BAJA: Menilai TransJakarta Harus Berdasarkan Kinerja, Bukan Satu Peristiwa

JAKARTA – BELA RAKYAT – Barisan Jakarta (BAJA) menegaskan bahwa penilaian terhadap kinerja PT Transportasi Jakarta (TransJakarta) harus dilakukan secara objektif, menyeluruh, dan berbasis data.

Menurut BAJA, tidak tepat apabila satu insiden yang masih dalam proses evaluasi dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa TransJakarta adalah institusi yang diskriminatif atau mendesak Direktur Utama PT Transportasi Jakarta, Welfizon Yuza, mundur dari jabatannya.

Bacaan Lainnya

Ketua Umum BAJA R. Lintang Fisutama mengatakan bahwa di bawah kepemimpinan Welfizon Yuza, TransJakarta menunjukkan berbagai capaian yang signifikan, baik dari sisi pelayanan, inovasi, maupun tata kelola perusahaan.
“TransJakarta hari ini menjadi tulang punggung transportasi publik Jabodetabek dengan melayani lebih dari 1,4 juta perjalanan setiap hari. Pada tahun 2025, jumlah pelanggan mencapai 413 juta perjalanan, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun 2022. Tingkat kepuasan pelanggan mencapai 4,4 dari 5, dengan Net Promoter Score (NPS) sebesar 73 persen. Ini merupakan indikator nyata bahwa mayoritas masyarakat puas terhadap layanan TransJakarta,” ujar Lintang.

BAJA juga menegaskan bahwa TransJakarta merupakan transportasi publik yang terbuka bagi seluruh masyarakat tanpa membedakan asal daerah maupun status sosial.
“TransJakarta tidak pernah menanyakan KTP penumpang berasal dari provinsi mana. Warga Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, hingga masyarakat dari daerah lain mendapatkan pelayanan yang sama. Seluruh pengguna membayar tarif reguler yang sama sebesar Rp3.500 dan memperoleh subsidi yang sama dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Tidak ada perlakuan berbeda terhadap siapa pun,” tegasnya.

Menurut BAJA, komitmen terhadap pelayanan inklusif juga terlihat dari terus diperluasnya penerima manfaat Kartu Layanan Gratis (KLG) sesuai arahan Gubernur DKI Jakarta. Kini berbagai kelompok masyarakat seperti marbot masjid, guru ngaji, kader Jumantik, pengurus RT/RW, penyandang disabilitas, lansia, veteran, hingga pengurus Karang Taruna telah menikmati fasilitas tersebut.

Terkait insiden yang menjadi perhatian publik, BAJA mengajak semua pihak untuk menunggu hasil evaluasi resmi. Berdasarkan informasi yang beredar, petugas bertindak setelah menerima laporan dari penumpang lain mengenai aroma yang sangat menyengat sehingga mengganggu kenyamanan pengguna layanan. Jika memang terdapat kekeliruan dalam penerapan prosedur, maka hal tersebut harus menjadi bahan evaluasi dan perbaikan SOP. Namun, menurut BAJA, hal itu tidak dapat dijadikan dasar untuk menghakimi seluruh institusi maupun kepemimpinan perusahaan.

BAJA juga mengingatkan bahwa sepanjang tahun 2026, di bawah kepemimpinan Welfizon Yuza, TransJakarta berhasil meraih berbagai penghargaan bergengsi tingkat nasional, di antaranya:

1. Transportasi Indonesia Award 2026, atas inovasi, kinerja bisnis, kepedulian terhadap lingkungan, serta profesionalisme pelayanan.

2. BUMD Entrepreneurial Marketing Awards (BEMA) 2026, dengan memborong empat penghargaan termasuk kategori pemasaran, teknologi, dan predikat Best of the Best.

3. TOP BUMD Awards 2026, sebagai bentuk pengakuan atas kinerja perusahaan yang unggul serta inovasi berkelanjutan.

4. Best Human Capital Awards 2026, dengan tiga penghargaan atas keberhasilan transformasi sumber daya manusia.

5. WOW Brand Award 2026, yang menunjukkan keberhasilan membangun layanan berbasis inovasi digital dan tingginya kepuasan pelanggan.

“Deretan penghargaan tersebut menunjukkan bahwa transformasi TransJakarta berada di jalur yang tepat. Kritik tentu harus diterima sebagai bahan evaluasi, tetapi harus disampaikan secara proporsional dan berbasis fakta. Jangan sampai satu kejadian menghapus berbagai prestasi yang telah diraih dan pelayanan kepada ratusan juta pelanggan setiap tahunnya,” tutup Lintang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *