JAKARTA – Polemik yang mencuat terkait pernyataan mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) menuai berbagai tanggapan dari sejumlah pihak. Namun, Sekretaris Jenderal Pemuda LIRA Habibie Mahabbah meminta perdebatan tersebut segera dihentikan dan tidak perlu diperpanjang di ruang publik.
Menurut Habibie, polemik yang berkembang saat ini tidak memiliki urgensi yang signifikan jika dibandingkan dengan berbagai persoalan besar yang tengah dihadapi bangsa Indonesia.
“Saya miris melihat perdebatan di sejumlah media terkait statemen Pak Jusuf Kalla. Karena coba perhatikan, kita lebih fokus dan terlihat energi terkuras besar di situ. Kenapa kita tidak kurasa energi bangsa ini pada hal-hal kemajuan bangsa ini. Kita masih serba tertinggal dari negara-lain? Dan kita tak fokus persiapkan generasi emas di tahun 2045 mendatang?,” tanya Habibie kepada wartawan, Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Polemik Dinilai Tidak Produktif
Habibie menyayangkan, energi bangsa terkuras yang seharusnya diarahkan untuk menyelesaikan persoalan fundamental, seperti kemiskinan, sulitnya lapangan pekerjaan, serta ketimpangan sosial yang masih menjadi tantangan nyata.
“Urusan itu tidak penting. Masih banyak urusan bangsa yang perlu energi besar untuk diselesaikan. Negara ini besar, problemnya juga besar, mulai dari kemiskinan, susahnya mendapatkan lapangan kerja, hingga ketimpangan sosial,” ujar Habibie..
Ia menilai, pernyataan yang disampaikan oleh Jusuf Kalla sebenarnya bukan hal baru dan telah lama disampaikan dalam berbagai kesempatan tanpa menimbulkan polemik berarti.
“Konten yang disampaikan oleh JK itu sudah berlangsung sejak lama, situasinya juga sudah kondusif dan tidak pernah diperdebatkan lagi sebelumnya,” tambahnya.
Imbauan untuk Menahan Diri di Ruang Publik
Habibie juga mengingatkan seluruh elemen bangsa, khususnya pejabat publik dan figur publik, agar lebih berhati-hati dalam menyampaikan pendapat di ruang publik, terlebih jika menyangkut isu-isu sensitif.
Habibie menekankan pentingnya kebijaksanaan dalam berkomunikasi agar tidak memicu polemik yang tidak perlu.
“Kalau memang sensitif, sebaiknya ditahan. Jangan sampai pernyataan yang sebenarnya tidak perlu justru menimbulkan kegaduhan,” ujarnya.
Habibie yang juga pernah menjabat sebagai Bendahara Umum PB HMI dan Wakil Sekretaris Jenderal DPP KNPI itu menilai, ruang publik harus diisi dengan diskursus yang produktif dan membangun.
Momen Halal Bihalal Jadi Jalan Penyelesaian
Dalam konteks saat ini yang masih berada dalam suasana Idulfitri, Habibie menyarankan agar polemik tersebut diselesaikan dengan pendekatan yang lebih bijak dan menyejukkan.
“Kalau memang diperlukan, tidak ada salahnya Pak JK menyampaikan klarifikasi atau bahkan permintaan maaf. Ini masih momen Halal Bihalal, saling memaafkan adalah hal yang baik,” ujarnya.
Meski demikian, ia kembali menekankan bahwa polemik ini tidak perlu dibesar-besarkan. “Tak perlu dibesar-besarkan, kita sudah biasa berdiskusi seperti itu. Dan itu ciri Indonesia kita yang majemuk,” terang Habibie.
Jangan Ganggu Fokus pada Tantangan Global
Habibie yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Persigawa serta Founder Sahabat Yatim Al Mahabbah menyoroti pentingnya menjaga fokus nasional di tengah dinamika global, termasuk dampak ketegangan geopolitik seperti konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Ia mengingatkan, konflik global berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi, terutama sektor energi, yang berdampak langsung kepada masyarakat Indonesia.
“Jangan sampai polemik seperti ini justru mengganggu konsentrasi kita dalam mempersiapkan langkah menghadapi dampak global, termasuk potensi krisis energi akibat konflik internasional,” tegasnya.
Dorong Indonesia Siap Hadapi Krisis Energi
Habibie menilai pemerintah Indonesia telah memiliki sejumlah langkah strategis untuk menghadapi potensi krisis energi, mulai dari diversifikasi energi hingga penguatan cadangan nasional.
Menurut Habibie, langkah-langkah tersebut harus terus diperkuat agar Indonesia mampu menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Ia juga menyoroti pentingnya percepatan transisi energi serta pemanfaatan energi terbarukan sebagai solusi jangka panjang.
“Hal-hal stayegis seperti itu yang perlu kita bahas dan dari sekarang kita siapkan arah bangsa menuju persaingan global dengan menyiapkan kualitas SDM yang dimiliki,” ungkap Habibie.
Fokus pada Daya Saing Digital
Lebih jauh, Habibie mengajak seluruh elemen bangsa untuk lebih fokus pada upaya meningkatkan daya saing Indonesia di era digital.
“Daripada memperdebatkan hal-hal yang tidak produktif, alangka lebih baiknya kita fokus bagaimana Indonesia bisa bersaing di dunia internasional era digital saat ini,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan ekonomi digital, serta dukungan terhadap inovasi teknologi sebagai kunci masa depan bangsa.
Penutup: Jangan Habiskan Energi untuk Hal Sepele
Di akhir pernyataannya, Habibie kembali mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak dalam polemik yang menguras energi tanpa memberikan dampak positif.
“Jangan sampai urusan remeh temeh seperti ini membuat kita kehabisan waktu dan energi positif untuk mengurus hal-hal yang sebenarnya jauh lebih penting,” pungkasnya.
Dengan seruan tersebut, Pemuda LIRA berharap seluruh pihak dapat menahan diri dan mengalihkan perhatian pada agenda besar pembangunan nasional demi kemajuan Indonesia.






