El Nino 2026 Mengancam Ketahanan Pangan Nasional: Alarm Bahaya bagi Jutaan Petani Indonesia

JAKARTA – Ancaman fenomena El Nino yang diperkirakan menguat pada paruh kedua hingga akhir tahun 2026 mulai memunculkan kekhawatiran serius terhadap sektor pertanian nasional.

Peringatan yang disampaikan para ilmuwan iklim kini tidak lagi dipandang sebagai prediksi akademis semata, melainkan sebagai ancaman nyata yang berpotensi mengganggu ketahanan pangan Indonesia.

Bacaan Lainnya

Anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan, mengingatkan bahwa pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan tidak boleh mengabaikan tanda-tanda menguatnya El Nino. Menurutnya, jutaan petani Indonesia berada di garis depan menghadapi risiko kekeringan yang dapat berdampak langsung terhadap produksi pangan nasional.

“Sinyal El Nino berpotensi menjadi kategori kuat hingga sangat kuat pada paruh kedua 2026 bukan sekadar peringatan ilmiah. Ini adalah alarm nyata bagi jutaan petani kita yang menggantungkan hidup pada ketersediaan air,” tegas Daniel Johan.

Mengingat Luka Lama Krisis Kekeringan

Peringatan tersebut mengingatkan kembali pada peristiwa El Nino besar tahun 1997–1998 yang menyebabkan kekeringan berkepanjangan di berbagai daerah Indonesia. Saat itu ribuan hektare lahan pertanian mengalami gagal panen, produksi pangan menurun drastis, dan banyak petani mengalami kerugian ekonomi yang besar.

Daniel menilai pengalaman pahit tersebut seharusnya menjadi pelajaran penting agar pemerintah tidak terlambat mengambil langkah mitigasi.

“Kita tidak ingin kejadian seperti yang lampau terulang tanpa persiapan yang memadai,” ujarnya.

Sejumlah pengamat pertanian menilai bahwa ancaman kali ini bahkan lebih kompleks karena terjadi di tengah meningkatnya kebutuhan pangan nasional, perubahan iklim global, serta tekanan terhadap ketersediaan sumber daya air.

Infrastruktur Air Masih Menjadi Persoalan

Hasil pemantauan di sejumlah sentra pertanian menunjukkan bahwa persoalan utama yang terus berulang saat musim kemarau adalah keterbatasan infrastruktur penyimpanan dan distribusi air. Banyak wilayah pertanian masih sangat bergantung pada curah hujan dan belum memiliki sistem irigasi yang memadai.

Karena itu Daniel mendorong langkah konkret berupa percepatan pembangunan embung desa, sumur bor, serta sumur dalam di kawasan pertanian rawan kekeringan.

“Percepatan pembangunan embung di tingkat desa dengan dukungan sumur dalam, dan penyesuaian pola tanam berbasis prakiraan BMKG,” katanya.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur air tidak boleh hanya bersifat proyek tahunan, melainkan harus menjadi bagian dari strategi nasional menghadapi perubahan iklim yang semakin ekstrem.

Ancaman Gagal Panen dan Serangan Hama

Selain kekurangan air, El Nino juga berpotensi memicu ledakan serangan organisme pengganggu tanaman. Kondisi cuaca panas dan kering sering kali menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan berbagai jenis hama dan penyakit tanaman.

Para petani di sejumlah daerah mengaku bahwa saat musim kemarau panjang, biaya produksi meningkat karena kebutuhan pestisida bertambah sementara hasil panen justru menurun.

Daniel mengingatkan bahwa pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipatif sejak dini agar petani tidak menghadapi kerugian berlipat akibat kekeringan dan serangan hama secara bersamaan.

Mengapa Air Hujan Masih Banyak Terbuang?

Salah satu sorotan utama dalam peringatan Daniel adalah belum optimalnya pengelolaan sumber daya air nasional. Indonesia memiliki curah hujan yang relatif tinggi, namun sebagian besar air hujan masih mengalir langsung ke sungai dan laut tanpa sempat dimanfaatkan secara maksimal.

Menurut Daniel, pendekatan pengelolaan air harus berubah dari sekadar respons terhadap bencana menjadi sistem yang berbasis siklus iklim.

“Air hujan dengan menyiapkan embung sehingga saat terjadi El Nino dapat dimanfaatkan untuk meminimalisir kekeringan,” tegasnya.

Pakar tata air menilai bahwa kapasitas tampung air nasional masih jauh dari kebutuhan ideal, sehingga saat musim hujan terjadi banjir, sementara ketika kemarau datang masyarakat mengalami kekurangan air.

Teknologi Ada, Kemauan Politik yang Dipertanyakan

Di tengah perkembangan teknologi informasi dan data iklim yang semakin maju, Daniel menilai Indonesia sebenarnya telah memiliki modal yang cukup untuk melakukan mitigasi sejak dini.

Data prakiraan cuaca, pemetaan wilayah rawan kekeringan, hingga sistem pemantauan sumber daya air sudah tersedia. Namun persoalannya terletak pada implementasi dan koordinasi lintas sektor.

“Kita punya prakiraan, kita punya teknologi, yang dibutuhkan hanyalah political will untuk memastikan air hujan tidak mengalir sia-sia ke laut, melainkan tersimpan untuk mengairi sawah di bulan-bulan terkering,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut menjadi kritik sekaligus dorongan agar kebijakan pengelolaan air tidak berhenti pada tataran perencanaan.

Koordinasi Nasional Jadi Kunci

Ancaman El Nino tidak hanya menjadi tanggung jawab Kementerian Pertanian semata. Penanganannya membutuhkan sinergi berbagai kementerian dan lembaga, mulai dari pengelolaan sumber daya air, pembangunan infrastruktur, penyediaan benih tahan kekeringan, hingga perlindungan petani.

Daniel menegaskan bahwa koordinasi nasional harus segera diperkuat sebelum dampak El Nino mencapai puncaknya.

“Sehingga tidak berdampak signifikan terhadap petani dan pangan nasional,” katanya.

Jika langkah mitigasi dilakukan sejak sekarang, Indonesia masih memiliki peluang besar untuk menjaga stabilitas produksi pangan nasional. Namun apabila peringatan para ilmuwan kembali diabaikan, ancaman kekeringan yang datang pada akhir 2026 berpotensi berubah menjadi krisis pangan yang dirasakan langsung oleh masyarakat luas.

El Nino Bukan Ancaman Masa Depan, tetapi Ancaman Hari Ini

Fenomena El Nino yang diperkirakan menguat pada 2026 menjadi ujian bagi kesiapan pemerintah dalam melindungi sektor pertanian nasional. Peringatan yang disampaikan para ahli dan wakil rakyat menunjukkan bahwa ancaman tersebut bukan lagi sekadar prediksi ilmiah, melainkan risiko nyata yang membutuhkan tindakan segera.

Bagi jutaan petani Indonesia, keberhasilan menghadapi El Nino bukan hanya soal cuaca, melainkan soal keberlangsungan hidup, stabilitas ekonomi keluarga, dan masa depan ketahanan pangan bangsa. :::

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *