Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin
Ada paradoks yang patut kita renungkan dari kehidupan anak muda hari ini, di tengah derasnya arus informasi dan luasnya ruang berekspresi, mengapa sebagian justru semakin menjauh dari persoalan sosial? Apakah mereka kehilangan kepedulian, mengalami kelelahan sosial, atau sedang mencari cara baru untuk menghadapi realitas?
Anak muda hidup di tengah tuntutan pendidikan, persaingan kerja, ketidakpastian masa depan, dan tekanan media sosial. Tidak sedikit yang kehabisan energi untuk mengurus persoalan hidupnya sendiri, sementara berbagai persoalan sosial terus bermunculan.
Kelelahan sosial bukanlah tanda kelemahan. Setiap orang membutuhkan ruang untuk memulihkan diri. Namun, persoalan muncul ketika kelelahan berubah menjadi ketidakpedulian, kekecewaan menjelma sinisme, dan keyakinan bahwa perubahan mustahil terjadi menjadi alasan untuk berhenti berbuat.
Ketika ketidakadilan dianggap biasa, penderitaan sesama dipandang bukan urusan kita, dan suara kritis dinilai sia-sia, di situlah apatisme mulai mengakar.
Yang berbahaya bukan ketika anak muda lelah menghadapi keadaan, melainkan ketika mereka berhenti percaya bahwa keadaan masih bisa diperbaiki.
Namun, tidak adil jika seluruh anak muda dicap apatis. Banyak yang justru tampil kritis, kreatif, dan peduli melalui gerakan sosial, inovasi, pendidikan, pengabdian, serta perjuangan menjaga keadilan dan lingkungan.
Kesadaran kritis bukan sekadar berani mengkritik atau menyalahkan keadaan. Ia adalah kemampuan memahami persoalan berdasarkan fakta, mengenali akar masalah, mempertimbangkan nilai moral, dan menawarkan solusi yang bertanggung jawab.
Kritik tanpa pengetahuan mudah menjadi prasangka, keberanian tanpa etika dapat melahirkan kerusakan, tetapi nalar yang tajam, hati yang peka, dan tindakan nyata dapat melahirkan perubahan.
Media sosial pun menghadirkan dua wajah. Ia dapat menjadi ruang solidaritas dan perjuangan, tetapi juga memicu kelelahan, kecemasan, serta kepedulian sesaat. Sebuah persoalan mungkin viral hari ini, lalu terlupakan esok hari. Padahal, kepedulian sejati tidak diukur dari ramainya komentar, melainkan dari konsistensi tindakan dan manfaat yang dihasilkan.
Tanggung jawab membangun karakter anak muda bukan hanya milik mereka sendiri. Keluarga harus memberi keteladanan, pendidikan perlu menumbuhkan nalar kritis dan integritas, organisasi harus membuka ruang pengabdian, dan pemerintah wajib menyediakan kesempatan partisipasi yang nyata. Anak muda juga perlu belajar memulihkan diri tanpa kehilangan empati, mengubah kemarahan menjadi pengetahuan, dan menjadikan kritik sebagai kontribusi.
Kita tidak harus menyelesaikan seluruh persoalan dunia. Membantu sesama, menjaga kejujuran, merawat lingkungan, dan memperjuangkan keadilan dari lingkup terdekat merupakan langkah kecil yang dapat menghasilkan perubahan besar jika dilakukan bersama dan berkelanjutan.
Dengan demikian, kita tidak membutuhkan generasi yang selalu marah, tetapi juga tidak membutuhkan generasi yang diam menghadapi ketidakadilan. Kita membutuhkan anak muda yang berpikir jernih, berani bersuara, santun dalam berbeda, dan bertanggung jawab atas tindakannya.
Jangan biarkan kelelahan membuat anak muda kehilangan kepedulian, tetapi jangan pula menuntut mereka memperbaiki dunia tanpa memberikan ruang, kepercayaan, dan keteladanan.
Sebab, ketika kepedulian memudar, ketidakadilan semakin leluasa. Ketika nalar kritis melemah, kebenaran kehilangan pembela. Dan ketika harapan terhadap perubahan padam, masa depan berisiko dikuasai oleh keadaan yang sebenarnya masih dapat diperbaiki.
Anak muda bukan sekadar pewaris masa depan, melainkan bagian dari kekuatan yang menentukan ke mana masa depan akan dibawa, menuju apatisme yang membiarkan keadaan, atau kesadaran kritis yang berani memperbaikinya.






