Jangan Hanya Membesarkan Angka Ekonomi, Besarkan Juga Pengusaha dan Perusahaan Bulukumba
Oleh: Syafruddin Mualla, CEO Mualla Group dan Wakil Ketua Umum KADIN Sulawesi Selatan
Ada satu pertanyaan yang harus semakin sering kita ajukan ketika membicarakan masa depan ekonomi Bulukumba:
Ketika ekonomi kita semakin besar, apakah pengusaha dan perusahaan di daerah ini juga semakin kuat?
Pertanyaan ini penting karena keberhasilan ekonomi daerah tidak cukup diukur dari besarnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), banyaknya proyek pembangunan, atau ramainya aktivitas perdagangan.
Ukuran yang lebih penting adalah apakah pertumbuhan ekonomi melahirkan lebih banyak perusahaan, investasi yang produktif, pekerjaan yang lebih baik, serta semakin banyak nilai tambah yang tinggal dan berkembang di Bulukumba.
Data BPS menunjukkan perekonomian Bulukumba terus bertumbuh. Publikasi PDRB Kabupaten Bulukumba 2021–2025 telah diterbitkan BPS pada 2026 dan menyajikan perkembangan ekonomi daerah berdasarkan harga berlaku maupun harga konstan.
Angka pertumbuhan ekonomi tentu penting. Tetapi bagi saya, angka tersebut bukan sekadar sesuatu yang harus dibanggakan.
Ia harus menjadi pertanyaan. Seberapa besar pertumbuhan itu melahirkan perusahaan baru? Seberapa banyak pengusaha lokal yang naik kelas? Seberapa banyak investasi masuk ke sektor produktif? Seberapa banyak pekerjaan produktif tercipta? Dan seberapa besar nilai tambah yang benar-benar tinggal di Bulukumba?
Ratusan Ribu Orang Bergantung pada Ekonomi
Kita bisa melihat pentingnya dunia usaha dari sisi ketenagakerjaan.
BPS mencatat, pada Agustus 2025 terdapat 269.762 orang dalam angkatan kerja Bulukumba. Dari jumlah tersebut, 264.045 orang telah bekerja. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja mencapai 75,16 persen, sementara Tingkat Pengangguran Terbuka berada pada 2,12 persen.
Struktur penyerapan tenaga kerja juga memberikan pesan penting. Sektor pertanian menjadi penyerap terbesar dengan 131.724 pekerja, disusul sektor jasa sebanyak 99.024 pekerja, dan industri sebanyak 33.297 pekerja.
Artinya, ekonomi Bulukumba sudah menghidupi ratusan ribu orang. Namun, kita tidak boleh berhenti pada pertanyaan apakah masyarakat sudah bekerja.
Kita juga harus bertanya: Apakah pekerjaan tersebut semakin produktif? Apakah pendapatan masyarakat meningkat? Apakah semakin banyak pekerjaan tercipta di sektor pengolahan? Apakah bahan baku lokal semakin banyak diubah menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi?
Di sinilah pentingnya perusahaan. Perusahaan bukan sekadar tempat orang bekerja. Perusahaan adalah instrumen untuk mengubah modal, teknologi, sumber daya manusia dan bahan baku menjadi produksi, nilai tambah dan pendapatan.
Karena itu, jika kita ingin meningkatkan kesejahteraan masyarakat, kita membutuhkan lebih banyak perusahaan yang tumbuh dan mampu menciptakan pekerjaan produktif.
Bulukumba Tidak Kekurangan Orang yang Berusaha
Bulukumba tidak kekurangan orang yang mau bekerja keras. Kita memiliki pedagang, petani, nelayan, pelaku UMKM, kontraktor, pemilik toko, pengusaha kuliner, penyedia jasa, industri rumah tangga dan berbagai usaha keluarga.
Persoalannya bukan semata-mata kurangnya orang yang berusaha. Persoalannya adalah belum cukup banyak usaha yang tumbuh menjadi bisnis, dan belum cukup banyak bisnis yang berkembang menjadi perusahaan.
Padahal, ekonomi yang kuat membutuhkan skala. UMKM penting. Pedagang penting. Usaha mikro penting.
Tetapi kita tidak boleh berhenti di sana. Usaha yang sudah memiliki pasar harus diberi ruang untuk berkembang, meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat manajemen, memperluas pasar, menambah tenaga kerja dan akhirnya menjadi perusahaan.
Sebab ketika sebuah usaha tumbuh menjadi perusahaan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pemiliknya.
Perusahaan membutuhkan tenaga kerja, bahan baku, transportasi, kontraktor, pemasok, teknologi, jasa keuangan dan berbagai layanan pendukung lainnya.
Satu perusahaan yang tumbuh dapat menciptakan rantai ekonomi baru di sekitarnya.
Karena itu, agenda kita bukan sekadar menambah jumlah usaha. Kita harus membesarkan usaha yang sudah ada.
Jangan Biarkan Pengusaha Berjuang Sendiri
Sering kali keberhasilan pengusaha hanya dilihat dari keberanian dan kerja keras.
Tentu keduanya penting. Tetapi bisnis tidak tumbuh di ruang kosong.
Pengusaha membutuhkan infrastruktur, listrik, internet, pembiayaan, tenaga kerja terampil, kepastian hukum, perizinan yang cepat, akses pasar, teknologi dan informasi.
Pengusaha yang ingin membangun pabrik membutuhkan kepastian lahan dan perizinan. Yang ingin memperbesar usaha membutuhkan pembiayaan. Yang ingin menjadi pemasok industri membutuhkan kualitas dan kapasitas produksi yang konsisten.Yang ingin memperluas pasar membutuhkan logistik yang kompetitif.
Karena itu, kita tidak cukup mengatakan kepada pengusaha: “Silakan berkembang.”
Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apakah ekosistemnya sudah memungkinkan mereka berkembang?”
Pemerintah tidak harus menjadi pelaku bisnis. Tetapi pemerintah harus menjadi pembuka jalan bagi dunia usaha.
Tugas pemerintah adalah menciptakan kepastian, menyederhanakan regulasi, mempercepat pelayanan, menyediakan infrastruktur dan membuka ruang investasi.
Sementara dunia usaha harus menjawabnya dengan keberanian mengambil risiko, meningkatkan produktivitas, menciptakan lapangan kerja dan membangun perusahaan yang sehat.
Jadi, ini bukan soal siapa yang paling bertanggung jawab. Ini soal bagaimana pemerintah dan dunia usaha menjalankan tanggung jawabnya masing-masing untuk mencapai tujuan yang sama.
Fondasi Kolaborasi Itu Sudah Ada
Kabar baiknya, Bulukumba sebenarnya sudah memiliki fondasi untuk membangun kolaborasi tersebut.
Pada 4 Mei 2026, Pemerintah Kabupaten Bulukumba, KADIN Kabupaten Bulukumba dan PT Pinisi Citra Bulukumba (Perseroda) menandatangani Kesepakatan Bersama atau MoU untuk memperkuat sinergi pengembangan ekonomi daerah dan investasi. Penandatanganan berlangsung di halaman Kantor Bupati Bulukumba.
Kesepakatan tersebut ditandatangani oleh Bupati Bulukumba Muchtar Ali Yusuf, Ketua KADIN Bulukumba Syafruddin Mualla, dan Direktur Utama PT Pinisi Citra Bulukumba (Perseroda) Zulkifli Saiye.
Ruang lingkup kerja samanya cukup luas, mulai dari pengembangan pariwisata, pertanian, perikanan dan industri hingga pemberdayaan UMKM dan pelaku usaha lokal, fasilitasi investasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengelolaan aset daerah serta kolaborasi dengan BUMN dan perusahaan dalam maupun luar negeri.
Bagi saya, ini adalah fondasi penting. Tetapi kita harus jujur mengatakan: MoU bukan tujuan akhir. MoU adalah titik awal.
Kesepakatan harus berubah menjadi program. Program harus berubah menjadi proyek. Proyek harus berubah menjadi investasi.
Investasi harus menghasilkan produksi. Produksi harus menciptakan lapangan kerja.
Dan seluruh rangkaian tersebut harus menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat.
Karena itu, setelah MoU ditandatangani, pekerjaan yang lebih penting justru dimulai. Harus ada pipeline investasi yang jelas.
Harus ada proyek yang siap ditawarkan kepada investor. Harus ada sektor prioritas.
Harus ada pengusaha lokal yang dipersiapkan menjadi mitra. Harus ada UMKM yang masuk ke rantai pasok.
Dan harus ada perusahaan lokal yang tumbuh dari peluang tersebut. Ekonomi tidak tumbuh karena MoU. Ekonomi tumbuh ketika MoU menghasilkan investasi, produksi, transaksi, perusahaan, lapangan kerja dan pendapatan masyarakat.
Investasi Harus Menghidupkan Ekonomi Lokal
Bulukumba harus terus terbuka terhadap investasi. Kita membutuhkan modal dari luar maupun dari dalam daerah untuk memperbesar kapasitas ekonomi.
Namun, cara kita mengukur investasi harus mulai diperluas. Jangan hanya bertanya: “Berapa rupiah investasi yang masuk?”
Kita juga harus bertanya: “Apa yang terjadi setelah investasi itu masuk?”
Berapa tenaga kerja lokal yang terserap? Berapa perusahaan lokal yang menjadi pemasok? Berapa UMKM yang masuk dalam rantai pasok?
Dan berapa komoditas lokal yang diserap? Berapa banyak produk yang diolah di Bulukumba? Berapa besar nilai tambah yang akhirnya tinggal di daerah?
Inilah yang membedakan investasi biasa dengan investasi yang benar-benar membangun ekonomi daerah.
Ketika perusahaan besar masuk, harus muncul peluang bagi kontraktor lokal, pemasok lokal, distributor, transportasi, kuliner, penginapan, jasa profesional hingga berbagai usaha pendukung lainnya.
Investor besar harus menjadi lokomotif bagi ekonomi lokal, bukan pulau ekonomi yang berdiri sendiri.
UMKM Penting, Tetapi Jangan Berhenti di UMKM
Dalam ekosistem tersebut, UMKM tetap mempunyai posisi yang sangat penting.
Kita tidak boleh mempertentangkan UMKM dengan perusahaan. Justru keduanya harus saling menguatkan.
UMKM dapat menjadi pemasok perusahaan. Perusahaan dapat menjadi pasar bagi UMKM. Investor membutuhkan perusahaan lokal. Perusahaan lokal membutuhkan UMKM.
Pemerintah membangun ekosistem yang menghubungkan semuanya. Karena itu, agenda kita bukan sekadar mencetak UMKM baru.
Kita harus membesarkan UMKM yang sudah memiliki potensi. Usaha yang sudah memiliki pasar harus ditingkatkan kapasitasnya.
Usaha yang memiliki produk bagus harus dibantu memperluas distribusinya.
Usaha yang sudah stabil harus didorong membangun manajemen, pembukuan, legalitas dan akses pembiayaan.
Kita harus membuka jalan: UMKM → Bisnis → Perusahaan → Industri.
Jika satu usaha berhasil melewati tahapan tersebut, kita bukan hanya menciptakan seorang pengusaha. Kita sedang membangun aset ekonomi Bulukumba.
Pengusaha Lokal Juga Harus Berani Naik Kelas
Namun, membangun ekosistem bukan berarti seluruh tanggung jawab berada di pemerintah.
Pengusaha juga harus berubah. Kita tidak bisa meminta pemerintah membuka pasar sementara kualitas produk belum siap.
Kita tidak bisa meminta pembiayaan jika pembukuan usaha tidak tertib. Kita tidak bisa berharap menjadi pemasok industri jika kapasitas produksi tidak konsisten.
Pengusaha Bulukumba harus berani naik kelas. Berani membangun sistem. Berani menggunakan teknologi. Berani memperkuat modal. Berani meningkatkan kualitas SDM. Berani mencari pasar di luar daerah. Berani membangun kemitraan.
Dan yang paling penting: Berani membangun perusahaan.
Kita harus berhenti berpikir bahwa bisnis besar hanya bisa lahir dari kota besar. Perusahaan besar juga bisa lahir dari Bulukumba. Tetapi untuk itu, kita membutuhkan keberanian untuk berpikir dalam skala yang lebih besar.
