Asap TPA Jatiwaringin Belum Usai, Yahya Zaini Desak Pemerintah Awasi Dampak Kesehatan Jangka Panjang

JAKARTA: BELA RAKYAT – Kebakaran yang masih melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, tidak lagi hanya dipandang sebagai persoalan pemadaman api. Di balik kepulan asap yang telah berlangsung berhari-hari, muncul kekhawatiran mengenai ancaman kesehatan masyarakat yang berpotensi berlangsung dalam jangka panjang.

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Yahya Zaini mengingatkan bahwa penanganan pemerintah tidak boleh berhenti ketika api berhasil dipadamkan. Menurutnya, dampak sesungguhnya justru dapat muncul setelah situasi darurat dinyatakan berakhir.

Bacaan Lainnya

Ancaman yang Tidak Selalu Terlihat

Asap hasil pembakaran sampah mengandung berbagai partikel dan senyawa yang dapat memengaruhi kesehatan manusia. Dampak awal seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) relatif mudah terdeteksi. Namun, risiko lain dapat berkembang secara perlahan apabila masyarakat terus terpapar dalam waktu yang lama.

Yahya Zaini menilai pemerintah harus mengantisipasi kemungkinan tersebut melalui pemantauan kesehatan secara berkala terhadap warga yang tinggal di sekitar lokasi kebakaran.

Ia menegaskan bahwa kebakaran TPA merupakan peristiwa lingkungan yang memiliki konsekuensi kesehatan masyarakat sehingga membutuhkan respons lintas sektor, bukan hanya penanganan kebakaran semata.

Monitoring Pascabencana Harus Menjadi Standar

Menurut Yahya, Indonesia perlu membangun sistem pemantauan kesehatan pascakejadian (post-disaster health monitoring) yang terintegrasi. Selama ini, perhatian terhadap korban sering kali berakhir ketika kondisi darurat selesai, padahal efek kesehatan dapat muncul beberapa bulan bahkan bertahun-tahun setelah paparan.

Program tersebut, menurutnya, dapat mencakup pemeriksaan kesehatan berkala, pendataan kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, lansia, dan penyandang penyakit kronis, hingga penyusunan basis data kesehatan masyarakat terdampak.

Ia berpandangan bahwa data tersebut penting sebagai dasar penyusunan kebijakan kesehatan lingkungan yang lebih akurat pada masa mendatang.

Trauma Warga Tak Boleh Diabaikan

Selain kesehatan fisik, Yahya juga menyoroti aspek psikologis masyarakat yang terdampak kebakaran.

Proses evakuasi, ketidakpastian kapan dapat kembali ke rumah, serta kekhawatiran terhadap keselamatan keluarga dinilai dapat memicu tekanan mental yang tidak ringan.

Karena itu, ia mendorong pemerintah menghadirkan layanan pendampingan psikologi dan program trauma healing bagi masyarakat terdampak, terutama anak-anak dan kelompok rentan.

Menurutnya, kesehatan mental merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari penanganan bencana lingkungan.

Ratusan Warga Masih Mengungsi

Hingga hari kesembilan proses pemadaman, api di TPA Jatiwaringin masih belum sepenuhnya berhasil dipadamkan.

Data pemerintah daerah menunjukkan sebanyak 51 kepala keluarga atau 158 jiwa telah dievakuasi dari dua desa terdampak, yakni Desa Tanjakan Mekar dan Desa Rajeg Mulya.

Pengungsian dilakukan sebagai langkah mengurangi risiko paparan asap tebal yang masih menyelimuti kawasan sekitar TPA.

Momentum Evaluasi Sistem Pengelolaan Sampah

Peristiwa di TPA Jatiwaringin dinilai menjadi pengingat bahwa persoalan pengelolaan sampah tidak lagi sekadar berkaitan dengan kebersihan lingkungan, tetapi juga menyangkut kesehatan publik.

Kebakaran yang berlangsung berhari-hari menunjukkan perlunya evaluasi terhadap sistem pengelolaan sampah, mekanisme pencegahan kebakaran, kesiapsiagaan pemerintah daerah, hingga kapasitas fasilitas pemrosesan akhir dalam menghadapi kondisi darurat.

Tanpa langkah pembenahan yang menyeluruh, risiko kejadian serupa diperkirakan dapat kembali terjadi di berbagai daerah.

Perlunya Kolaborasi Lintas Sektor

Yahya menilai penanganan dampak kebakaran TPA memerlukan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor kesehatan, lingkungan hidup, serta lembaga penanggulangan bencana.

Pendekatan tersebut dinilai penting agar masyarakat tidak hanya memperoleh perlindungan saat keadaan darurat berlangsung, tetapi juga mendapatkan jaminan kesehatan dalam jangka panjang.

Ia berharap kejadian di TPA Jatiwaringin menjadi momentum memperkuat sistem ketahanan kesehatan nasional terhadap berbagai risiko lingkungan, sehingga perlindungan masyarakat dapat dilakukan secara lebih komprehensif dan berkelanjutan.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *