Tiga Nikmat Allah Sering Kita Lupakan: Kesehatan, Waktu dan Rasa Aman

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI, PKS, Kalimantan Selatan I

Jika kita berhenti sejenak dan merenungkan perjalanan hidup, sesungguhnya hampir setiap detik yang kita lalui adalah bagian dari nikmat Allah. Kita masih bisa membuka mata ketika bangun tidur, menghirup udara tanpa harus membayar, menggerakkan anggota tubuh, berjalan, berbicara, melihat orang-orang yang kita cintai, serta menikmati makanan dan minuman. Semua itu merupakan anugerah yang nilainya tidak dapat diukur dengan uang.

Bacaan Lainnya

Namun, ada satu sifat manusia yang sering kali menjadi kelemahan: kita lebih mudah menyadari besarnya sebuah nikmat setelah nikmat tersebut hilang.

Ketika sehat, kita sering lupa menjaga tubuh. Ketika memiliki waktu luang, kita justru sibuk menghabiskannya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Ketika hidup dalam keadaan aman, kita terkadang lupa bahwa di luar sana ada banyak saudara kita yang setiap hari harus berjuang menghadapi ketakutan, kelaparan, peperangan, dan ketidakpastian hidup.

Padahal, Rasulullah SAW telah mengingatkan kita tentang dua nikmat besar yang sering membuat manusia tertipu, yaitu kesehatan dan waktu luang.

Dalam hadis riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda: “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari).

Selain kedua nikmat tersebut, ada pula nikmat rasa aman dan terpenuhinya kebutuhan pokok yang sering kita anggap sebagai sesuatu yang biasa.

Mari kita renungkan tiga nikmat besar yang sesungguhnya sangat berharga dalam kehidupan manusia.

1. Nikmat Kesehatan: Sesuatu yang Mahal, tetapi Sering Tidak Kita Syukuri

Kesehatan merupakan salah satu kekayaan terbesar yang diberikan Allah SWT kepada manusia.

Sayangnya, banyak orang baru memahami betapa berharganya kesehatan ketika tubuh mulai melemah, penyakit datang, dan aktivitas sehari-hari tidak lagi dapat dilakukan seperti biasanya.

Saat sehat, kita bisa berjalan ke mana saja, bekerja mencari nafkah, berkumpul bersama keluarga, beribadah, membantu orang lain, dan mengejar cita-cita. Kita bahkan sering lupa bahwa kemampuan untuk berdiri, melangkah, melihat, mendengar, dan bernapas merupakan karunia yang luar biasa.

Tetapi ketika sakit datang, semuanya berubah. Makanan yang dahulu terasa nikmat mungkin tidak lagi bisa kita santap. Tempat tidur yang nyaman menjadi tempat kita menghabiskan waktu berhari-hari. Aktivitas sederhana seperti berjalan ke kamar mandi pun terkadang membutuhkan bantuan orang lain.

Pada saat itulah kita mulai menyadari bahwa kesehatan tidak bisa selalu dibeli dengan uang.

Ada orang yang memiliki kekayaan melimpah, tetapi bersedia mengeluarkan berapa pun hartanya demi memperoleh kesembuhan. Ada pula orang yang memiliki jabatan tinggi, tetapi tidak mampu menikmati kebahagiaan karena tubuhnya sedang sakit.

Karena itu, jangan menunggu sakit untuk menghargai kesehatan. Gunakan tubuh yang sehat untuk memperbanyak ibadah, bekerja dengan jujur, mencari rezeki yang halal, membantu sesama, berbakti kepada orang tua, serta melakukan berbagai kebaikan.

Jangan biarkan kesehatan hanya menjadi sarana untuk mengejar dunia, tetapi lupakan kewajiban kepada Allah SWT.

Allah berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 34: “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.”

Kesehatan adalah amanah. Menjaganya merupakan bagian dari rasa syukur kita kepada Sang Pencipta.

2. Nikmat Waktu Luang: Kesempatan yang Tidak Pernah Bisa Kembali

Waktu merupakan salah satu nikmat paling berharga dalam kehidupan manusia.

Uang yang hilang masih mungkin dicari kembali. Harta yang berkurang masih mungkin dikumpulkan lagi. Namun, waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali, sekalipun kita memiliki kekayaan sebanyak apa pun.

Hari ini tidak akan terulang dengan cara yang sama. Kesempatan yang kita miliki sekarang belum tentu datang kembali esok hari. Sayangnya, manusia sering kali tidak menyadari hal tersebut.

Ketika memiliki waktu luang, kita justru menghabiskannya untuk kesibukan yang tidak membawa manfaat. Berjam-jam dihabiskan untuk membicarakan kekurangan orang lain, memperdebatkan hal yang tidak penting, bermain tanpa batas, atau mengejar kesenangan sesaat.

Kita sering berkata, “Nanti saja kalau sudah punya waktu.”

Nanti beribadah lebih baik. Nanti memperbaiki hubungan dengan keluarga. Nanti meminta maaf kepada orang tua. Nanti bersedekah. Nanti membantu saudara. Nanti membaca Al-Qur’an. Nanti menjadi manusia yang lebih baik.

Padahal, tidak ada seorang pun yang dapat menjamin bahwa hari esok masih menjadi miliknya.

Bisa jadi, kesempatan yang kita miliki hari ini adalah kesempatan terakhir untuk melakukan sesuatu yang baik bagi orang lain.

Allah SWT mengingatkan dalam QS. Al-‘Ashr ayat 1–3: “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”

Ayat ini mengajarkan bahwa kehidupan manusia tidak boleh dihabiskan tanpa tujuan.

Waktu harus digunakan untuk sesuatu yang memiliki nilai, baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat.

Bekerjalah selagi memiliki kesempatan. Belajarlah selagi pikiran masih mampu menerima ilmu. Berbuat baiklah selagi tenaga masih kuat. Mintalah maaf sebelum terlambat. Sayangilah keluarga sebelum waktu memisahkan kita.

Jangan sampai ketika usia semakin bertambah, kita baru menyadari bahwa terlalu banyak waktu yang telah terbuang untuk sesuatu yang tidak membawa kebaikan.

Ingatlah, umur bukan sekadar angka, tetapi kesempatan untuk memperbanyak amal dan meninggalkan jejak kebaikan.

3. Nikmat Rasa Aman dan Kecukupan Kebutuhan Pokok: Kebahagiaan yang Sering Dianggap Biasa

Ada satu nikmat yang sering kali tidak kita sadari nilainya, yaitu rasa aman.

Kita bisa tidur pada malam hari tanpa ketakutan. Anak-anak bisa berangkat sekolah. Orang tua dapat beristirahat di rumah. Kita bisa bekerja, beribadah, berkumpul dengan keluarga, dan menjalani aktivitas sehari-hari tanpa harus terus-menerus merasa terancam.

Semua itu adalah nikmat yang sangat besar. Cobalah membayangkan kehidupan saudara-saudara kita yang berada di wilayah konflik dan peperangan. Mereka mungkin tidak memiliki kepastian apakah rumahnya masih berdiri esok hari, apakah keluarganya masih selamat, atau apakah mereka dapat memperoleh makanan untuk hari berikutnya.

Sementara kita, terkadang masih mengeluh hanya karena persoalan kecil.

Kita mengeluh karena penghasilan belum sesuai harapan, rumah belum sebesar keinginan, kendaraan belum berganti, atau kehidupan belum seperti yang dibayangkan.

Padahal, masih bisa pulang ke rumah dengan selamat, makan bersama keluarga, dan tidur dengan tenang merupakan kebahagiaan yang tidak ternilai.

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa di antara kalian memasuki waktu pagi dalam keadaan aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan seluruh dunia telah dikumpulkan untuknya.” (HR. Tirmidzi).

Hadis ini mengajarkan sebuah ukuran kebahagiaan yang sangat mendalam.

Ternyata, kebahagiaan tidak selalu harus diukur dari banyaknya harta, tingginya jabatan, luasnya rumah, atau besarnya kekuasaan.

Terkadang, kebahagiaan paling sederhana adalah bisa hidup dengan aman, tubuh sehat, dan kebutuhan pokok tercukupi.

Bukan berarti kita tidak boleh memiliki cita-cita besar atau berusaha meningkatkan taraf kehidupan. Kita tetap harus bekerja keras, berikhtiar, dan memperjuangkan masa depan yang lebih baik.

Namun, jangan sampai ambisi membuat kita kehilangan rasa syukur terhadap apa yang telah Allah berikan.

Jangan menunggu kehilangan rumah untuk menghargai tempat berteduh. Jangan menunggu kelaparan untuk menghargai sepiring nasi. Jangan menunggu perpisahan untuk menghargai kehadiran keluarga.

Sebab, sesuatu yang hari ini kita anggap biasa, bisa jadi merupakan impian terbesar bagi orang lain.

Jangan Menunggu Kehilangan untuk Belajar Bersyukur

Ada pelajaran penting dari ketiga nikmat tersebut: manusia sering kali terlalu sibuk melihat apa yang belum dimiliki, sehingga lupa menikmati apa yang sudah diberikan Allah SWT.

Kita terlalu sering membandingkan kehidupan dengan orang lain.

Melihat orang lain lebih kaya, kita merasa miskin. Melihat orang lain memiliki jabatan lebih tinggi, kita merasa tidak berhasil. Melihat orang lain lebih terkenal, kita merasa kehidupan kita tidak berarti.

Padahal, setiap manusia memiliki perjalanan, ujian, dan takdir masing-masing.

Tidak semua orang yang kaya memiliki ketenangan. Tidak semua orang yang terkenal memiliki kebahagiaan. Tidak semua orang yang memiliki jabatan tinggi dapat menikmati kesehatan.

Ada orang yang hartanya banyak, tetapi kehilangan waktu bersama keluarga. Ada orang yang memiliki kekuasaan, tetapi hidup dalam kecemasan. Ada orang yang rumahnya besar, tetapi hatinya tidak pernah merasa damai.

Karena itu, belajarlah melihat kehidupan bukan hanya dari apa yang belum kita capai, tetapi juga dari begitu banyak nikmat yang masih kita miliki.

Syukur bukan berarti berhenti berusaha. Syukur justru membuat kita lebih kuat dalam menjalani kehidupan.

Orang yang bersyukur tetap bekerja keras, tetapi tidak diperbudak oleh ambisi. Tetap mengejar cita-cita, tetapi tidak melupakan kewajiban kepada Allah. Tetap berusaha menjadi lebih baik, tetapi tidak merendahkan kehidupan orang lain.

Tahajud: Saat Terbaik untuk Mengingat Allah dan Mengoreksi Diri

Di antara kesibukan dunia, ada waktu yang sangat istimewa untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, yaitu ketika malam mulai sunyi dan sebagian besar manusia terlelap dalam tidurnya.

Bangunlah pada sepertiga malam terakhir. Ambillah air wudu, tunaikan salat tahajud, lalu berdoalah dengan hati yang tulus.

Tidak perlu menunggu menjadi orang kaya untuk bersujud. Tidak perlu menunggu semua masalah selesai untuk berdoa. Tidak perlu menunggu menjadi manusia sempurna untuk mendekat kepada Allah.

Datanglah kepada-Nya dengan segala kekurangan, kesedihan, kesalahan, harapan, dan kegelisahan yang kita miliki.

Ceritakan apa yang tidak mampu kita ceritakan kepada manusia. Mohonkan ampun atas dosa-dosa yang pernah dilakukan. Mintalah kesehatan, keberkahan umur, rezeki yang halal, ketenangan hati, keselamatan keluarga, dan kemudahan dalam menjalani kehidupan.

Jangan hanya berdoa ketika sedang membutuhkan sesuatu. Berdoalah juga ketika sedang bahagia, ketika sehat, ketika memiliki rezeki, dan ketika semua urusan terasa berjalan dengan baik.

Sebab, hubungan seorang hamba dengan Allah bukan hanya tentang meminta pertolongan ketika kesulitan, tetapi juga tentang mengingat dan mensyukuri-Nya dalam setiap keadaan.

Penutup: Sebelum Semua Nikmat Itu Berubah Menjadi Kenangan

Pada akhirnya, kehidupan ini bukan tentang seberapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan, seberapa tinggi jabatan yang pernah kita duduki, atau seberapa besar nama kita dikenal manusia.

Lebih dari itu, kehidupan adalah tentang bagaimana kita menggunakan setiap nikmat yang telah Allah titipkan.

Jika hari ini kita masih sehat, gunakan kesehatan untuk beribadah dan berbuat baik.

Jika hari ini kita masih memiliki waktu, gunakan waktu untuk memperbaiki diri dan membahagiakan orang-orang yang kita cintai.

Jika hari ini kita masih hidup dalam keadaan aman dan kebutuhan pokok tercukupi, jangan lupa berbagi dengan mereka yang sedang mengalami kesulitan.

Jangan menjadi manusia yang baru pandai bersyukur setelah kehilangan.

Jangan menunggu sakit untuk menghargai kesehatan. Jangan menunggu usia senja untuk menyadari pentingnya waktu. Jangan menunggu kehilangan keluarga untuk memahami arti kebersamaan. Jangan menunggu kesulitan datang untuk mengingat Allah SWT.

Ingatlah, semua yang kita miliki hanyalah titipan. Kesehatan, waktu, harta, keluarga, jabatan, bahkan kehidupan itu sendiri suatu saat akan kita tinggalkan.

Maka, selagi Allah masih memberikan kesempatan, perbanyaklah syukur, perbaiki ibadah, jaga hubungan antarsesama, dan tinggalkan kebaikan sebanyak mungkin.

Sebab, nikmat terbesar bukan hanya ketika Allah memberikan apa yang kita inginkan, tetapi juga ketika Allah masih memberikan kesempatan kepada kita untuk memperbaiki diri dan kembali kepada-Nya.

Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang pandai bersyukur, diberikan kesehatan yang membawa keberkahan, umur yang bermanfaat, rezeki yang halal, keluarga yang sakinah, kehidupan yang aman, serta akhir kehidupan yang husnul khatimah.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *