Seni Menahan Diri: Pelajaran dari 4 Induk Kehidupan

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS / Kalimantan Selatan I

Bedah Mendalam Maqalah 17 Bab 4 Kitab Nashaihul ‘Ibad Karya Syaikh Nawawi al-Bantani

Bacaan Lainnya

عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: «أُمَّهَاتُ الْأَشْيَاءِ أَرْبَعٌ: أُمُّ الْأَدْوِيَةِ قِلَّةُ الْأَكْلِ، وَأُمُّ الْآدَابِ قِلَّةُ الْكَلَامِ، وَأُمُّ الْعِبَادَاتِ قِلَّةُ الذُّنُوبِ، وَأُمُّ الْأَمَانِي الصَّبْرُ»

“Induk dari segala sesuatu itu ada empat: Induk segala obat adalah sedikit makan, induk segala adab adalah sedikit bicara, induk segala ibadah adalah sedikit dosa, dan induk segala cita-cita adalah sabar.”
Kitab ini bukan kitab hadits shahih, tapi kitab hikmah. Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani al-Jawi – ulama besar asal Banten yang menjadi Imam Masjidil Haram – mengumpulkan mutiara nasehat dari Nabi ﷺ, para sahabat, dan para ulama salaf untuk menjadi kurikulum tazkiyatun nafs.

Maqalah ini meskipun sanadnya tidak ditemukan dalam Kutubus Sittah dan dinilai oleh sebagian ulama sebagai atsar hikmah para hukama’, namun maknanya sangat shahih dan dikuatkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah yang shahih. Inilah yang disebut Ummahaatul Asy-ya’ – Induk dari Segala Sesuatu. Kalau 4 induk ini beres, maka seluruh hidupmu akan beres.

Mari kita bedah satu per satu. Kemudian kita pahami untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

1. Induk Segala Obat Adalah Sedikit Makan

Allah berfirman:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

Rasulullah ﷺ bersabda yang shahih:
مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ
“Tidak ada wadah yang paling buruk diisi oleh anak Adam melebihi perutnya. Cukuplah baginya beberapa suapan untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika harus lebih, maka sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah – Hadits Hasan Shahih)

Kisah dan Sejarah
Dulu ada seorang tabib utusan Raja Muqauqis datang ke Madinah. Berbulan-bulan ia tinggal, tapi tidak ada satu pun sahabat yang datang berobat kepadanya. Ia heran dan bertanya kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq. Abu Bakar menjawab: “Kami adalah kaum yang tidak makan kecuali lapar, dan apabila makan tidak sampai kenyang. Karena itulah kami tidak pernah sakit.” Tabib itu akhirnya masuk Islam.

Imam Asy-Syafi’i berkata: “Aku tidak pernah kenyang selama 16 tahun, karena kekenyangan itu memberatkan badan, mengeraskan hati, menghilangkan kecerdasan, mendatangkan tidur, dan melemahkan ibadah.”

Konteks Kekinian – Untuk Kamu Hari Ini:
Di zaman kita, penyakit bukan lagi karena kurang makan, tapi karena kebanyakan makan. Obesitas, diabetes, kolesterol, asam lambung, GERD, fatty liver – semuanya dari qillatul harakah wa katsratul akl (sedikit gerak, banyak makan).

Puasa Senin-Kamis, puasa Ayyamul Bidh, dan Intermittent Fasting yang sedang tren di dunia kesehatan modern itu hakikatnya adalah ajaran Islam 1400 tahun lalu: memberi jeda pada perut.

Latihannya: Berhenti makan sebelum kenyang. Jangan makan sambil scroll HP. Jadikan perutmu 1/3 saja. Itu adalah obat gratis paling mujarab.
2. Induk Segala Adab Adalah Sedikit Bicara

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim)

Allah berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)

Kisah dan Sejarah:
Luqman Al-Hakim pernah disuruh tuannya menyembelih kambing dan membawa bagian yang paling buruk. Ia membawa lidah dan hati. Di lain waktu ia disuruh membawa bagian yang terbaik, ia pun membawa lidah dan hati lagi. Ketika ditanya, ia menjawab: “Tidak ada yang lebih baik dari keduanya jika keduanya baik, dan tidak ada yang lebih buruk dari keduanya jika keduanya buruk.”

Umar bin Khattab RA selalu meletakkan kerikil di dalam mulutnya agar ia berpikir panjang sebelum bicara.

Konteks KekinianUntuk Kamu Hari Ini

Di zaman ini, “banyak bicara” bukan lagi cuma dari mulut, tapi dari jari. Komentar, status, story, Twitter war, ghibah di grup WhatsApp, flexing, oversharing. Adab kita hancur bukan karena kita jahat, tapi karena kita terlalu banyak bicara hal yang tidak perlu.

Penyakit zaman now: semua ingin didengar, tidak ada yang mau mendengar.

Diam bukan berarti bodoh. Diam adalah wibawa. Orang yang sedikit bicara, sekali bicara didengar. Orang yang banyak bicara, sekali bicara pun tidak didengar.

