H. Isam di Mata Erwin Aksa: Dari Tukang Ojek hingga Pilar Ketahanan Energi Nasional

JAKARTA – BELA RAKYAT – Perjalanan hidup Andi Syamsuddin Arsyad atau yang lebih dikenal dengan Haji Isam menjadi gambaran hidup bagaimana kerja keras, ketekunan, keberanian mengambil peluang, dan kemauan belajar mampu mengantarkan seseorang membangun usaha berskala besar hingga kini.

Kisah pengusaha asal Kalimantan Selatan yang dikenal sebagai pemilik Jhonlin Group tersebut mendapat perhatian dari pengusaha nasional sekaligus Anggota DPR RI Erwin Aksa. Melalui sebuah konten inspiratif di akun Instagram pribadinya, @erwinaksa.id, Erwin membagikan perjalanan Haji Isam, mulai dari kehidupan sederhana hingga menjadi salah satu pengusaha yang memiliki jaringan bisnis lintas sektor di Indonesia.

Bacaan Lainnya

Dalam unggahan tersebut, Erwin menyampaikan pesan yang menggambarkan pandangannya mengenai arti sebuah kesuksesan.

“Saya selalu percaya, kesuksesan besar tidak lahir dari kenyamanan, tetapi dari kerja keras dan keberanian memulai dari nol,” tulis Erwin Aksa.

Pesan tersebut mengangkat perjalanan Haji Isam yang tidak dibangun melalui jalan pintas. Sebelum dikenal sebagai pengusaha besar, ia pernah menjalani berbagai pekerjaan yang menuntut tenaga dan ketahanan fisik, mulai dari tukang ojek, sopir angkutan kayu, hingga pekerja di lingkungan pertambangan.

Berangkat dari Keluarga Sederhana, Mengenal Kerasnya Kehidupan

Andi Syamsuddin Arsyad lahir pada 1 Januari 1977. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya, Andi Arsyad, merupakan perantau asal Bone, Sulawesi Selatan, yang merintis kehidupan di Kalimantan Selatan dengan berdagang tembakau. Sementara ibunya, Wardatul Wardiyah, berasal dari Kalimantan Selatan.

Kondisi ekonomi keluarga membuat Haji Isam terbiasa menghadapi kehidupan yang tidak selalu mudah. Ia tidak langsung memasuki dunia bisnis melalui fasilitas maupun kemewahan, melainkan menjalani berbagai pekerjaan untuk menopang kehidupannya.

Pengalaman sebagai tukang ojek, sopir truk pengangkut kayu, dan pekerja di sektor pertambangan menjadi bagian dari perjalanan awalnya.

Pekerjaan tersebut bukan sekadar cara mendapatkan penghasilan. Di lingkungan pertambangan, ia mulai mengenal karakter industri batu bara, memahami pekerjaan lapangan, mempelajari mesin, serta melihat secara langsung bagaimana kegiatan operasional pertambangan dijalankan.

Pengalaman praktis inilah yang kemudian menjadi salah satu bekal ketika ia mulai memasuki dunia usaha.

Pertemuan dengan Johan Maulana Menjadi Titik Penting

Perjalanan Haji Isam memasuki babak baru ketika berkenalan dengan pengusaha batu bara, Johan Maulana.

Masih dari akun Erwin Aksa, Haji Isam mendapatkan kesempatan belajar mengenai pengelolaan usaha pertambangan dari Johan. Sejak sekitar 2001, ia bekerja di perusahaan milik Johan dan memperoleh pengalaman selama kurang lebih dua tahun.

Hubungan tersebut menjadi salah satu fase penting dalam proses pembentukan kapasitas bisnisnya.

Ia tidak hanya mengenal pekerjaan teknis pertambangan, tetapi juga mulai memahami bagaimana mengelola kegiatan usaha, mengatur operasional, memanfaatkan alat berat, serta membaca peluang dalam industri batu bara.

Pada 2003, Johan memberikan pinjaman modal untuk menyewa alat berat pertambangan. Kesempatan tersebut menjadi pintu masuk bagi Haji Isam untuk menjalankan usaha sebagai kontraktor pertambangan.

Selanjutnya, pada 2004, ia mulai menjalankan bisnis dengan bendera CV Jhonlin Baratama. Perusahaan tersebut kemudian berkembang menjadi PT Jhonlin Baratama pada 2005.

Dalam fase awal bisnisnya, Jhonlin terlibat sebagai kontraktor pelaksana pekerjaan pertambangan untuk PT Arutmin Indonesia.

Keberhasilan membangun hubungan bisnis dan menjalankan pekerjaan pertambangan menjadi fondasi bagi perkembangan perusahaan yang kemudian dikenal melalui nama besar Jhonlin Group.

Dari Pertambangan Membangun Ekosistem Bisnis Terintegrasi

Salah satu perkembangan penting dalam perjalanan Haji Isam adalah keberaniannya memperluas usaha melampaui sektor pertambangan batu bara.

Jhonlin Group kemudian berkembang dengan kegiatan usaha yang mencakup sejumlah sektor strategis, mulai dari pertambangan, transportasi udara, pelayaran, logistik, perkebunan kelapa sawit, pengolahan hasil perkebunan, hingga industri energi.

Di sektor pertambangan, terdapat PT Jhonlin Baratama yang menjadi salah satu perusahaan utama dalam kegiatan bisnis batu bara.

Di bidang transportasi udara, terdapat Jhonlin Air Transport. Sementara untuk sektor pelayaran dan logistik laut, Jhonlin mengembangkan Jhonlin Marine and Shipping.

Ekspansi juga dilakukan melalui sektor perkebunan dan pengolahan kelapa sawit, antara lain PT Jhonlin Agro Mandiri dan PT Jhonlin Agro Raya.

Pengembangan sektor hilirisasi sawit menjadi bagian penting dari strategi bisnis tersebut. Melalui PT Jhonlin Agro Raya, Jhonlin Group mengembangkan industri pengolahan minyak sawit menjadi biodiesel.

Pabrik biodiesel di Kalimantan Selatan bahkan pernah diresmikan Presiden Joko Widodo pada Oktober 2021. Kehadiran industri tersebut memperlihatkan keterlibatan kelompok usaha Jhonlin dalam pengembangan energi berbasis sumber daya domestik.

Tidak berhenti di sana, ekspansi juga dilakukan ke industri gula melalui pembangunan pabrik gula di Bombana, Sulawesi Tenggara.

Rangkaian usaha tersebut memperlihatkan bagaimana bisnis yang awalnya bertumpu pada pertambangan berkembang menuju ekosistem usaha yang menghubungkan sumber daya alam, produksi, pengolahan, transportasi, dan distribusi.

Hilirisasi, Energi, dan Ketahanan Pangan Menjadi Arah Pengembangan

Perluasan usaha Jhonlin Group menarik untuk dilihat dalam konteks pembangunan ekonomi nasional.

Pertambangan batu bara merupakan salah satu sektor penting dalam industri energi Indonesia. Namun, pengembangan bisnis ke sektor perkebunan, pengolahan minyak sawit, biodiesel, dan industri gula memperlihatkan adanya upaya memperluas sumber pendapatan sekaligus memasuki rantai nilai industri yang lebih panjang.

Di sektor biodiesel, pengolahan minyak sawit menjadi bahan bakar nabati berkaitan dengan agenda pemanfaatan sumber daya domestik dan pengembangan energi alternatif.

Sementara di sektor gula, pembangunan fasilitas pengolahan membuka ruang pengembangan industri berbasis perkebunan yang memiliki keterkaitan dengan kebutuhan pangan masyarakat.

Tentu, kontribusi suatu perusahaan terhadap ketahanan energi dan pangan nasional tetap perlu dilihat berdasarkan kapasitas produksi, penyerapan tenaga kerja, investasi, distribusi, serta dampak ekonominya. Namun, diversifikasi usaha yang dilakukan Jhonlin menunjukkan bahwa aktivitas bisnis kelompok tersebut tidak hanya berada pada satu komoditas.

Erwin Aksa dan Posisi Haji Isam di Lingkungan Kadin Indonesia

Kisah Haji Isam juga memiliki relevansi dengan dunia organisasi pengusaha nasional.

Dalam kepengurusan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia masa bakti 2024–2029, Andi Syamsuddin Arsyad tercatat sebagai anggota Dewan Penasihat.

Penetapan tersebut tertuang dalam SK Kadin Indonesia Nomor 14/DP/3/2025. Pada pengukuhan pengurus Kadin di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat, 14 Maret 2025, Erwin Aksa yang menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah membacakan susunan pengurus, termasuk nama Haji Isam.

Dalam kesempatan tersebut, Erwin menyebut nama Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam sebagai salah satu anggota Dewan Penasihat, bersama pengusaha Toto Sugiri.

Kehadiran Haji Isam dalam jajaran Dewan Penasihat Kadin memperlihatkan keterlibatannya dalam lingkungan organisasi yang menghimpun para pelaku usaha nasional.

Bagi dunia usaha, pengalaman para pengusaha yang membangun perusahaan dari sektor riil dapat menjadi salah satu sumber pembelajaran mengenai investasi, pengembangan industri, penciptaan lapangan kerja, serta perluasan kegiatan ekonomi di daerah.

Kisah dari Nol yang Menjadi Pelajaran bagi Pengusaha Muda

Jika ditarik dari perjalanan panjangnya, ada sejumlah fase yang membentuk perjalanan bisnis Haji Isam.

Ia memulai dari pekerjaan lapangan, memperoleh pengalaman langsung di lingkungan pertambangan, belajar dari pengusaha yang lebih dahulu berkecimpung dalam industri batu bara, kemudian membangun perusahaan sendiri dan memperluas kegiatan usahanya ke berbagai sektor.

Perjalanan tersebut memperlihatkan pentingnya pengalaman, jejaring, kesempatan, pembiayaan, dan kemampuan membaca peluang dalam membangun sebuah usaha.

Kisah Haji Isam juga memberikan gambaran, dunia kewirausahaan tidak selalu dimulai dari modal besar. Pengalaman kerja dan kemampuan memahami persoalan di lapangan dapat menjadi bekal untuk memasuki dunia bisnis yang lebih luas.

Pesan Erwin Aksa mengenai kesuksesan yang tidak lahir dari kenyamanan menjadi relevan ketika melihat perjalanan tersebut. Keberanian memulai, kemauan belajar, dan konsistensi mengembangkan usaha merupakan bagian dari proses yang mengiringi pertumbuhan Jhonlin Group.

Pada akhirnya, perjalanan Haji Isam bukan hanya cerita tentang seseorang yang berhasil membangun kekayaan melalui bisnis pertambangan. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menggambarkan transformasi dari pekerja lapangan menjadi pengusaha yang mengembangkan jaringan industri di berbagai sektor.

Dari tukang ojek, sopir angkutan kayu, hingga membangun perusahaan pertambangan dan memperluas usaha ke sektor energi serta pangan, perjalanan Haji Isam menjadi kisah yang dibagikan Erwin Aksa sebagai inspirasi tentang kerja keras dan keberanian memulai dari bawah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *