JAKARTA – BELA RAKYAT – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah cara generasi muda berkomunikasi, mencari informasi, hingga mengungkapkan persoalan pribadi. Fenomena remaja yang mulai menjadikan AI sebagai teman bercerita mendapat perhatian Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji.
Wihaji mengingatkan bahwa meskipun teknologi AI dapat menjadi sarana untuk memperoleh informasi dan teman berdiskusi, remaja tidak seharusnya menggantungkan kebutuhan emosional sepenuhnya kepada teknologi tersebut.
Menurutnya, AI tetap merupakan teknologi yang tidak memiliki hati dan perasaan sebagaimana manusia. Karena itu, persoalan yang berkaitan dengan kemanusiaan, kondisi psikologis, serta kebutuhan dukungan emosional idealnya juga dikomunikasikan dengan orang-orang terdekat.
“AI itu robot. Dia tidak punya hati. Untuk hal-hal yang berkenaan dengan kemanusiaan, hati, dan psikologis, bisa dikomunikasikan kepada teman-teman sebaya yang diharapkan mengerti,” ujar Wihaji dalam kegiatan peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia, sebagaimana dikutip dari Antara.
Ia menegaskan, penggunaan AI untuk bercerita bukan sesuatu yang harus dilarang. Namun, remaja perlu memahami batasan teknologi dan tetap membangun hubungan sosial yang sehat dengan lingkungan sekitarnya.
Salah satu langkah yang dikembangkan Kemendukbangga adalah memperkuat peran Generasi Berencana (Genre) dan Pusat Informasi Konseling Remaja (PIK-R). Kedua wadah tersebut diharapkan menjadi ruang aman bagi generasi muda untuk berbagi pengalaman, menyampaikan persoalan, sekaligus memperoleh pendampingan.
Remaja Membutuhkan Ruang Aman untuk Bercerita
Wihaji menyoroti persoalan komunikasi antara anak dan orang tua yang masih menjadi tantangan dalam keluarga. Tidak sedikit remaja yang memilih menyimpan masalah sendiri karena khawatir mendapatkan penilaian negatif, dimarahi, atau langsung disalahkan ketika mencoba bercerita.
Kondisi tersebut membuat kehadiran teman sebaya menjadi penting. Dengan lingkungan pertemanan yang positif, remaja diharapkan memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaan dan mencari dukungan ketika menghadapi persoalan.
Karena itu, membangun komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak perlu menjadi perhatian bersama. Orang tua diharapkan tidak hanya hadir untuk memberikan nasihat, tetapi juga mampu menjadi pendengar yang baik tanpa terburu-buru menghakimi.
Menangis Bukan Berarti Lemah, Berani Bercerita Justru Bentuk Kepedulian terhadap Diri Sendiri
Dalam kesempatan tersebut, Wihaji juga mengingatkan bahwa keberanian mengungkapkan perasaan, termasuk menangis ketika menghadapi tekanan, bukanlah tanda kelemahan.
Menurutnya, masih terdapat anggapan di kalangan remaja bahwa menceritakan persoalan pribadi atau menunjukkan kesedihan merupakan sikap cengeng. Padahal, mengakui kondisi emosional merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan mental.
“Karena rata-rata, saya malu, saya dianggap nanti tidak petarung. Padahal, cerita bukan berarti cengeng, menangis bukan berarti cengeng,” tuturnya.
Ia juga mendorong remaja agar tidak ragu mencari bantuan tenaga profesional, seperti psikolog, apabila menghadapi persoalan psikologis yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi seharusnya berjalan beriringan dengan penguatan hubungan antarmanusia. AI dapat membantu memberikan informasi dan ruang untuk mengurai pikiran, tetapi dukungan emosional, kepedulian, serta pendampingan nyata dari sesama manusia tetap memiliki peran penting dalam kehidupan remaja.






