Sekilas Dinamika Imperium Iran
Pada masa Nabi Muhammad Saw, imperium Persia dipegang oleh Dinasti Sasaniah, dengan nama Rajanya, Khusru II. Khusru II adalah salah satu kaisar Persia yang paling berkuasa. Pada masa pemerintahannya, Kekaisaran Persia mencapai puncak kejayaannya. Dia sempat menaklukkan wilayah Syam, bagian dari kekuasaan Roma (Bizantium). Ia bahkan mengklaim dirinya sebagai dewa dalam wujud manusia.
• Gelar/Julukan: Ia sering dijuluki Parviz atau Aparvez (Yang Selalu Berjaya).
• Identitas: Dia adalah raja Dinasti Sasaniah yang memerintah dengan kekuasaan besar (590-628 M) kemudian dikudeta oleh anaknya, dengan dukungan jenderal-jenderal yang berpengaruh.
• Asal-usul: Ia adalah putra dari Raja di Raja Iran, Hormizd IV dan cucu dari Khosrow I.
Pada malam tanggal 25 Februari, penjaga malam ibukota Sasanian Ctesiphon, yang biasanya meneriakkan nama Shah yang memerintah, meneriakkan nama Sheroe alias Shiruya sebagai gantinya, yang mengindikasikan kudeta sedang terjadi.
Khosrow II digulingkan oleh beberapa faksi kuat di dalam kekaisaran, yang meliputi; Shahrbaraz, yang mewakili keluarga Mihran; Wangsa Ispahbudhan yang diwakili oleh Farrukh Hormizd dan kedua putranya Rostam dan Farrukhzad; faksi Armenia yang diwakili oleh Varaztirots II Bagratuni; dan Kanarang. Faksi-faksi tersebut menempatkan putra Khosrow II, Shiruya sebagai Kavad II, di atas takhta, yang setelah itu, segera mengeksekusi ayahnya. Sejak itu, imperium Iran kehilangan stabilitasnya hingga berakhir pada masa Yazdegerd III, setelah ditaklukkan oleh Khalifah Umar bin Khattab.
****
Rasulullah SAW mengutus sahabatnya Abdullah bin Huzaifa dengan sebuah pesan kepada Khusru II. Surat Rasulullah SAW berbunyi sebagai berikut:
“Dengan Nama Allah, Yang Maha Pemurah, Yang Maha Penyayang. Dari Muhammad, Rasulullah kepada Khusru, raja Persia. Salam sejahtera bagi orang yang mengikuti petunjuk yang benar, beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa tanpa sekutu, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Aku mengajak kalian untuk menerima agama Allah. Aku adalah Rasulullah yang diutus kepada seluruh umat manusia (qawm) agar aku dapat menanamkan rasa takut kepada Allah pada setiap manusia, dan agar tuduhan terhadap orang-orang yang menolak Kebenaran dapat terbukti. Terimalah Islam sebagai agama kalian agar kalian dapat hidup dalam keamanan, jika tidak, kalian akan bertanggung jawab atas semua dosa kaum Majusi.”
Ketika Khusru II membaca surat Rasulullah, ia merobeknya menjadi beberapa bagian, seraya berkata: “Beraninya dia menulis surat seperti ini kepadaku padahal dia adalah budakku?” Kemudian Khusru II menulis surat kepada Bazan yang merupakan gubernur Yaman, sebuah provinsi Persia. Ia memerintahkan Bazan untuk mengirim dua tentara untuk menangkap Rasulullah dan membawanya ke Persia. Segera Bazan mengirim Abadhaweih, salah satu asistennya, dan seorang perwira Persia bernama Kharkharah, dengan surat perintah yang mengharuskan Rasulullah untuk menyerahkan diri kepada mereka dan pergi bersama mereka kepada Khusru. Namun, Bazan meminta asistennya untuk mencari tahu kebenaran tentang Rasulullah.
Abadhaweih dan sahabatnya melakukan perjalanan dari Yaman hingga tiba di Ta’if, sekitar 100 km dari Mekah. Penduduknya memberi tahu mereka bahwa Rasulullah sekarang berada di Madinah. Penduduk Ta’if saat itu bukanlah Muslim. Suku Quraisy senang ketika mengetahui Kaisar Persia telah memerintahkan penangkapan Muhammad karena merasa beliau sekarang menghadapi ujian terberatnya.
Dengan wajah bersih tanpa janggut tetapi berkumis lebat, kedua perwira dari Yaman itu datang menemui Rasulullah di Madinah. Abadhaweih berkata kepadanya:
“ Khusru, raja segala raja, telah menulis surat kepada Bazan, raja Yaman, memerintahkannya untuk mengirim kami membawamu kepadanya. Jika kau menuruti perintahnya, Bazan akan menulis surat kepada raja segala raja untuk memohonkan pengampunan bagimu. Ini akan menyelamatkanmu dari banyak kesulitan. Jika kau menolak perintahnya, kau tahu betapa kuatnya dia. Dia pasti akan menghancurkanmu dan rakyatmu serta negaramu.”
Rasulullah tidak menyukai penampilan mereka. Beliau bertanya kepada mereka siapa yang memerintahkan mereka untuk mencukur janggut mereka dan jawaban mereka adalah: “Tuhan kami”, yang berarti Khusru. Rasulullah berkata: “Tetapi Tuhanku telah memerintahkan aku untuk memelihara janggut dan memangkas kumisku.” Beliau juga meminta mereka untuk menunggu hingga hari berikutnya ketika beliau akan bertemu mereka lagi. Sementara itu, Rasulullah (saw) diberitahu oleh Jibril bahwa Allah telah menyebabkan Khusru dibunuh oleh Sherweih, putranya sendiri, dengan memberikan waktu malam dan tanggal yang tepat ketika Khusru dibunuh.
