Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS / Kalimantan Selatan I
“Apakah saya ahli surga atau ahli neraka?”
Pertanyaan ini mungkin pernah terlintas dalam hati setiap muslim yang masih memiliki iman. Terlebih ketika melihat diri sendiri sering terjatuh dalam dosa, lalai dari ibadah, mudah mengikuti hawa nafsu, dan sulit istiqamah dalam amal saleh.
Ada orang yang menangis diam-diam setelah melakukan maksiat. Ia bertanya kepada dirinya sendiri, “Mengapa saya begitu mudah melakukan dosa? Mengapa bangun tahajud terasa berat? Mengapa membaca Al-Qur’an sering tertunda? Mengapa saya lebih semangat mengejar dunia daripada mengejar akhirat?”
Di sisi lain, ia melihat orang-orang saleh yang tampak ringan melangkah ke masjid, mudah bersedekah, tekun membaca Al-Qur’an, dan istiqamah menjaga ibadah. Hatinya semakin gelisah.
Lalu muncul pertanyaan yang sangat menakutkan: “Apakah saya telah ditakdirkan menjadi penghuni neraka?”
Pertanyaan ini tidak boleh dijawab dengan perasaan semata. Islam mengajarkan bahwa urusan surga dan neraka harus dikembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah.
Kita tidak boleh merasa pasti menjadi penghuni surga. Namun kita juga tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)
Ayat ini menjadi cahaya bagi setiap pendosa yang ingin kembali kepada Allah. Karena itu, sering bermaksiat bukan otomatis berarti seseorang adalah ahli neraka. Sebagaimana banyak beramal juga tidak otomatis menjamin seseorang masuk surga jika amalnya tidak diterima.
Yang menjadi ukuran adalah bagaimana akhir kehidupan seseorang dan bagaimana hubungannya dengan Allah hingga akhir hayat.
Surga Tidak Murah, Neraka Tidak Gratis
Salah satu hadits paling agung yang menjelaskan hakikat perjalanan menuju surga dan neraka adalah sabda Rasulullah ﷺ:
“Neraka itu dikelilingi oleh berbagai syahwat dan surga itu dikelilingi oleh berbagai hal yang tidak disukai.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjelaskan mengapa manusia sering mengalami konflik dalam hidupnya. Menuju surga tidak selalu terasa nyaman.
Sedangkan jalan menuju neraka sering kali terlihat menyenangkan. Menahan pandangan dari hal haram terasa berat. Menjaga lisan dari ghibah terasa sulit.
Bangun sebelum subuh untuk shalat malam terasa berat. Mengeluarkan harta untuk sedekah kadang terasa berat.
Memaafkan orang yang menyakiti kita terasa berat. Semua itu karena surga memang dikelilingi oleh perkara yang tidak disukai hawa nafsu.
Sebaliknya, berzina terlihat menyenangkan. Riba tampak menguntungkan.
Korupsi tampak menggiurkan. Ghibah terasa mengasyikkan.Kesombongan terasa memuaskan ego. Karena itulah neraka dihiasi dengan syahwat.
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa makna hadits tersebut adalah jalan menuju surga dipenuhi kesulitan yang harus dilawan, sedangkan jalan menuju neraka dipenuhi berbagai kenikmatan yang memanjakan hawa nafsu.
Maka jangan heran apabila perjuangan menuju surga selalu membutuhkan pengorbanan.
Hawa Nafsu adalah Ujian Sejak manusia Pertama
Sejak awal penciptaan manusia, Allah telah menjadikan hawa nafsu sebagai bagian dari ujian kehidupan.
Allah berfirman: “Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa yang diinginkan berupa wanita, anak-anak, harta yang banyak dari emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang.” (QS. Ali Imran: 14)
Ayat ini tidak mengatakan bahwa semua hal tersebut haram. Tidak.
Sebagian besar bahkan merupakan nikmat yang halal. Namun Allah ingin menjelaskan bahwa manusia secara fitrah memiliki kecenderungan kepada dunia.
Kecenderungan itu bukan dosa. Yang menjadi masalah adalah ketika kecenderungan tersebut mengalahkan ketaatan kepada Allah.
Karena itu para ulama menjelaskan bahwa jihad terbesar bukanlah melawan musuh di medan perang. Tetapi melawan hawa nafsu yang ada di dalam diri sendiri.
Imam Ibnul Qayyim رحمه الله mengatakan bahwa perang melawan hawa nafsu adalah perang sepanjang hidup yang tidak pernah berhenti hingga seseorang meninggal dunia. Bahkan para sahabat pun berjuang melawan dirinya
Kadang ada orang yang beranggapan bahwa para sahabat tidak pernah mengalami godaan. Padahal kenyataannya tidak demikian.
Mereka juga manusia. Mereka juga memiliki hawa nafsu. Mereka juga mengalami rasa takut, sedih, marah, dan keinginan dunia.
Yang membedakan mereka dengan kebanyakan manusia adalah kemampuan mereka untuk mengendalikan hawa nafsu tersebut.
