak bayi. Bagi seorang ibu, itu adalah keputusan yang sangat berat. Namun Allah menjadikan sungai itu sebagai jalan keselamatan. Musa justru dibesarkan di istana musuhnya sendiri sehingga kelak mampu menjalankan misi besar membebaskan kaumnya.
Begitu pula yang dibakar hidup-hidup oleh kaumnya. Api yang seharusnya membinasakan justru menjadi dingin dan menyelamatkannya atas perintah Allah.
Sejarah mengajarkan bahwa apa yang tampak sebagai musibah sering kali menjadi awal pertolongan Allah.
Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa orang yang mengenal Allah akan selalu husnuzan (berbaik sangka) kepada-Nya. Ia percaya bahwa setiap ketetapan Allah mengandung kasih sayang, meskipun terasa pahit. Sebaliknya, orang yang tidak mengenal Allah akan mudah menyalahkan takdir, mengeluh, bahkan mempertanyakan keadilan Allah ketika menghadapi kesulitan.
Dalam kehidupan modern, pelajaran ini menjadi semakin relevan. Banyak orang merasa gagal karena tidak diterima bekerja, padahal beberapa bulan kemudian Allah membukakan pekerjaan yang lebih baik. Ada yang gagal menikah dengan seseorang yang sangat dicintai, tetapi kemudian dipertemukan dengan pasangan yang jauh lebih saleh dan membawa kebahagiaan. Ada yang kehilangan harta karena musibah, namun peristiwa itu justru membuatnya lebih dekat kepada Allah dan menemukan ketenangan yang selama ini tidak pernah dirasakan.
Sering kali manusia baru memahami hikmah takdir setelah bertahun-tahun berlalu. Ketika melihat ke belakang, ia berkata, “Ternyata Allah telah memilihkan yang terbaik.”
Allah berfirman: “Dan barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya, dan Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” QS. At-Talaq ayat 2–3.
Ayat ini bukan sekadar janji tentang rezeki materi. Jalan keluar yang Allah berikan bisa berupa ketenangan hati, kemudahan urusan, perlindungan dari bahaya yang tidak kita sadari, atau dipertemukan dengan orang-orang baik yang menjadi sebab datangnya pertolongan.
Karena itu, seorang mukmin tidak hanya beribadah ketika memperoleh nikmat, tetapi juga tetap bersyukur ketika menghadapi ujian. Ia memahami bahwa kasih sayang Allah terkadang hadir dalam bentuk yang tidak sesuai dengan keinginan manusia.
pernah berkata bahwa tidaklah ia tertimpa musibah kecuali ia melihat tiga nikmat di dalamnya: musibah itu tidak mengenai agamanya, musibah itu tidak lebih besar daripada yang terjadi, dan Allah menjanjikan pahala bagi orang yang bersabar.
Pandangan seperti inilah yang melahirkan ketenangan batin. Dunia boleh berubah, ekonomi bisa sulit, pekerjaan dapat hilang, kesehatan dapat menurun, bahkan orang-orang yang kita cintai bisa pergi meninggalkan kita. Namun kasih sayang Allah tidak pernah berkurang sedikit pun.
Sesungguhnya Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya. Setiap ketetapan-Nya selalu berada dalam bingkai rahmat dan hikmah. Tugas manusia bukan memahami seluruh rahasia takdir, melainkan beriman kepada Allah, berusaha sebaik mungkin, bersabar ketika diuji, bersyukur ketika diberi nikmat, dan bertawakal atas seluruh hasilnya.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang mengenal-Nya dengan benar, mencintai-Nya dengan sepenuh hati, selalu berbaik sangka kepada seluruh ketetapan-Nya, serta yakin bahwa kasih sayang Allah jauh lebih besar daripada kasih sayang ayah, ibu, keluarga, dan seluruh makhluk di dunia ini.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.






