Program Magang Harus Link and Match dengan Kebutuhan Dunia Kerja

JAKARTA: BELA RAKYAT –  Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, menegaskan pentingnya pembenahan program magang nasional agar benar-benar selaras dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Menurutnya, program magang tidak boleh hanya menjadi kegiatan formalitas, tetapi harus mampu menjadi jembatan yang menghubungkan lulusan sekolah maupun perguruan tinggi dengan peluang kerja yang tersedia di berbagai sektor.

Pernyataan tersebut disampaikan Edy usai evaluasi yang dilakukan Komisi IX DPR RI terhadap pelaksanaan program magang. Berdasarkan hasil evaluasi, sekitar 40 persen peserta magang masih ditempatkan di sektor pemerintahan. Kondisi tersebut dinilai belum optimal karena ruang penyerapan tenaga kerja di instansi pemerintah relatif terbatas dibandingkan dengan sektor industri dan dunia usaha.

Bacaan Lainnya

Edy menjelaskan bahwa orientasi program magang seharusnya lebih banyak diarahkan ke perusahaan, kawasan industri, serta sektor-sektor produktif yang memang membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan tertentu. Dengan demikian, peserta magang tidak hanya memperoleh pengalaman kerja, tetapi juga memiliki peluang lebih besar untuk direkrut sebagai tenaga kerja setelah menyelesaikan program tersebut.

Ia menekankan bahwa Kementerian Ketenagakerjaan perlu memperkuat konsep link and match melalui pemetaan kebutuhan kompetensi di berbagai sektor industri. Langkah tersebut penting agar materi pelatihan, kurikulum magang, hingga sertifikasi yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan pasar kerja yang terus berkembang.

Menurut Edy, Kemnaker memiliki peran strategis sebagai penghubung antara lulusan pendidikan dengan dunia kerja. Melalui koordinasi yang baik bersama dunia usaha, pemerintah dapat memastikan bahwa kompetensi yang dimiliki para pencari kerja sejalan dengan kebutuhan perusahaan sehingga dapat mengurangi kesenjangan antara pendidikan dan lapangan kerja.

Selain menyoroti program magang, Edy juga memberikan perhatian terhadap pelaksanaan program SMK Go Global. Program tersebut dinilai memiliki potensi besar dalam mempersiapkan tenaga kerja Indonesia untuk memasuki pasar kerja internasional yang membutuhkan tenaga kerja terampil.

Ia mengatakan peningkatan kemampuan bahasa asing harus menjadi prioritas agar lulusan memiliki daya saing di negara tujuan penempatan kerja. Di samping itu, peningkatan kompetensi teknis sesuai bidang keahlian serta penguatan sertifikasi profesi yang diakui secara nasional maupun internasional juga perlu terus dilakukan.

Edy menyebut sejumlah negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Jerman masih membutuhkan tenaga kerja dari Indonesia di berbagai sektor. Oleh karena itu, program SMK Go Global harus mampu menjawab kebutuhan tersebut dengan menyiapkan lulusan yang memiliki kemampuan bahasa, keterampilan teknis, serta sertifikasi yang sesuai dengan standar industri di negara tujuan.

Menurutnya, penguatan program magang dan SMK Go Global merupakan bagian dari strategi peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Dengan SDM yang kompeten dan sesuai kebutuhan pasar kerja, peluang penyerapan tenaga kerja akan semakin besar, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Ia berharap pemerintah terus memperluas kerja sama dengan dunia industri, asosiasi usaha, lembaga pendidikan, serta mitra internasional agar program pengembangan kompetensi tenaga kerja dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

Melalui sinergi tersebut, program magang diharapkan tidak hanya menghasilkan pengalaman kerja bagi peserta, tetapi juga membuka kesempatan kerja yang nyata.

Sementara itu, penguatan SMK Go Global diharapkan mampu mencetak tenaga kerja Indonesia yang berdaya saing tinggi, profesional, dan siap memenuhi kebutuhan industri global, sehingga mampu berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas nasional serta pengurangan angka pengangguran di Indonesia.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *