SURABAYA : BELA RAKYAT – Di tengah perubahan lanskap peperangan global yang semakin bertumpu pada kecanggihan teknologi, Indonesia menghadapi tantangan besar untuk memperkuat kemandirian pertahanan nasional. Ketergantungan terhadap teknologi dan sistem persenjataan impor dinilai tidak lagi menjadi pilihan ideal bagi negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki wilayah laut sangat luas dan kompleks.
Dalam konteks itulah, Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) Surabaya menjadi salah satu institusi strategis yang mendapat perhatian khusus dari Komisi I DPR RI. Saat melakukan Kunjungan Kerja Spesifik ke Surabaya Wakil Ketua Komisi I DPR RI Anton Sukartono Suratto menegaskan bahwa STTAL memiliki peran sentral dalam menyiapkan masa depan teknologi pertahanan maritim Indonesia.
Menurut Anton, karakter peperangan modern telah berubah secara fundamental. Kekuatan suatu negara tidak lagi semata ditentukan oleh jumlah personel militer, melainkan kemampuan menguasai dan mengembangkan teknologi yang mampu menciptakan keunggulan strategis di medan operasi.
Dari Pengguna Menjadi Pencipta Teknologi
Selama bertahun-tahun Indonesia dikenal sebagai pengguna berbagai produk teknologi pertahanan dari luar negeri. Namun, perkembangan geopolitik dan dinamika keamanan kawasan menuntut Indonesia untuk bergerak menuju kemandirian teknologi.
Anton menilai transformasi tersebut harus dimulai dari penguatan lembaga pendidikan dan riset pertahanan seperti STTAL. Kampus militer tersebut tidak hanya bertugas mencetak sumber daya manusia yang unggul, tetapi juga menjadi laboratorium lahirnya berbagai inovasi strategis yang dapat digunakan untuk memperkuat sistem pertahanan nasional.
“Perang saat ini sangat bergantung pada penguasaan teknologi. Karena itu, STTAL menjadi institusi penting yang harus mampu menghasilkan berbagai konsep dan inovasi pertahanan maritim nasional,” ujarnya.
Berbagai riset yang dikembangkan STTAL mencakup teknologi kapal perang, kapal selam, sistem sensor, komunikasi militer, hingga pengembangan pesawat tanpa awak yang kini menjadi kebutuhan utama dalam operasi militer modern.
Tantangan Besar Hilirisasi Hasil Riset
Meski memiliki potensi besar, salah satu persoalan klasik yang masih dihadapi dunia riset Indonesia adalah sulitnya mengubah hasil penelitian menjadi produk yang benar-benar digunakan oleh industri maupun institusi negara.
Komisi I DPR RI menemukan, berbagai inovasi yang lahir dari lingkungan akademik pertahanan sering kali berhenti pada tahap penelitian dan pengembangan awal. Keterbatasan pendanaan, minimnya dukungan fasilitas, serta panjangnya proses hilirisasi menjadi hambatan utama.
Padahal, dalam dunia pertahanan, kemampuan mengubah riset menjadi produk operasional merupakan indikator penting keberhasilan pembangunan teknologi nasional.
Karena itu, DPR menilai diperlukan keberpihakan anggaran yang lebih kuat agar hasil-hasil inovasi yang lahir dari STTAL tidak sekadar menjadi dokumen akademik, tetapi berkembang menjadi teknologi yang dapat digunakan oleh TNI dan industri pertahanan nasional.
SDM Unggul Jadi Kunci Pertahanan Masa Depan
Selain dukungan fasilitas dan anggaran, kualitas sumber daya manusia menjadi faktor yang tidak kalah penting. Revolusi teknologi militer yang berlangsung sangat cepat menuntut hadirnya peneliti, insinyur, dan perwira yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap perkembangan global.
Dalam kunjungan tersebut, Komisi I DPR RI juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas lulusan STTAL melalui berbagai program sertifikasi, pengujian kompetensi, kerja sama internasional, serta penguatan budaya riset.
Langkah tersebut dianggap penting agar para lulusan mampu bersaing secara global sekaligus menjadi motor penggerak inovasi teknologi pertahanan nasional.
Penguasaan teknologi kecerdasan buatan, sistem siber, robotika militer, teknologi bawah laut, hingga sistem persenjataan berbasis jaringan dipandang sebagai bidang-bidang strategis yang harus mulai dipersiapkan sejak sekarang.
Fasilitas Pendidikan Perlu Modernisasi
Hasil peninjauan lapangan juga menunjukkan masih adanya kebutuhan peningkatan sejumlah fasilitas pendidikan dan penelitian di lingkungan STTAL.
Modernisasi laboratorium, penguatan sarana pengujian teknologi, hingga peningkatan infrastruktur pendidikan menjadi bagian dari kebutuhan yang dinilai penting untuk mendukung proses pembelajaran dan penelitian yang lebih optimal.
Komisi I DPR RI berkomitmen membawa berbagai kebutuhan tersebut ke dalam pembahasan anggaran sehingga pengembangan kapasitas STTAL dapat berjalan lebih cepat dan terarah.
Menurut Anton, investasi pada fasilitas pendidikan pertahanan bukan sekadar pengeluaran anggaran, melainkan investasi jangka panjang bagi ketahanan negara.
Menjaga Kedaulatan Melalui Inovasi
Indonesia sebagai negara maritim memiliki tantangan keamanan yang unik. Luasnya wilayah laut, jalur perdagangan internasional, serta posisi strategis di kawasan Indo-Pasifik membuat kemampuan teknologi pertahanan maritim menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar.
Karena itu, penguatan STTAL dipandang sebagai bagian dari strategi besar membangun kedaulatan nasional berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
DPR menegaskan bahwa keberhasilan membangun industri pertahanan yang mandiri tidak hanya bergantung pada pabrik dan produksi alutsista, tetapi juga pada kemampuan bangsa menghasilkan desain, konsep, dan inovasi teknologi sendiri.
Pada akhirnya, keberadaan SDM unggul dan dukungan anggaran yang memadai menjadi dua fondasi utama yang menentukan masa depan kemandirian pertahanan Indonesia. Dari kampus teknologi di Surabaya inilah harapan untuk melahirkan inovasi pertahanan karya anak bangsa terus dibangun, demi memastikan Indonesia mampu menjaga kedaulatan dan keamanan nasional di tengah persaingan teknologi global yang semakin ketat.