Dari PDRB Menjadi Kekayaan Masyarakat
PDRB harus kita lihat sebagai potensi sekaligus tantangan. Ekonomi boleh tumbuh.
Tetapi pertumbuhan itu harus diterjemahkan menjadi pekerjaan yang lebih produktif, pendapatan yang lebih tinggi, perusahaan yang lebih kuat dan aset masyarakat yang semakin besar.
Sebab PDRB yang besar tidak otomatis berarti seluruh masyarakat sudah sejahtera.
Pertumbuhan ekonomi harus diikuti peningkatan produktivitas. Dan peningkatan produktivitas membutuhkan perusahaan, investasi, teknologi, keterampilan dan industri pengolahan.
Karena itu, kita harus membangun rantai ekonomi yang lebih kuat: Potensi → Investasi → Perusahaan → Produksi → Rantai Pasok → Lapangan Kerja → Pendapatan → Aset → Kesejahteraan.
Inilah kemandirian ekonomi. Kemandirian bukan berarti Bulukumba menutup pintu terhadap investor dari luar.
Sebaliknya, kita harus terbuka. Tetapi ketika modal dari luar masuk, kapasitas ekonomi dari dalam juga harus ikut tumbuh.
Investor masuk. Pengusaha lokal menjadi mitra. UMKM menjadi pemasok. Tenaga kerja lokal terserap.
Komoditas lokal diolah. Produk lokal masuk pasar yang lebih luas. Keuntungan diinvestasikan kembali. Maka modal berputar dan semakin banyak nilai tambah yang tinggal di Bulukumba.
Jangan Hanya Membesarkan Angka Ekonomi
Pada akhirnya, pembangunan ekonomi bukan pekerjaan pemerintah semata. Pemerintah membutuhkan dunia usaha.
Dunia usaha membutuhkan pemerintah. Investor membutuhkan kepastian.
Perusahaan membutuhkan tenaga kerja. UMKM membutuhkan pasar. Dan masyarakat membutuhkan pekerjaan serta pendapatan.
Semuanya harus bergerak sebagai satu ekosistem. Karena itu, saya percaya Bulukumba tidak kekurangan potensi.
Yang kita butuhkan adalah mesin ekonomi yang mampu mengubah potensi menjadi nilai tambah. Kita membutuhkan lebih banyak pengusaha yang naik kelas.
Lebih banyak perusahaan yang tumbuh. Lebih banyak investasi yang produktif. Lebih banyak industri pengolahan. Lebih banyak rantai pasok lokal.
Dan lebih banyak pekerjaan yang memberikan masa depan bagi masyarakat. Kita tidak cukup hanya mengejar PDRB yang semakin besar.
Kita harus mengejar ekonomi yang semakin produktif dan masyarakat yang semakin sejahtera. Pemerintah harus membuka jalan.
KADIN harus memperkuat konektivitas dunia usaha. Perseroda harus mampu menjadi instrumen bisnis daerah yang profesional dan produktif.
Investor harus membawa modal dan teknologi. UMKM harus naik kelas.
Dan pengusaha lokal harus berani menjadi pemilik sekaligus penggerak ekonomi daerah. Sebab tujuan akhir pembangunan bukan sekadar membuat angka ekonomi terlihat besar.
Tujuan akhirnya adalah membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik. Karena itu, jangan biarkan pengusaha Bulukumba berjuang sendiri.
Bangun ekosistemnya. Perkuat perusahaannya. Datangkan investasinya. Kembangkan industrinya. Hubungkan UMKM dengan rantai pasok. Ciptakan pekerjaan yang lebih produktif.
Dan pastikan semakin banyak nilai tambah yang lahir dari Bulukumba menjadi kekayaan yang tinggal dan berkembang di Bulukumba.
Sebab kemandirian ekonomi tidak lahir dari pemerintah yang bekerja sendiri. Ia lahir ketika pemerintah dan dunia usaha bergerak bersama—membangun perusahaan yang kuat, investasi yang produktif, industri yang tumbuh, dan masyarakat yang semakin sejahtera.