Latihannya: Sebelum posting, sebelum komentar, sebelum membalas chat dengan emosi, tanya 3 filter Imam Ali: Apakah ini benar? Apakah ini perlu? Apakah ini baik waktunya? Kalau tidak, simpan energimu.
3. Induk Segala Ibadah Adalah Sedikit Dosa

Dalilnya: Ini adalah kaidah fiqih yang sangat dalam. Para ulama berkata: Tarkul ma’ashi afdhalu min fi’lith tha’ah – Meninggalkan maksiat lebih utama daripada memperbanyak ketaatan.

Allah berfirman:
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27)

Rasulullah ﷺ bersabda:
اتَّقِ الْمَحَارِمَ تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ

“Jauhilah yang haram, niscaya engkau menjadi manusia yang paling beribadah.” (HR. Tirmidzi – Hasan)

Kisah dan Sejarah:

Seorang lelaki datang kepada Ibrahim bin Adham dan berkata, “Aku tidak mampu menahan diri dari maksiat.” Ibrahim berkata: “Jika kau mampu lakukan 5 hal, maka bermaksiatlah sepuasmu.”

1. Jangan makan rezeki Allah.

2. Jangan tinggal di bumi Allah.

3. Carilah tempat yang tidak dilihat Allah.

4. Jika malaikat maut datang, tolaklah.

5. Jika Malaikat Malik ingin membawamu ke neraka, tolaklah. Lelaki itu menangis dan bertaubat.

Ibadah itu seperti air dalam ember. Shalat, puasa, sedekah adalah air yang kau tuang. Sedangkan dosa adalah lubang di ember itu. Percuma kau tuang air terus kalau embernya bocor.

Konteks Kekinian – Untuk Kamu Hari Ini:
Kita hari ini rajin menambah ibadah, tapi tidak rajin menambal dosa. Rajin tahajud, tapi mata masih betah melihat yang haram di TikTok. Rajin puasa, tapi masih ghibah, masih riba, masih pacaran.

Dosa kecil yang diremehkan di era digital: mata yang tidak terjaga, musik yang melalaikan, aurat yang diumbar di Instagram, uang riba berkedok paylater dan investasi bodong, lisan yang menyakiti di kolom komentar.

Latihannya: Jangan hanya fokus menambah. Fokuslah mengurangi. Hari ini, coba kurangi 1 dosa yang paling sering kamu lakukan. Tutup 1 lubang. Itu lebih berat di timbangan daripada 1000 rakaat sunnah yang bocor.

4. Induk Segala Cita-Cita Adalah Sabar

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Kisah dan Sejarah:
Lihat Nabi Yusuf AS. Dari sumur yang gelap, menjadi budak, difitnah, dipenjara bertahun-tahun, baru kemudian menjadi Menteri. Semua mimpinya (amaninya) terwujud karena sabar.

Lihat Rasulullah ﷺ. 13 tahun di Mekkah dihina, dilempari, diboikot. Tidak ada yang instan. Islam tidak tegak dengan viral semalam. Tapi dengan sabar yang panjang.

Konteks Kekinian – Untuk Kamu Hari Ini:
Kita hidup di zaman instan. Mau kaya instan (judi online, crypto gorengan), mau terkenal instan (viral), mau hijrah instan, mau hafal Qur’an instan. Padahal semua cita-cita besar butuh sabar.

Kamu ingin punya bisnis? Sabar 2-3 tahun merintis.

Kamu ingin rumah tangga sakinah? Sabar menghadapi pasangan.

Kamu ingin hafal Qur’an? Sabar 1 ayat per hari selama bertahun-tahun.

Kamu sedang di fase ekonomi sulit, skripsi tidak selesai-selesai, jodoh belum datang? Ingat, Allah tidak pernah bilang jalannya mudah. Allah hanya bilang: Allah bersama orang sabar.

Sabar itu bukan pasif menunggu. Sabar itu aktif: tetap bergerak, tetap berusaha, tetap berdoa, meski hasil belum terlihat. Sabar adalah bahan bakar dari semua mimpi.

Kesimpulan Untuk Hidupmu
Syaikh Nawawi al-Bantani ingin mengajarkan kita peta pengendalian diri yang sempurna:

1. Kontrol Perutmu (Fisik): Jika perutmu terjaga, sehat jasadmu.

2. Kontrol Lisanmu (Sosial): Jika lisanmu terjaga, selamat hubunganmu.

3. Kontrol Perbuatanmu (Spiritual): Jika dosamu sedikit, diterima ibadahmu.

4. Kontrol Hatimu (Mental): Jika hatimu sabar, tercapai cita-citamu.

Empat induk ini adalah kurikulum seumur hidup.

Semoga Allah mudahkan kita mengamalkannya. Mulai hari ini, makan secukupnya, bicara seperlunya, jauhi dosa semampunya, dan sabar sebanyak-banyaknya.

Wallahu A’lam Bisshawab.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *