SURABAYA – Tim Pengabdian Kepaada Masyarakat Pemberdayaan UMKM Universitas Negeri Surabaya (PKM-PU UNESA) meluncurkan inovasi “Hydrofusion Aquaponics” di Kampung Oase Songo, Kelurahan Simomulyo Baru, Kecamatan Sukomanunggal, Kota Surabaya pada Senin (17/8/2026).
Solusi berbasis akuaponik closed-loop tersebut mengintegrasikan budidaya lele dan kangkung di dalam drum berkapasitas besar untuk mengatasi keterbatasan lahan perkotaan sekaligus meningkatkan produktivitas pangan dan ekonomi warga secara berkelanjutan.
Program ini digawangi oleh Dr. Drs. Eko Wahjudi, M.Si. selaku ketua pelaksana, bersama anggota dosen Dr. Sapto Wibowo, M.Pd., dan Amirul Arif, S.Pd., M.Ak., serta dua mahasiswa UNESA. Mitra kegiatan adalah Kampung Oase Songo yang selama ini dikenal sebagai kampung edukasi lingkungan dan urban farming di bawah penggiat lingkungan, Yaning Mustikaningrum.
Kampung Oase Songo yang terletak di tengah kawasan padat penduduk Surabaya menghadapi tantangan klasik perkotaan: lahan yang semakin sempit untuk kegiatan budidaya pangan. Selama ini, warga telah mencoba metode Budikdamber (Budidaya Ikan dalam Ember) yang cukup populer sebagai solusi hemat lahan.
“Kami melihat potensi besar dari semangat warga Kampung Oase Songo dalam urban farming. Hanya saja, teknologi yang digunakan sebelumnya masih perlu penyempurnaan agar hasil panen lebih optimal dan berkelanjutan,” tandas Eko Wahjudi lewat keterangan tertulisnya. Jumat, (21/8/2026).
Solusi dan Cara Kerja Inovasi Hydrofusion Aquaponics
Menjawab tantangan tersebut, tim PKM-PU UNESA menghadirkan “Hydrofusion Aquaponics”, sebuah inovasi sistem budidaya terintegrasi berbasis closed-loop aquaponics yang memanfaatkan drum berkapasitas besar sebagai media utama.
Cara kerja sistem ini cukup cerdas dan efisien.
Limbah ikan jadi pupuk alami: Kotoran dan sisa pakan lele yang kaya nutrisi tidak dibuang, melainkan dialirkan ke media tanam kangkung. Limbah ini berfungsi sebagai pupuk organik alami bagi tanaman.
Tanaman Menyaring Air: Sistem perakaran kangkung secara alami menyerap nutrisi dari limbah ikan sekaligus menyaring air dari zat-zat berbahaya seperti amonia. Air yang telah jernih dan bersih kemudian dialirkan kembali ke drum tempat lele dipelihara.
Siklus Tertutup yang Hemat Air: Sistem closed-loop ini memungkinkan penggunaan air berulang kali tanpa pembuangan. Dibandingkan Budikdamber ember biasa, Hydrofusion Aquaponics berpotensi menjadi solusi untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air, mengoptimalkan pemanfaatan lahan, dan meningkatkan kuantitas panen.
Inovasi ini, lanjut Eko, sejalan dengan semangat urban farming yang selama ini dikembangkan Kampung Oase Songo sebagai kampung edukasi lingkungan dan ketahanan pangan berbasis masyarakat.
“Dengan kapasitas drum yang lebih besar, warga dapat membudidayakan lebih banyak lele sekaligus menanam kangkung dalam jumlah yang lebih melimpah dibandingkan metode ember konvensional,” urai eks Kepala Subdit Data Kinerja dan Remunerasi Direktorat Keuangan dan Sumber Daya Unesa ini.
Direktur Evaluasi Kinerja Unesa ini menambahkan, Hydrofusion Aquaponics adalah wujud nyata komitmen Unesa dalam mengabdi kepada masyarakat melalui inovasi teknologi tepat guna.
“Kami tidak sekadar memberikan bantuan, tetapi juga mendampingi warga hingga sistem ini benar-benar berjalan mandiri. Harapannya, selain memenuhi kebutuhan pangan harian, hasil panen lele dan kangkung ini juga bisa menjadi sumber pendapatan tambahan bagi warga Kampung Oase Songo,” tutur mantan Dekan FE Unesa ini.
Melalui program PKM-PU ini, Unesa menunjukkan peran aktifnya dalam mendukung ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat perkotaan. Inovasi Hydrofusion Aquaponics diharapkan tidak hanya berhenti sebagai program pendampingan, tetapi menjadi gerakan berkelanjutan yang mampu mendorong kemandirian pangan warga Kampung Oase Songo.
“Dengan sistem ini, warga bisa memanen lele dan kangkung secara rutin. Jika dikelola dengan baik, potensi ekonominya sangat besar. Ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dari tingkat rumah tangga,” pungkas alumnus doktor ilmu manajemen Universitas Brawijaya (UB) ini.
Kampung Oase Songo pun diharapkan menjadi percontohan bagi kawasan perkotaan lain di Surabaya dalam mengadopsi teknologi budidaya terintegrasi yang hemat lahan, ramah lingkungan, dan bernilai ekonomi tinggi.
“Kami sangat bersyukur mendapat pendampingan dari Unesa. Inovasi Hydrofusion Aquaponics ini benar-benar menjawab kebutuhan kami di perkotaan yang lahannya terbatas,” tutup Yaning Mustikaningrum. (ari)






