MEDAN – Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia melalui Komisi VI mendorong percepatan pengembangan bioenergi berbasis kelapa sawit sebagai solusi strategis menghadapi ketidakpastian energi global.
Anggota Komisi VI DPR RI, Achmad, menilai ketegangan geopolitik internasional berdampak langsung terhadap fluktuasi harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Oleh karena itu, Indonesia perlu memperkuat kemandirian energi melalui optimalisasi sumber daya dalam negeri, salah satunya dari sawit.
Ia mendorong agar pengolahan Crude Palm Oil (CPO) ditingkatkan menjadi bahan bakar nabati seperti B50 hingga B80. Langkah ini dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Menurutnya, negara yang mampu mandiri dalam sektor energi dan pangan akan memiliki posisi strategis di tingkat global. Karena itu, sinergi antara pemerintah dan sektor swasta menjadi kunci dalam mendorong percepatan industrialisasi energi terbarukan.
Selain itu, DPR juga menyoroti pentingnya pengawasan terhadap distribusi BBM, khususnya yang bersubsidi. Pengawasan ketat diperlukan agar penyaluran tepat sasaran dan tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu.
Achmad mengingatkan bahwa kenaikan harga energi berpotensi menimbulkan efek domino terhadap berbagai sektor, mulai dari biaya transportasi hingga harga kebutuhan pokok. Jika tidak diantisipasi dengan baik, kondisi ini dapat menekan daya beli masyarakat dan mengganggu stabilitas ekonomi nasional.
Karena itu, DPR meminta pemerintah untuk mengambil langkah komprehensif, tidak hanya dalam pengembangan energi alternatif, tetapi juga dalam menjaga stabilitas harga dan distribusi energi di dalam negeri.






