GIANYAR – Anggota DPR RI asal Dapil Bali dari Fraksi PDI Perjuangan I Nyoman Parta mengajak masyarakat Bali melakukan perenungan mendalam di momentum suci Tumpek Wariga.
Menurut Parta, ritual yadnya yang diwariskan leluhur Bali sejatinya bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan bentuk kesadaran spiritual manusia Bali dalam memandang alam sebagai bagian dari dirinya sendiri.
Dalam catatan reflektif yang diunggah melalui akun Instagram pribadinya menjelang dini hari dari Guwang, Gianyar, I Nyoman Parta menilai para leluhur Bali sesungguhnya telah mewariskan konsep konservasi alam jauh sebelum istilah modern tentang lingkungan hidup dikenal dunia.
“Para tetua Bali mungkin tidak mengenyam pendidikan formal modern, tetapi mereka memiliki kecerdasan spiritual luar biasa. Mereka memahami bahwa manusia tidak terpisah dari pohon, tanah, air, gunung, dan seluruh semesta kehidupan,” ujar Parta.
Ia menjelaskan, sebelum agama Bali dikenal dengan nama Hindu seperti sekarang, orientasi spiritual masyarakat Bali berpusat pada penghormatan terhadap leluhur dan kehidupan semesta, mulai dari danau, gunung, laut, pohon, sungai hingga seluruh makhluk hidup.
Karena itu, lanjutnya, berbagai rerainan Tumpek sesungguhnya merupakan pengingat bahwa segala sesuatu yang memberi kehidupan harus dihormati melalui persembahan dan rasa terima kasih.
“Konsep Sarwa Idham Khalu Brahman mengajarkan bahwa semua yang ada adalah manifestasi Tuhan. Dalam pemahaman lebih dalam, ini adalah kesadaran tentang tidak terpisahnya Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit, antara makrokosmos dan mikrokosmos,” jelasnya.
Namun di tengah suasana sakral Tumpek Wariga, Parta mengaku merasa Bali sedang menghadapi paradoks besar. Di satu sisi masyarakat terus mendengungkan filosofi Tri Hita Karana, tetapi di sisi lain justru semakin menjauh dari semangat menjaga harmoni dengan alam.
Ia menyoroti semakin banyak halaman rumah di Bali yang tertutup semen, paving dan batu sikat, sementara pohon peneduh serta ruang terbuka hijau terus menyusut.
“Kita seperti bergerak menuju Bali yang semakin rapi secara visual, tetapi semakin panas dan kehilangan keteduhan,” katanya.
Politisi PDIP itu juga menyinggung kerusakan lingkungan yang semakin nyata, mulai dari penebangan pohon, kerusakan hutan, pencemaran sungai hingga perilaku membuang sampah sembarangan yang menurutnya menunjukkan mulai hilangnya kesadaran spiritual manusia Bali terhadap alam.
Menurutnya, Tri Hita Karana tidak cukup hanya menjadi slogan indah dalam seminar atau promosi pariwisata, melainkan harus hadir dalam cara masyarakat membangun rumah, menata desa, menjaga sungai, merawat pohon dan memberi ruang bagi tanah untuk tetap bernapas.
“Tumpek Wariga harus dimaknai ulang sebagai gerakan budaya untuk menjaga rasa teduh Bali. Dan keteduhan bukan hanya soal suhu udara, tetapi juga suasana batin manusia Bali yang menyatu dengan pohon, tanah, air dan langit,” tegasnya.
I Nyoman Parta menilai Bali tetap harus berkembang dan modern, namun modernitas tanpa kesadaran ekologis hanya akan membuat Pulau Dewata kehilangan jiwanya sendiri.
Karena itu, ia mengajak generasi muda, kaum cerdik pandai dan seluruh masyarakat Bali menjadikan kembali pohon sebagai bagian penting dari identitas Bali modern.
“Menanam dan merawat pohon tidak boleh lagi dianggap kegiatan seremonial tahunan. Ia harus menjadi gerakan budaya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Menutup refleksinya, Parta mengingatkan bahwa tantangan terbesar Bali ke depan adalah menjaga pulau ini tetap menjadi tempat yang teduh bagi manusia, alam dan generasi mendatang.
“Astungkara, Bali tetap menjadi pulau yang hidup bersama alamnya, bukan pulau yang kehilangan jiwanya sendiri,” tutupnya.






