JAKARTA – BELA RAKYAT – Rakyat Bangka Belitung menolak jadi korban uji coba. Itu pesan keras yang disampaikan Anggota Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya kepada Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN).
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama BAPETEN dan BIG di Gedung Nusantara I, Senayan, Rabu (9/9/2026), Patijaya mendesak negara menutup rapat pintu masuknya teknologi nuklir yang belum terbukti selamat.
Pemicunya adalah wacana perusahaan swasta asing yang mau membangun reaktor nuklir berbasis thorium di Kepulauan Bangka Belitung.
“Jangan beri ruang orang untuk melakukan uji coba di Indonesia. Rakyat kami bukan bahan percobaan,” tegas Patijaya, legislator Dapil Bangka Belitung.
Menurut Patijaya, sikap ini bukan menolak transisi energi. Justru karena ingin energi nuklir yang aman untuk rakyat, pemerintah wajib memilih teknologi yang sudah terbukti di dunia, yaitu PLTN berbasis uranium yang sudah sampai generasi 3+ dan 4. Bukan teknologi thorium yang di negara asalnya saja belum berhasil secara komersial.
Rakyat Terancam Dua Bahaya
Patijaya mengingatkan, BAPETEN jangan hanya urus izin, tapi pikirkan keselamatan warga di tapak.
Fakta di lapangan sangat mengkhawatirkan. Dari paparan BAPETEN sendiri terungkap:
1. Fasilitas penyimpanan limbah radioaktif nasional di BRIN sudah terisi 88,5 persen. Mau dibuang kemana limbah baru dari reaktor eksperimen itu? 2. Masih ada ancaman kontaminasi Cesium-137 dari industri manufaktur yang belum tuntas.
Jika limbah yang ada saja sudah hampir penuh dan belum aman, bagaimana mau menambah risiko limbah baru dari teknologi coba-coba di tanah Babel?
“Regulasi kita masih berantakan setelah peleburan lembaga riset ke BRIN. Jangan sampai kekosongan regulasi ini dimanfaatkan pihak asing untuk masuk, sementara rakyat Babel yang menanggung risikonya,” ujarnya.
Pemerintah menargetkan PLTN pertama COD pada 2032 menuju 35 GW pada 2060. Target itu penting, kata Patijaya, tapi jangan mengorbankan keselamatan rakyat Bangka Belitung demi mengejar target.
“Kalau mau bangun PLTN, bangun yang proven, yang selamatnya jelas untuk anak cucu kita. Jangan yang unproven. Tolak jadikan Indonesia, khususnya Babel, sebagai laboratorium percobaan nuklir dunia,” pungkasnya.






