Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI, PKS, Kalimantan Selatan I
Ada dua amalan sederhana, tetapi memiliki kedudukan yang sangat agung dalam kehidupan seorang mukmin. Keduanya tidak membutuhkan biaya, tidak memerlukan tenaga yang besar, dan bisa dilakukan kapan saja serta di mana saja. Namun, dampaknya begitu besar bagi kehidupan dunia maupun akhirat.
Dua amalan itu adalah BERSYUKUR dan BERISTIGHFAR
Syukur mengajarkan kita untuk menyadari betapa banyak nikmat Allah yang telah diberikan, sedangkan istighfar mengajarkan kita untuk menyadari betapa banyak dosa dan kekurangan yang masih melekat dalam diri.
Keduanya harus berjalan beriringan. Sebab, manusia tidak hanya membutuhkan tambahan nikmat, tetapi juga membutuhkan ampunan Allah SWT.
1. Syukur: Kunci Bertambahnya Nikmat
Syukur bukan sekadar mengucapkan Alhamdulillah ketika mendapatkan rezeki, memperoleh jabatan, meraih kesuksesan, atau menerima kabar baik.
Syukur adalah kesadaran hati bahwa segala sesuatu yang kita miliki sejatinya berasal dari Allah SWT.
Kesehatan, umur panjang, keluarga, pekerjaan, persahabatan, kesempatan beribadah, bahkan napas yang masih kita hirup hari ini merupakan nikmat yang sering kali terlupakan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)
Ayat ini memberikan pelajaran bahwa syukur bukan hanya bentuk terima kasih seorang hamba kepada Allah, melainkan juga jalan untuk mendapatkan tambahan nikmat-Nya.
Lalu, bagaimana cara kita bersyukur? Ada tiga bentuk syukur yang harus kita jaga:
Syukur dengan hati, yaitu meyakini bahwa semua nikmat berasal dari Allah SWT, bukan semata-mata karena kehebatan dan kemampuan diri sendiri.
Syukur dengan lisan, yaitu senantiasa memuji Allah, memperbanyak ucapan Alhamdulillah, dan tidak mudah mengeluh.
Syukur dengan perbuatan, yaitu menggunakan segala nikmat yang diberikan Allah untuk melakukan kebaikan, membantu sesama, menebarkan manfaat, dan menjalankan perintah-Nya.
Jangan sampai kita sibuk mengejar nikmat yang belum dimiliki, tetapi lupa mensyukuri nikmat yang sudah ada.
Bisa jadi, sesuatu yang hari ini kita anggap biasa saja justru merupakan sesuatu yang sangat diharapkan oleh orang lain.
Kita mengeluh karena pekerjaan terasa berat, sementara ada orang yang sedang berjuang mendapatkan pekerjaan.
Kita mengeluh karena rumah terasa sederhana, sementara ada orang yang belum memiliki tempat untuk berteduh.
Kita mengeluh karena makanan tidak sesuai selera, sementara ada saudara kita yang masih kesulitan mendapatkan makanan.
Maka, belajarlah bersyukur. Sebab, kebahagiaan bukan selalu tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa besar kemampuan kita menghargai pemberian Allah.
2. Istighfar: Jalan Memohon Ampunan dan Perlindungan Allah
Jika syukur mengajarkan kita melihat besarnya nikmat Allah, maka istighfar mengajarkan kita melihat besarnya kekurangan diri sendiri.
Tidak ada manusia yang sempurna. Setiap hari kita mungkin melakukan kesalahan, baik melalui perkataan, perbuatan, pikiran, maupun sikap terhadap sesama.
Terkadang kita menyakiti hati orang lain tanpa sadar. Terkadang kita lalai menjalankan kewajiban. Bahkan, terkadang kita menikmati begitu banyak nikmat, tetapi lupa kepada Zat yang telah memberikannya.
Karena itulah, istighfar harus menjadi bagian dari kehidupan seorang muslim.
Allah SWT berfirman: “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka memohon ampunan.” (QS. Al-Anfal: 33)
Ayat ini mengingatkan kita tentang keutamaan istighfar sebagai salah satu sebab datangnya perlindungan Allah dari azab.
Istighfar bukan hanya ucapan Astaghfirullah yang keluar dari lisan, tetapi harus disertai kesadaran hati, penyesalan atas dosa, dan tekad untuk memperbaiki diri.
Jangan menunggu menjadi orang baik untuk beristighfar. Justru karena kita masih penuh kekurangan, kita harus memperbanyak istighfar.
Jangan menunggu mendapatkan musibah untuk mengingat Allah. Jangan menunggu kehilangan sesuatu untuk menyadari betapa berharganya nikmat yang selama ini kita miliki.
Biasakan mengucapkan:
أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
Astaghfirullahal ‘azhiim wa atuubu ilaih.
Artinya: Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung dan aku bertobat kepada-Nya.
3. Syukur dan Istighfar: Dua Sayap Kehidupan Seorang Mukmin
Bayangkan jika dalam kehidupan ini kita hanya pandai bersyukur, tetapi tidak pernah merasa perlu memohon ampun kepada Allah.
Kita mungkin merasa sudah cukup baik, padahal masih banyak kesalahan yang belum kita sadari.
Sebaliknya, jika kita hanya sibuk memohon ampun, tetapi tidak pernah mensyukuri nikmat, kita akan mudah menjadi manusia yang selalu merasa kekurangan dan lupa menghargai pemberian Allah.
Oleh karena itu, syukur dan istighfar harus berjalan bersama. Syukur membuat hati kita kaya, sedangkan istighfar membuat hati kita bersih.
Syukur menghindarkan kita dari kesombongan, sementara istighfar menghindarkan kita dari merasa paling benar.
Syukur membuat kita menghargai apa yang sudah dimiliki, sedangkan istighfar membuat kita menyadari bahwa kita selalu membutuhkan pertolongan dan ampunan Allah.
Ada satu renungan penting: Jangan hanya menghitung berapa banyak rezeki yang belum kita dapatkan, tetapi hitunglah berapa banyak nikmat yang sudah Allah berikan.
Jangan hanya mengingat kesalahan orang lain kepada kita, tetapi ingat pula berapa banyak kesalahan kita kepada Allah dan kepada sesama manusia.
Jangan terlalu sibuk meminta kehidupan yang lebih baik, sementara kita belum memperbaiki hubungan dengan Allah.
4. Jangan Menunggu Kaya untuk Bersyukur, Jangan Menunggu Sakit untuk Beristighfar
Ada orang yang baru bersyukur ketika mendapatkan kekayaan. Ada yang baru mendekat kepada Allah ketika menghadapi kesulitan.
Ada yang baru rajin berdoa ketika sedang sakit. Ada pula yang baru menyadari pentingnya keluarga ketika kehilangan orang-orang yang dicintainya.
Padahal, seorang mukmin seharusnya senantiasa mengingat Allah dalam setiap keadaan. Ketika mendapatkan rezeki, bersyukurlah.
Ketika menghadapi ujian, bersabarlah dan tetaplah beristighfar. Ketika mendapatkan keberhasilan, jangan sombong. Ketika melakukan kesalahan, segeralah bertobat. Ketika doa belum dikabulkan, jangan berputus asa.
Sebab, kita tidak pernah tahu di balik kejadian hari ini terdapat hikmah dan kebaikan apa yang telah Allah siapkan untuk masa depan kita.
Ingatlah, tidak semua yang kita inginkan adalah yang terbaik bagi kita. Namun, Allah Maha Mengetahui apa yang benar-benar kita butuhkan.
5. Jadikan Alhamdulillah dan Astaghfirullah sebagai Kebiasaan Hidup
Mulailah hari dengan mengingat Allah. Saat membuka mata, bersyukurlah karena masih diberikan kesempatan hidup.
Saat menikmati makanan, bersyukurlah karena masih diberikan rezeki.
Saat bekerja, bersyukurlah karena masih diberikan kemampuan dan kesempatan berusaha.
Saat bertemu keluarga, bersyukurlah karena masih diberikan orang-orang yang menyayangi kita.
Dan sebelum memejamkan mata, luangkan waktu untuk mengevaluasi diri serta memohon ampun atas segala kekhilafan.
Jangan biarkan satu hari berlalu tanpa syukur dan istighfar. Perbanyaklah dua kalimat sederhana ini:
الْحَمْدُ لِلّٰهِ
Alhamdulillah.
Segala puji bagi Allah.
أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ
Astaghfirullah.
Aku memohon ampun kepada Allah. Tidak perlu menunggu kaya untuk bersyukur. Tidak perlu menunggu menjadi ahli ibadah untuk beristighfar.
Mulailah dari sekarang, mulai dari diri sendiri, dan lakukan secara istiqamah.
Karena sejatinya, hidup bukan hanya tentang seberapa banyak nikmat yang berhasil kita kumpulkan, tetapi juga tentang seberapa besar rasa syukur kita kepada Allah dan seberapa sungguh-sungguh kita memperbaiki diri.
RENUNGAN PENUTUP
Syukur adalah cara kita menghargai pemberian Allah. Istighfar adalah cara kita mengakui kekurangan diri di hadapan Allah.
Jika hari ini nikmat kita terasa begitu banyak, jangan lupa bersyukur.
Jika hari ini dosa dan kesalahan terasa begitu besar, jangan pernah berputus asa dari ampunan Allah.
Jika hari ini hidup terasa berat, jangan berhenti berdoa.
Dan jika hari ini Allah masih memberikan kita kesempatan untuk bangun, bernapas, beribadah, serta memperbaiki diri, itu pun sudah menjadi nikmat yang luar biasa.
Ingatlah: Ketika mendapatkan nikmat, ucapkan Alhamdulillah.
Ketika menyadari kesalahan, ucapkan Astaghfirullah.
Ketika menghadapi ujian, ucapkan Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Ketika memiliki harapan, jangan berhenti berdoa.
Ketika mendapatkan keberhasilan, tetaplah rendah hati.
Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang pandai bersyukur, mudah memohon ampun, kuat menghadapi ujian, tidak sombong ketika memperoleh nikmat, dan tidak berputus asa ketika menghadapi kesulitan.
Semoga setiap rezeki yang kita terima membawa keberkahan, setiap langkah kita bernilai ibadah, setiap kesalahan mendapatkan ampunan, dan setiap doa mendapatkan jawaban terbaik dari Allah SWT.
Jangan hanya mengejar nikmat dunia, tetapi kejarlah juga ampunan dan ridha Allah untuk keselamatan akhirat.
آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
Waktunya bangun, mendekatkan diri kepada Allah, dan melaksanakan Qiyamul Lail.
.





