Memutus Silaturahmi dengan Kerabat: Ketika Ego Mengalahkan Kasih Sayang dan Manusia Jauh dari Rahmat Allah

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI, PKS, Kalimantan Selatan I

Silaturahmi bukan sekadar tradisi saling berkunjung atau bertukar kabar. Dalam Islam, menjaga hubungan kekeluargaan merupakan perintah Allah SWT dan bagian penting dari keimanan seorang Muslim.

Bacaan Lainnya

Namun, dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit hubungan keluarga yang rusak karena persoalan dunia. Ada yang bermula dari masalah warisan, harta, kesalahpahaman, kecemburuan, perbedaan pendapat, hingga persoalan harga diri.

Saudara yang dahulu begitu dekat akhirnya menjadi seperti orang asing. Tidak lagi saling menyapa, tidak mau berkunjung, bahkan tidak peduli ketika salah satu mengalami kesulitan.

Lebih menyedihkan, terkadang hubungan itu terputus bukan karena tidak ada kesempatan untuk berdamai, melainkan karena masing-masing terlalu mempertahankan ego dan merasa paling benar.

Padahal, apakah persoalan dunia layak dibayar dengan terputusnya hubungan persaudaraan?

Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 1: “Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan kekeluargaan.”

Ayat ini mengingatkan bahwa menjaga hubungan kekeluargaan bukan perkara sepele. Ada perintah agama yang harus dijalankan dan ada tanggung jawab moral yang tidak boleh diabaikan.

Bahkan, Allah SWT memberikan peringatan keras dalam Surah Muhammad ayat 22–23 kepada orang-orang yang membuat kerusakan dan memutuskan hubungan kekeluargaan.

Rasulullah SAW juga bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini merupakan ancaman yang sangat serius. Para ulama menjelaskan bahwa pemutus silaturahmi termasuk pelaku dosa besar. Karena itu, setiap Muslim perlu berhati-hati agar tidak menjadikan persoalan pribadi sebagai alasan untuk memutus hubungan dengan kerabat dekat.

Rasulullah SAW bahkan mengajarkan bahwa orang yang benar-benar menyambung silaturahmi bukanlah sekadar orang yang membalas kebaikan orang lain, melainkan orang yang tetap menyambung hubungan meskipun kerabatnya terlebih dahulu memutuskan hubungan dengannya.

Inilah kemuliaan akhlak yang sesungguhnya. Bukan berarti kita harus membenarkan semua kesalahan kerabat. Bukan pula berarti seseorang harus membiarkan dirinya terus-menerus disakiti atau diperlakukan tidak adil. Menjaga jarak demi keselamatan dan menghindari tindakan yang membahayakan diperbolehkan. Namun, membatasi interaksi berbeda dengan memelihara kebencian dan memutus hubungan karena dendam.

Silaturahmi juga tidak harus selalu diwujudkan dengan memberikan uang atau bantuan materi. Terkadang cukup dengan mengucapkan salam, menanyakan kabar, mengirim pesan, atau menunjukkan kepedulian.

Jangan merasa bahwa menyapa lebih dahulu berarti kalah. Jangan menganggap meminta maaf sebagai bentuk kehinaan. Justru orang yang mampu mengalahkan egonya demi kebaikan merupakan orang yang sedang memperjuangkan kemuliaan akhlaknya.

Rasulullah SAW juga bersabda bahwa siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan diberkahi umurnya, hendaklah menyambung tali silaturahmi. (HR. Bukhari dan Muslim).

Artinya, silaturahmi bukan hanya menjaga hubungan antarmanusia, tetapi juga menjadi jalan meraih keberkahan kehidupan.

Ada satu hal yang perlu kita renungkan: jangan sampai kita begitu baik kepada orang lain, tetapi justru mengabaikan saudara sendiri. Jangan sampai kita sibuk mencari penghormatan di tengah masyarakat, tetapi tidak peduli ketika keluarga dekat membutuhkan perhatian.

Harta bisa dicari kembali. Jabatan bisa berganti. Persoalan dunia bisa diselesaikan. Namun, ketika seorang saudara meninggal dunia, tidak ada lagi kesempatan untuk mengulang waktu, memperbaiki percakapan, atau menyampaikan permintaan maaf yang dahulu tertunda.

Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari arti persaudaraan.

Jika masih ada kesempatan untuk menyapa, sapalah. Jika pernah melakukan kesalahan, mintalah maaf. Jika ada persoalan, carilah jalan penyelesaian. Jangan biarkan anak-anak dan generasi berikutnya mewarisi permusuhan yang sebenarnya bukan kesalahan mereka.

Pada akhirnya, kita semua akan kembali kepada Allah SWT. Kekayaan, jabatan, dan kehormatan dunia tidak akan kita bawa sebagai alasan untuk membenarkan permusuhan.

Mari bertanya kepada diri sendiri: sudah berapa lama kita tidak menyapa saudara sendiri? Apakah kita benar-benar sudah berusaha memperbaiki hubungan, atau justru terlalu sibuk menunggu orang lain mengalah?

Jangan putuskan hubungan yang Allah perintahkan untuk disambung. Jangan biarkan ego mengalahkan kasih sayang. Jangan biarkan persoalan dunia menjauhkan kita dari rahmat Allah SWT.

Semoga Allah melembutkan hati kita, mengampuni segala kesalahan, menjauhkan kita dari sifat sombong dan pendendam, serta memberikan kekuatan untuk saling memaafkan dan menjaga tali silaturahmi.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *