JAKARTA – BELA RAKYAT – Sekretaris Jenderal Partai Golkar M. Sarmuji meminta Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) terus memperkuat perannya sebagai wadah pembelajaran politik bagi generasi muda. Menurut Sarmuji, AMPI memiliki posisi strategis untuk menjembatani Partai Golkar dengan karakter generasi muda yang terus berubah.
Pesan tersebut disampaikan Sarmuji saat menghadiri pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) X AMPI di Grand Sahid Jaya, Jakarta, Selasa (29/9/2026). Dalam kesempatan itu, ia menekankan, perjalanan AMPI tidak hanya berkaitan dengan pergantian kepemimpinan organisasi, tetapi juga menyangkut bagaimana organisasi tersebut mampu membaca perubahan zaman.
Sarmuji menyebut AMPI memiliki sejarah panjang sebagai tempat kader-kader muda belajar berorganisasi, berpolitik, sekaligus membangun kepemimpinan. Ia mengatakan banyak tokoh bangsa yang lahir dari proses kaderisasi dan pembelajaran di lingkungan AMPI.
“AMPI ini adalah organisasi tempat kita belajar bersama. Banyak tokoh-tokoh bangsa ini yang lahir dari AMPI karena AMPI memang adalah wadah belajar pada saat orang-orang itu muda,” ujar Sarmuji.
Sarmuji: Konflik Harus Berujung pada Konsensus
Sarmuji juga menyinggung dinamika yang terjadi menjelang pelaksanaan Munas X AMPI. Menurut dia, perbedaan dan kesalahpahaman di kalangan anak muda merupakan bagian dari proses pembelajaran organisasi.
Namun, ia mengingatkan agar dinamika tersebut tidak berkembang menjadi konflik berkepanjangan yang justru merugikan organisasi.
“Setiap konflik pasti harus ada ujungnya. Setiap dinamika harus ada konsensusnya,” kata Sarmuji.
Ia kemudian membagikan pengalaman pribadinya ketika pernah menghadapi dinamika organisasi yang cukup berat. Sarmuji mengisahkan dirinya pernah terpilih sebagai ketua umum sebuah organisasi dengan selisih hanya satu suara.
Setelah terpilih, ia justru menghadapi persoalan dalam proses penyusunan kepengurusan. Bahkan, menurut Sarmuji, dalam satu periode kepemimpinannya ia sampai menerima tujuh kali surat keputusan terkait kepengurusan.
Pengalaman tersebut, kata dia, menjadi bagian dari proses belajar yang membentuk cara pandangnya dalam menghadapi konflik dan dinamika organisasi.
Belajar dari Konflik dan Filosofi Bhagavad Gita
Dalam menghadapi konflik tersebut, Sarmuji mengaku pernah membaca Bhagavad Gita dan mengambil pelajaran dari dialog antara Arjuna dan Kresna dalam kisah Baratayuda.
Ia menceritakan bagaimana Arjuna mengalami dilema sebelum menghadapi peperangan karena harus berhadapan dengan orang-orang yang memiliki hubungan keluarga dengannya.
Menurut Sarmuji, kisah tersebut memberikan pelajaran bahwa dalam sebuah konflik, seseorang harus mampu memahami konteks persoalan dan mendengarkan suara hati sebelum mengambil keputusan.
Pengalaman itu pula yang menurutnya menjadi salah satu pelajaran ketika menghadapi dinamika di AMPI.
“Saya ceritakan ini karena konfliknya sudah selesai. Kalau konfliknya belum selesai, enggak usah cerita nanti malah tambah konflik,” ujarnya.
Lebih lanjut, Sarmuji mengatakan, dinamika organisasi harus dikelola agar tidak berubah menjadi pertentangan yang lebih besar.
“Ketika ada konflik di AMPI yang dinamikanya sudah tidak sehat untuk AMPI, sebelum perang Baratayuda terjadi, kita jaga agar konflik itu tidak menjadi perang Baratayuda,” katanya.
Apresiasi Sikap Jerry Sambuaga
Dalam pidatonya, Sarmuji juga memberikan apresiasi kepada jajaran kepemimpinan AMPI, khususnya Jerry Sambuaga, yang menurutnya telah memberikan tenaga, pikiran, dan sumber daya untuk menjaga eksistensi organisasi.
Ia menilai keputusan untuk mempercepat pelaksanaan Munas merupakan bagian dari kemampuan kader AMPI membaca konteks politik dan momentum.
“Saya sangat menghargai anak-anak muda,” kata Sarmuji.
Menurut dia, kemampuan membaca konteks dan momentum merupakan salah satu modal penting bagi kader organisasi kepemudaan.
“Kader AMPI dan eksponennya memang harus memiliki ketajaman terhadap konteks politik dan momentum,” ujarnya.
Sarmuji menilai keputusan untuk mengedepankan kepentingan organisasi menunjukkan bahwa kader-kader muda Partai Golkar mampu belajar dari dinamika yang terjadi.
“Kalau konteks politiknya seperti ini, apa yang harus dilakukan? Kalau momentumnya seperti ini, apa yang harus kita kerjakan?” kata Sarmuji.
AMPI Diminta Ambil Segmentasi yang Berbeda dari AMPG
Sarmuji kemudian menyoroti posisi AMPI di tengah keberadaan Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG).
Menurutnya, keberadaan dua organisasi tersebut tidak semestinya dipandang sebagai persoalan, tetapi harus menjadi kesempatan bagi AMPI untuk menentukan segmentasi dan karakter gerakannya sendiri.
“AMPI harus mengambil ceruk dan segmentasi sendiri,” tegas Sarmuji.
Ia meminta AMPI mampu menemukan ruang yang dapat dikerjakan sebagai organisasi kepemudaan yang berafiliasi dengan Partai Golkar, tetapi memiliki karakter organisasi yang berbeda dengan struktur internal partai.
Sarmuji menjelaskan bahwa AMPG merupakan organisasi yang berada di dalam tubuh Partai Golkar, sementara AMPI memiliki posisi sebagai organisasi kepemudaan yang memiliki ruang gerak tersendiri.
Menurutnya, perbedaan karakter tersebut justru dapat menjadi kekuatan jika dikelola dengan baik.
Jadi Jembatan Anak Muda yang Apatis terhadap Politik
Salah satu perhatian utama Sarmuji adalah bagaimana AMPI dapat mendekati generasi muda yang selama ini cenderung apatis atau memiliki jarak dengan politik.
Ia mengatakan pendekatan terhadap anak muda tidak bisa dilakukan secara keras atau terlalu terbuka dalam bentuk mobilisasi politik secara langsung.
Sebaliknya, AMPI dapat menjalankan pendekatan yang lebih lunak melalui kegiatan kepemudaan, pendidikan politik, diskusi, komunitas, kreativitas, dan aktivitas sosial.
“Anak-anak muda tidak bisa didekati dengan cara yang hardcore. Politiknya tidak mau mereka terang. Tetapi bisa didekati dan difungsikan AMPI ini untuk melakukan sosialisasi politik,” ujar Sarmuji.
Ia menyebut pendekatan tersebut sebagai soft entry, yakni memperkenalkan politik secara bertahap melalui ruang yang lebih dekat dengan kehidupan anak muda.
Menurut Sarmuji, pendekatan semacam itu dapat membantu generasi muda memahami politik tanpa merasa sedang berada dalam ruang politik yang terlalu formal.
“Mereka banyak yang apatis. Mereka banyak yang alergi politik. Tetapi kalau didekati oleh AMPI sebagai media pembelajaran, sebagai media untuk mendekati anak muda, mungkin mereka tidak akan kaget,” katanya.
Gen Z dan Generasi Alpha Butuh Pendekatan Berbeda
Sarmuji juga menyoroti perubahan karakter generasi muda, khususnya Generasi Z dan Generasi Alpha.
Ia membandingkan kebiasaan generasi sebelumnya yang memperoleh informasi melalui buku, koran, dan majalah dengan generasi muda saat ini yang semakin mengandalkan teknologi digital.
