Lebaran Yatim Bukan Sekadar Santunan, Ketua BAZNAS Sodik Mudjahid Dorong Transformasi Mustahik Menjadi Generasi Mandiri

JAKARTA: BELA RAKYAT – Peringatan Lebaran Yatim setiap 10 Muharram selama ini identik dengan santunan dan bantuan sosial bagi anak-anak yatim. Namun di balik tradisi tersebut, muncul dorongan kuat agar momentum Muharram tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata, melainkan menjadi titik awal transformasi sosial yang mampu mengubah masa depan para penerima manfaat.

Pesan itu disampaikan secara tegas oleh Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI, Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc., saat menghadiri acara Lebaran Yatim dan Disabilitas yang diselenggarakan Kementerian Agama RI dalam rangkaian program Peaceful Muharram 1448 Hijriah, Kamis (25/6/2026).

Bacaan Lainnya

Dalam pandangannya, tantangan terbesar pengelolaan zakat nasional saat ini bukan sekadar menyalurkan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan, melainkan memastikan bantuan tersebut mampu melahirkan kemandirian dan keberdayaan.

Mengubah Paradigma dari Belas Kasihan Menjadi Pemberdayaan

Di tengah masih tingginya angka kerentanan sosial anak yatim dan kelompok disabilitas di berbagai daerah, Sodik menilai pendekatan karitatif yang hanya berfokus pada pemberian bantuan sesaat sudah tidak cukup.

Menurutnya, zakat harus menjadi instrumen pembangunan sosial yang mampu menciptakan perubahan jangka panjang.

“Festival Pesan Inklusif dari Jiwa Anak untuk Negeri” yang diusung dalam peringatan tahun ini dinilai menjadi langkah penting untuk menggeser paradigma lama tersebut.

Sodik menegaskan, keadilan sosial bagi anak yatim dan penyandang disabilitas tidak akan tercapai apabila mereka terus ditempatkan sebagai objek penerima belas kasihan. Sebaliknya, mereka harus diberikan ruang untuk menunjukkan kemampuan, kreativitas, dan kepemimpinan yang dimiliki.

“Keberhasilan program sosial bukan diukur dari banyaknya bantuan yang diberikan, tetapi dari berapa banyak penerima manfaat yang akhirnya mampu berdiri di atas kaki sendiri,” ujarnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan arah pengelolaan zakat modern yang kini mulai berfokus pada penciptaan dampak sosial berkelanjutan.

Investigasi Tantangan Pengelolaan Dana Umat

Di balik besarnya potensi zakat nasional yang mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun, tantangan utama yang masih dihadapi adalah bagaimana memastikan dana umat benar-benar menghasilkan perubahan kualitas hidup mustahik.

Sejumlah kajian menunjukkan bahwa bantuan konsumtif memang mampu mengurangi tekanan ekonomi dalam jangka pendek. Namun tanpa intervensi pendidikan, pelatihan, dan penguatan kapasitas, banyak penerima manfaat yang tetap berada dalam lingkaran kerentanan.

Karena itu, BAZNAS RI mulai mengarahkan berbagai programnya ke sektor produktif yang lebih berkelanjutan.

Sodik menjelaskan bahwa lembaga yang dipimpinnya terus mengoptimalkan pengelolaan zakat dan wakaf melalui program-program pemberdayaan yang berfokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Program tersebut meliputi pemberian beasiswa pendidikan, pengembangan bakat kreatif, pelatihan keterampilan kerja, pendampingan usaha mikro, hingga program pemberdayaan ekonomi keluarga.

“Anak-anak yatim memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin masa depan. Tugas kita adalah membuka jalan agar potensi tersebut dapat berkembang secara maksimal,” kata Sodik.

Anak Yatim dan Disabilitas Harus Menjadi Subjek Pembangunan

Dalam acara yang dihadiri ratusan peserta tersebut, Sodik menekankan pentingnya membangun ekosistem sosial yang inklusif.

Menurutnya, anak yatim dan penyandang disabilitas tidak boleh lagi dipandang sebagai kelompok yang selalu membutuhkan bantuan. Mereka harus ditempatkan sebagai bagian aktif dalam pembangunan bangsa.

Pendekatan inklusif inilah yang menjadi salah satu alasan BAZNAS mendukung penuh penyelenggaraan festival yang memberi ruang bagi anak-anak untuk menyampaikan aspirasi, menampilkan karya, serta menunjukkan kemampuan mereka di hadapan publik.

Langkah tersebut dinilai penting untuk membangun rasa percaya diri sekaligus menghapus stigma sosial yang selama ini masih melekat pada kelompok rentan.

“Bantuan terbaik adalah bantuan yang mampu mengangkat martabat manusia,” tegasnya.

Kolaborasi Nasional untuk Masa Depan Anak Indonesia

Pada kesempatan yang sama, Menteri Agama RI Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar mengajak seluruh lembaga pengelola zakat dan wakaf menjadikan peringatan 10 Muharram sebagai gerakan nasional pembebasan anak yatim dari berbagai kesulitan hidup.

Ia menilai makna anak yatim perlu diperluas agar mencakup seluruh anak yang mengalami keterlantaran dan membutuhkan dukungan negara maupun masyarakat.

Bagi Nasaruddin, peringatan Muharram harus menjadi momentum produktif yang menghadirkan solusi nyata bagi persoalan sosial yang dihadapi anak-anak Indonesia.

Ajakan tersebut mendapatkan respons positif dari berbagai lembaga zakat dan wakaf yang hadir, termasuk BAZNAS RI yang selama ini aktif mengembangkan berbagai model pemberdayaan berbasis dana sosial keagamaan.

Lebaran Yatim sebagai Titik Balik

Acara Lebaran Yatim dan Disabilitas tahun ini diikuti sekitar 300 hingga 400 peserta secara langsung serta ribuan peserta lain secara daring melalui jaringan Kementerian Agama di seluruh Indonesia.

Kehadiran BAZNAS RI dalam agenda tersebut menunjukkan semakin kuatnya komitmen lembaga pengelola zakat untuk mengarahkan dana umat pada program-program yang memberikan dampak nyata.

Bagi Sodik, momentum Muharram harus menjadi titik balik dalam cara masyarakat memandang zakat.

Bukan sekadar instrumen santunan, melainkan sarana untuk mencetak generasi yang mandiri, berdaya saing, dan memiliki masa depan yang lebih baik.

“Dengan kolaborasi seluruh pihak, kami berharap pengelolaan zakat nasional tidak hanya membantu masyarakat bertahan hidup, tetapi juga mampu mengantarkan mereka menuju kehidupan yang lebih bermartabat dan sejahtera,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *