JAKARTA – BELA RAKYAT – Memperingati Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober 2026, Anggota DPR RI I Nyoman Parta mengajak seluruh elemen bangsa untuk tidak memandang Pancasila hanya sebagai simbol atau norma yang tertulis dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Menurut I Nyoman Parta, Pancasila harus ditempatkan sebagai ideologi yang hidup, dinamis, dan bekerja dalam setiap kebijakan negara. Nilai-nilai Pancasila harus menjadi arah dalam menentukan kebijakan pembangunan agar seluruh proses pembangunan benar-benar memberikan manfaat bagi rakyat.
“Pancasila tidak hanya menjadi norma statis dalam Pembukaan UUD 1945, tetapi menjelma sebagai ideologi yang bekerja dan menjadi tuntunan setiap arah kebijakan pembangunan nasional,” kata I Nyoman Parta dalam pesan peringatan Hari Kesaktian Pancasila, Kamis (1/10/2026).
Ia menegaskan, sebagai ideologi yang bekerja, Pancasila harus mampu memberikan jawaban terhadap berbagai persoalan bangsa yang terus berkembang. Karena itu, penerapan nilai-nilai Pancasila tidak boleh berhenti pada seremoni, pidato, maupun hafalan, tetapi harus terlihat dalam kebijakan ekonomi, pembangunan, hukum, pendidikan, kesehatan, hingga perlindungan terhadap masyarakat kecil.
“Sebagai ideologi yang bekerja, Pancasila harus dinamis dalam memberikan solusi dari penyelesaian permasalahan bangsa,” ujarnya.
I Nyoman Parta menilai, salah satu ukuran penting keberhasilan pembangunan yang berlandaskan Pancasila adalah sejauh mana negara mampu mengurangi ketimpangan ekonomi dan kemiskinan. Pembangunan tidak boleh hanya menghasilkan pertumbuhan angka ekonomi, tetapi juga harus memastikan hasil pembangunan dirasakan secara adil oleh masyarakat luas.
Menurutnya, semangat tersebut sejalan dengan prinsip ekonomi kerakyatan dan cita-cita mewujudkan kemandirian bangsa. Kebijakan ekonomi harus memberikan ruang yang kuat bagi rakyat, koperasi, pelaku usaha mikro dan kecil, petani, nelayan, pekerja, serta berbagai kelompok masyarakat yang selama ini menjadi kekuatan utama perekonomian nasional.
Sebagai anggota Fraksi PDI Perjuangan di Komisi VI DPR RI, I Nyoman Parta juga menekankan pentingnya pembangunan ekonomi yang berpihak pada kepentingan nasional. Dalam menjalankan fungsi DPR, agenda penguatan ekonomi nasional, keberpihakan kepada rakyat, serta pengawasan terhadap kebijakan pemerintah dan BUMN menjadi bagian penting dari kerja kelembagaan.
Ia berpandangan bahwa semangat berdikari harus menjadi bagian dari implementasi Pancasila. Kemandirian tersebut bukan berarti Indonesia menutup diri dari kerja sama global, melainkan memiliki kemampuan menentukan arah pembangunan berdasarkan kepentingan nasional, mengoptimalkan sumber daya sendiri, memperkuat industri dalam negeri, dan memastikan nilai tambah ekonomi tidak justru lebih banyak dinikmati pihak di luar negeri.
“Pancasila harus hadir dalam keberpihakan kepada rakyat. Negara harus memastikan tidak ada rakyat yang tertinggal, tidak ada kelompok yang terus-menerus berada dalam kemiskinan, dan tidak boleh ada pembangunan yang justru memperlebar ketimpangan,” tegasnya.
Selain persoalan ekonomi dan ketimpangan, I Nyoman Parta menilai pemberantasan korupsi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengamalan Pancasila. Korupsi, menurutnya, bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga merusak rasa keadilan sosial karena mengambil hak masyarakat dan mengurangi kemampuan negara menghadirkan pelayanan publik yang berkualitas.
Karena itu, ia mendorong agar nilai gotong royong, keadilan sosial, demokrasi, dan kemanusiaan diterjemahkan dalam tata kelola pemerintahan yang transparan, akuntabel, serta berpihak pada kepentingan publik. Pembangunan yang besar harus berjalan beriringan dengan pengawasan yang kuat agar setiap rupiah anggaran negara benar-benar kembali menjadi manfaat bagi masyarakat.
“Sehingga apabila nilai-nilainya dijalankan, maka cita-cita menuju Indonesia Raya yakni tidak adanya ketimpangan ekonomi, kemiskinan dan korupsi dapat dicapai,” kata I Nyoman Parta.
Ia berharap peringatan Hari Kesaktian Pancasila 2026 menjadi momentum untuk memperkuat kembali komitmen seluruh elemen bangsa dalam menjadikan Pancasila sebagai pedoman nyata dalam kehidupan bernegara. Pancasila, kata dia, harus menjadi energi bersama untuk membangun Indonesia yang berdaulat, mandiri, berkeadilan, sejahtera, dan memberikan ruang yang sama bagi seluruh rakyat untuk maju.
“Selamat Hari Kesaktian Pancasila. Mari kita jadikan Pancasila bukan sekadar dasar negara yang kita hafalkan, tetapi nilai yang kita jalankan dalam kehidupan dan dalam setiap kebijakan pembangunan. Dengan Pancasila, gotong royong dan keberpihakan kepada rakyat, kita wujudkan Indonesia Raya,” pungkas I Nyoman Parta.