Menurutnya, Generasi Z telah tumbuh sebagai generasi yang sangat dekat dengan internet. Namun, perubahan tidak berhenti pada Generasi Z.
Sarmuji menyebut Generasi Alpha mulai tumbuh dengan karakter yang berbeda karena kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Gen Z adalah digital native. Mereka sejak kecil sudah mengenal internet,” ujarnya.
“Datang generasi baru, Gen A, Generasi Alpha, yang bukan lagi digital native tetapi mulai AI native,” lanjut Sarmuji.
Ia mengatakan perubahan tersebut harus dipahami oleh Partai Golkar dan seluruh organisasi yang menjadi bagian dari ekosistemnya.
AMPI Diminta Kuasai Ekosistem Digital dan AI
Menurut Sarmuji, AMPI memiliki posisi penting karena kader mudanya dinilai lebih dekat dengan perkembangan teknologi dan perubahan perilaku generasi baru.
Ia meminta kader AMPI membantu Partai Golkar memperluas pemanfaatan ekosistem digital dan memahami perkembangan AI.
Sarmuji bahkan mengingatkan bahwa partai politik yang tidak mampu mengikuti perkembangan teknologi akan menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan relevansinya di masa mendatang.
“Partai hari ini tanpa memahami karakter dunia digital dan AI pasti cepat atau lambat pasti akan dimakan oleh zaman,” katanya.
Ia menambahkan, pemahaman terhadap teknologi tidak hanya diperlukan untuk komunikasi politik, tetapi juga untuk membangun hubungan yang lebih relevan dengan generasi muda.
“Partai ini tanpa menggunakan ekosistem digital seperti tidak tersambung dengan masa depan,” ujar Sarmuji.
AMPI Didorong Melahirkan Tokoh-tokoh Baru
Sarmuji berharap AMPI tidak hanya menjadi organisasi yang aktif dalam momentum Munas, tetapi mampu membangun sistem kaderisasi yang melahirkan pemimpin baru.
Ia membayangkan semakin banyak kader AMPI yang kelak mengisi berbagai posisi strategis di pemerintahan maupun lembaga politik.
“Akan makin banyak lahir tokoh-tokoh politik dari AMPI. Akan makin banyak calon anggota DPR RI dari AMPI. Akan makin banyak menteri dari AMPI dan menjadi tokoh-tokoh bangsa dari AMPI,” kata Sarmuji.
Menurut dia, cita-cita tersebut membutuhkan proses kaderisasi yang konsisten, kemampuan membaca perubahan zaman, serta keberanian untuk membuka ruang bagi generasi baru.
Munas X AMPI sendiri menjadi forum penting bagi organisasi untuk menentukan arah kepemimpinan periode 2027–2031. Berdasarkan informasi panitia yang diberitakan sebelumnya, Zigo Rolanda menjadi satu-satunya bakal calon yang mengembalikan formulir pendaftaran hingga batas penutupan, dengan dukungan 26 DPD AMPI tingkat I.
Sarmuji menegaskan, apa pun dinamika yang terjadi dalam organisasi, kepentingan AMPI harus tetap ditempatkan di atas kepentingan kelompok.
Baginya, proses yang dilalui AMPI merupakan bagian dari pembelajaran politik dan organisasi bagi generasi muda.
“AMPI hari ini menunjukkan proses belajar yang intens dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Proses belajar yang akhirnya menemukan titik temunya, menemukan konsensusnya,” ujar Sarmuji.
Ia berharap momentum Munas X menjadi titik penting bagi AMPI untuk memperkuat organisasi sekaligus menjawab tantangan baru yang dihadapi generasi muda.
Dengan perubahan karakter Generasi Z dan Generasi Alpha, Sarmuji menilai AMPI dituntut tidak hanya memahami politik, tetapi juga memahami bagaimana anak muda mendapatkan informasi, membangun komunitas, menggunakan teknologi, serta berinteraksi dengan dunia digital dan AI.
“Kalau AMPI bisa melakukan peran itu ke depan, insya Allah eksistensi AMPI akan semakin dihormati,” pungkasnya.