Rasulullah memanggil para utusan Persia dan memberitahukan kepada mereka tentang pembunuhan kaisar mereka. Mereka berkata kepadanya: “Apakah engkau menyadari apa yang engkau katakan? Penangkapanmu diperintahkan karena sesuatu yang jauh lebih sepele daripada ini. Apakah engkau masih ingin kami mencatat ini dan memberitahukan kepada raja Bazan tentang apa yang baru saja engkau katakan?” Rasulullah menjawab: “Ya. Sampaikan juga kepadanya atas namaku bahwa agamaku dan kerajaanku akan menggantikan agama Khusru dan akan menyapu bersih semua yang ada di hadapannya. Sampaikan juga kepadanya bahwa jika dia menerima Islam, aku akan memberikan kepadanya apa yang sekarang berada di bawah kekuasaannya dan akan menjadikannya penguasa di wilayah yang sekarang dia pimpin.”
Rasulullah juga memberikan kepada Kharkharah sekantong emas dan perak yang dikirimkan kepadanya sebagai hadiah oleh raja lain. Kedua utusan itu pergi dan kembali ke Yaman, di mana mereka menceritakan kepada Bazan apa yang telah dikatakan Rasulullah.
“Ini bukan ucapan yang pantas diucapkan seorang raja. Menurutku, orang itu adalah seorang Utusan, seperti yang dia klaim. Jika memang benar, apa yang baru saja dia katakan kepadamu akan terjadi. Jika benar Khusru telah terbunuh, orang itu adalah seorang Utusan. Jika tidak, kita akan memutuskan apa yang akan kita lakukan dengannya.”
Sementara itu, Bazan menerima pesan dari Sherweih yang memberitahunya bahwa ia telah membunuh ayahnya setelah mengambil tindakan despotik terhadap kaum bangsawan Persia. Ia juga memerintahkan Bazan untuk meminta para komandannya bersumpah setia kepadanya sebagai kaisar baru. Ia juga meminta Bazan untuk tidak mengganggu Utusan sampai ia menerima instruksi lebih lanjut.
Kemudian Bazan memanggil Abadhaweih dan menanyainya lebih lanjut tentang Rasulullah. Abadhaweih mengatakan kepadanya bahwa Rasulullah tidak memiliki pengawal untuk melindunginya dari kaumnya atau dari siapa pun. “Meskipun demikian, aku belum pernah berbicara dengan seorang pria yang menginspirasiku dengan rasa kagum sebanyak dia.” Bazan, yang yakin bahwa Muhammad (saw) adalah seorang Rasulullah, menyampaikan keyakinannya kepada para penasihat dan konselornya, menyatakan bahwa ia ingin menjadi seorang Muslim dan mereka semua bergabung dengannya dalam menerima pesan Rasulullah (saw). (Sumber: Asqalani, Fath al-Bari)
*Sepeninggal Rasulullah Saw*
Pada masa khalifah Umar, ekspansi diarahkan ke seluruh penjuru dunia, memenuhi warisan amanat Rasulullah. Salah satunya, ke Persia.
Singkat cerita, melalui musyawarah antar sahabat senior, ditunjuklah Sa’ad bin Abi Waqqash sebagai komandan ekspedisi militer ke Iran.
Bersamaan dengan itu Hadhrat Umar (ra) menulis, ‘Sebelum berperang dengan Raja Iran kamu wajib mengutus satu rombongan perwakilan ke Raja Iran dan ajaklah dia menerima Islam.’
Begitu menerima perintah itu, Sa’d mengutus perwakilan untuk menemui Yazdegerd III [nama raja Persia waktu itu]. Ketika perwakilan ini sampai di istana Raja Iran, maka Raja Iran berkata pada penerjemahnya, ‘Tanyakan pada orang-orang ini, mengapa mereka datang ke sini?’
Ketika penerjemah ini menanyakannya, maka pemimpin perwakilan dari Islam tersebut yakni Nu’man bin Muqarrin berdiri dan menjawab dengan mengabarkan tentang kedatangan Rasulullah (saw) beliau berkata, ‘Rasulullah (saw) memerintahkan kami untuk menyebarkan Islam dan mengajak seluruh orang di dunia masuk dalam agama yang benar. Atas dasar perintah itulah kami hadir di hadapan anda dan mengajak anda untuk bergabung ke dalam Islam.’
Pernyataan ini juga menunjukkan betapa konsistensinya para generasi sahabat melanjutkan misi Nabi.
Singkat cerita, melalui perang yang sengit, yaitu Pertempuran al-Qadisiyyah (636/637 M), kemenangan krusial Kekhalifahan Rasyidin atas Kekaisaran Sasaniyah Persia di Irak Selatan. Pasukan Muslim dapat mengalahkan tentara Persia yang jauh lebih besar pimpinan Rustam Farrokhzad selama empat hari pertempuran. Kemenangan ini mematahkan pertahanan Persia, membuka jalan penaklukan dan runtuhnya Kekaisaran Sasaniyah.
Akhirnya, terpenuhilah prediksi Rasulullah saat Persia masih di bawah kekuasaan kakek Yazdegird III, yaitu Khusru II.
Setelah itu, tertawanlah putri-putri Yazdegird III, di antaraya Syahribanu. Syahribanu ini kemudian dinikahkan kepada Husein bin Ali bin Abi Thalib. Kelak dari pernikahan dengan putri Persia ini, lahirlah Imam Ali Zaenal Abidin. Lalu secara turun temurun, lahirlah imam-imam yang diagungkan oleh umat Islam, khususnya kalangan Syiah Imamiyah yang dipeluk rakyat Iran.
~ *Abul.Ghany, penyadur*






