Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS/ Kalimantan Selatan I
Islam adalah agama yang dibangun di atas kasih sayang, persaudaraan, dan saling mencintai karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan bahwa keimanan seorang muslim tidak hanya tampak dalam ibadah ritual semata, tetapi juga tercermin dalam sikapnya kepada sesama muslim. Salah satu fondasi penting dalam ukhuwah Islamiyah adalah mencintai kebaikan bagi saudara sebagaimana mencintai kebaikan bagi diri sendiri.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
« لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ »
مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya seperti apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadits yang agung ini menjadi salah satu pondasi besar dalam membangun masyarakat Islam yang kuat, harmonis, dan penuh kasih sayang.
Makna Hadits dan Kesempurnaan Iman
Para ulama menjelaskan bahwa maksud “tidak beriman” dalam hadits tersebut bukan berarti keluar dari Islam, namun menunjukkan belum sempurnanya iman seseorang. Artinya, iman seorang muslim akan mencapai kesempurnaan apabila ia memiliki hati yang bersih, tulus, dan penuh cinta kepada sesama muslim.
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini mengandung dorongan agar seorang muslim menjauhkan dirinya dari sifat hasad, dengki, iri hati, dan kebencian.
Seseorang yang benar imannya akan merasa bahagia ketika melihat saudaranya mendapatkan nikmat, keberhasilan, ilmu, hidayah, dan kebaikan. Ia tidak ingin saudaranya terjatuh dalam keburukan sebagaimana ia tidak ingin keburukan itu menimpa dirinya sendiri.
Ukhuwah Islamiyah Adalah Buah Keimanan
Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”
(QS. Al-Hujurat: 10)
Ayat ini menunjukkan bahwa ikatan keimanan lebih kuat daripada ikatan nasab, suku, warna kulit, maupun bangsa. Persaudaraan Islam dibangun di atas aqidah tauhid dan ketakwaan kepada Allah.
Allah Ta’ala juga berfirman:
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah.”
(QS. At-Taubah: 71)
Ayat ini menegaskan bahwa kaum mukminin saling menolong, saling menjaga, dan saling menguatkan dalam kebaikan.
Persaudaraan Bukan Sekadar Ucapan
Islam tidak menghendaki persaudaraan yang hanya berhenti di lisan. Ukhuwah harus dibuktikan dengan tindakan nyata.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya; ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti.”
(HR. Muslim)
Bentuk nyata mencintai saudara sesama muslim antara lain:
1. Membantu ketika kesulitan
2. Menjenguk saat sakit
3. Mendoakan tanpa sepengetahuannya
4. Menutupi aibnya
5. Memberi nasihat dengan lembut
6. Menolong dalam kebutuhan hidupnya
7. Ikut bahagia atas keberhasilannya
8. Tidak menzalimi atau merendahkannya
Inilah akhlak mulia yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat.
Kisah Persaudaraan di Zaman Nabi dan Sahabat
1. Persaudaraan Muhajirin dan Anshar
Salah satu fakta sejarah paling agung tentang ukhuwah Islamiyah adalah ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar di Madinah.
Kaum Muhajirin meninggalkan harta, rumah, dan keluarga mereka di Makkah demi mempertahankan iman. Lalu kaum Anshar menyambut mereka dengan penuh cinta dan pengorbanan.
Allah Ta’ala mengabadikan kemuliaan mereka:
وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
“Dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri meskipun mereka juga membutuhkan.”
(QS. Al-Hasyr: 9)
Kaum Anshar rela berbagi rumah, makanan, bahkan harta mereka demi membantu saudara muslimnya. Ini adalah bukti nyata mencintai saudara sebagaimana mencintai diri sendiri.
2. Abu Bakar Ash-Shiddiq Membebaskan Bilal
Ketika Bilal bin Rabah disiksa karena mempertahankan tauhid, Abu Bakar Ash-Shiddiq datang membelinya lalu membebaskannya karena Allah.
Beliau tidak mencari keuntungan dunia. Yang beliau inginkan adalah keselamatan dan kemuliaan saudaranya sesama muslim.
Persaudaraan karena iman melahirkan pengorbanan besar.
3. Umar bin Khattab Memikul Gandum untuk Rakyat
Umar bin Khattab pernah memikul sendiri gandum di pundaknya untuk diberikan kepada seorang ibu miskin yang kelaparan bersama anak-anaknya.
Ketika ajudannya ingin membantu, Umar berkata:
“Apakah engkau akan memikul dosaku pada hari kiamat?”
Ini menunjukkan besarnya perhatian pemimpin muslim terhadap saudaranya.
Bahaya Hasad dan Dengki
Hadits ini juga mengajarkan wajibnya meninggalkan hasad. Orang yang hasad tidak senang melihat saudaranya mendapat nikmat.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Janganlah kalian saling dengki, saling membenci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hasad dapat menghancurkan amal kebaikan.
Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Hasad memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”
(HR. Abu Dawud)
Karena itu seorang mukmin harus melatih dirinya agar ikut bahagia melihat keberhasilan orang lain.
Tingkatan Cinta Sesuai Kadar Iman
Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini bahwa kecintaan kepada seorang muslim bertingkat sesuai kadar keimanannya.
Semakin besar ketakwaan seseorang, maka semakin besar pula kecintaan kita kepadanya karena Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Karena itu para sahabat sangat mencintai orang-orang saleh, para ahli ibadah, dan orang-orang yang berjuang di jalan Allah.
Dakwah dan Mengajak kepada Kebaikan
Mencintai saudara sesama muslim juga diwujudkan dengan mengajak mereka kepada hidayah dan kebaikan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ﺑَﻠِّﻐُﻮﺍ ﻋَﻨِّﻰ ﻭَﻟَﻮْ ﺁﻳَﺔً
“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.”
(HR. Bukhari)
Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa mengajak kepada petunjuk maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.”
(HR. Muslim)
Inilah bukti kasih sayang seorang muslim kepada saudaranya: ia tidak rela melihat saudaranya jauh dari agama, lalai dari shalat, atau terjerumus dalam kemaksiatan.
Allah Ta’ala berfirman:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Ali-Imran: 104)
Menjaga Persatuan Umat
Di zaman ini umat Islam menghadapi banyak fitnah: perpecahan, saling menghina, saling menjatuhkan, dan permusuhan karena urusan dunia maupun perbedaan yang tidak mendasar.
Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan persatuan dan kasih sayang.
Beliau bersabda:
“Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.”
(HR. Muslim)
Hadits ini menggambarkan betapa eratnya hubungan sesama muslim.
Penutup
Mencintai kebaikan bagi saudara muslim merupakan tanda kesempurnaan iman dan akhlak mulia seorang mukmin. Islam mengajarkan agar hati bersih dari dengki, iri, kebencian, dan permusuhan.
Persaudaraan Islam harus dibangun dengan cinta karena Allah, diwujudkan dengan bantuan nyata, nasihat yang baik, dan dakwah menuju jalan yang benar.
Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang saling mencintai karena Allah, saling menolong dalam kebaikan, dan dikumpulkan kelak di surga-Nya bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat رضي الله عنهم أجمعين.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ
“Maha suci Engkau ya Allah, segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”