Kisah Umar bin Khattab menjadi contoh yang luar biasa
Ketika menjadi khalifah yang menguasai wilayah sangat luas, beliau mampu hidup sederhana. Padahal jika mau, beliau bisa menikmati seluruh kemewahan dunia.
Namun Umar memahami bahwa kemenangan terbesar bukanlah menaklukkan Persia atau Romawi.
Kemenangan terbesar adalah menaklukkan diri sendiri.
Begitu pula Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan:
“Musuhmu yang paling berbahaya adalah nafsumu yang berada di antara kedua lambungmu.”
Perkataan ini menunjukkan bahwa akar dari banyak dosa sebenarnya berasal dari hawa nafsu yang tidak terkendali.
Tanda Kebaikan Masih Ada dalam Diri
Salah satu kabar gembira bagi orang yang sering bermaksiat tetapi masih menyesal adalah bahwa penyesalan itu sendiri merupakan tanda kehidupan hati.
Orang yang hatinya benar-benar mati tidak lagi merasa bersalah ketika berbuat dosa. Ia tertawa ketika bermaksiat.
Ia bangga ketika melanggar perintah Allah. Ia bahkan mengajak orang lain melakukan dosa yang sama.
Sedangkan seorang mukmin akan merasa gelisah. Ia merasa bersalah. Ia takut kepada Allah. Ia ingin berubah meskipun sering gagal.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Penyesalan adalah taubat.” (HR. Ibnu Majah)
Selama hati masih merasa bersalah ketika bermaksiat, selama masih ada keinginan untuk kembali kepada Allah, selama masih ada rasa takut terhadap neraka dan harapan terhadap surga, maka itu adalah tanda bahwa cahaya iman masih hidup di dalam hati.
Jangan Tertipu oleh Banyaknya Amal
Sebaliknya, seseorang tidak boleh merasa aman hanya karena banyak beribadah. Iblis dahulu termasuk makhluk yang sangat rajin beribadah.
Namun kesombongan menghancurkannya. Qarun memiliki kekayaan luar biasa.
Namun kesombongan membuatnya binasa. Banyak ahli ibadah dalam sejarah yang akhirnya tersesat karena ujub dan merasa suci.
Karena itu para ulama salaf lebih takut amal mereka tidak diterima daripada takut kekurangan amal.
Mereka menangis setelah beribadah. Mereka khawatir Allah tidak menerima amal mereka.
Allah berfirman: “Dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka berikan dengan hati yang takut.” (QS. Al-Mu’minun: 60)
Ketika ditanya tentang ayat ini, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang rajin beribadah tetapi tetap khawatir amalnya tidak diterima.
Pelajaran dari Kisah Pembunuh Seratus Orang
Salah satu kisah paling menakjubkan dalam hadits adalah kisah seorang pembunuh yang telah membunuh seratus orang.
Secara logika manusia, mungkin orang tersebut pantas menjadi penghuni neraka. Namun ketika ia benar-benar bertaubat dan berjalan menuju kampung orang-orang saleh, Allah menerima taubatnya. Akhirnya ia termasuk penghuni surga.
Kisah ini menunjukkan bahwa masa lalu tidak selalu menentukan akhir kehidupan seseorang. Yang menentukan adalah bagaimana seseorang meninggal dunia.
Karena itu para ulama selalu berdoa: “Ya Allah, perbaikilah akhir kehidupan kami.”
Sebab banyak orang yang sepanjang hidupnya penuh dosa lalu meninggal dalam keadaan taubat. Sebaliknya ada pula orang yang tampak saleh tetapi tergelincir menjelang akhir hayat.
Ahli surga dan ahli neraka ditentukan oleh akhir kehidupan
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya amal itu tergantung pada penutupnya.” (HR. Bukhari)
Inilah sebabnya seorang muslim tidak boleh sombong dengan amalnya. Dan tidak boleh putus asa karena dosanya.
Selama nyawa masih berada dalam tubuh, pintu taubat masih terbuka. Selama matahari belum terbit dari barat, rahmat Allah masih tersedia.
Selama hati masih hidup, kesempatan untuk menjadi ahli surga masih ada. Karena itu tugas seorang mukmin bukan sibuk menebak apakah dirinya ahli surga atau ahli neraka.
Tetapi terus memperbaiki diri setiap hari. Terus bertaubat. Terus berjuang melawan hawa nafsu. Terus meminta pertolongan Allah. Terus memperbanyak amal saleh. Dan terus berharap kepada rahmat-Nya.
Sebab pada akhirnya bukan kekuatan kita yang memasukkan kita ke surga, melainkan rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan bersungguh-sungguh mencari ridha-Nya.
Maka ketika maksiat terasa mudah dan amal saleh terasa berat, jangan langsung menyimpulkan bahwa Anda adalah ahli neraka.
Justru bisa jadi itulah medan perjuangan yang Allah berikan agar Anda terus kembali kepada-Nya. Karena surga memang tidak diperoleh dengan mengikuti hawa nafsu.
Surga diperoleh oleh mereka yang terus bangkit setiap kali terjatuh, terus bertaubat setiap kali berdosa, dan terus mengetuk pintu rahmat Allah hingga akhir hayatnya.






