Sriwijaya, Nenek Moyang Negara Kekuasaan Indonesia

Diberitakan bahwa nama eks Kapal Induk Italia, Garibaldi, setibanya di Indonesia akan diganti namanya menjadi KRI Sriwijaya. Nama Sriwijaya memang beraroma geopolitik Asia yang tersohor di masa kuno. Tapi sejauh mana gambaran Sriwijaya itu sebenarnya?

Mengutip catatan China kuno, yaitu Chau Ja-Kua, Sriwijaya memang bukan negara yang diremehkan.

Seperti yang orang banyak tahu, buku yang ditulis oleh Chau Ju-Kua pada 1225 M, seorang pejabat kekaisaran China, masih merupakan sumber tertulis yang paling berharga untuk melihat gambaran penduduk dan pemerintahan Kemaharajaan Sriwijaya di era kuno. Dalam sudut pandang China, yang mereka sebut San-Fo-ts’i, mendapatkan perhatian khusus di antara negeri-negeri yang ada di masa itu yang berhubungan dagang dengan China.

Marilah langsung kita lihat lukisan Sriwijaya itu langsung dari bukunya yang sudah saya alihbahasakan ke bahasa Indonesia.

Beberapa kesan yang mendalam yang perlu kita catat adalah:

1. Sriwijaya ini merupakan bangsa yang tangguh berperang, baik di darat maupun di air.

2. Dalam mengontrol selat di wilayah kekuasaan Sriwijaya, tampaknya Selat Malaka sekarang ini, mereka merintangi setiap kapal yang hendak lewat dengan rantai besi yang panjang, sehingga memaksa kapal-kapal dagang melalui pos pemeriksaan dan kepabean untuk masuk tol laut Sriwijaya. Jika ide Iran di Selat Hormuz saat itu untuk mempraktikkan hal yang sama, rupanya di masa kuno, Sriwijaya telah melakukannya.

3. Untuk terpilih menjadi raja, seseorang calon harus berhasil menganggat mahkota yang tinggi dan berat di kepalanya. Dan tidak semua orang dapat melakukannya.

4. Penduduk ini sangat kaya dan dermawan serta melimpah dengan emas dan perak.

San-fo-ts’i — Sumatra Timur

San-fo-ts’i terletak di antara Chon-la (Kamboja) dan Sho-p’o (Jawa). Kekuasaannya meliputi lima belas chou, yaitu provinsi atau kota. Letaknya tepat di sebelah selatan Ts’uan-chou (Provinsi Fujian China).

Pada musim dingin, dengan angin muson, kapal berlayar sedikit lebih dari satu bulan dan kemudian mencapai Ling-ya-mon.¹ Banyak pedagang berhenti di tempat ini sebelum memasuki negeri San-fo-ts’i.
Sebagian besar penduduk negeri ini memiliki nama keluarga “P’u” (Mpu atau Oppu).
Tembok ibu kotanya terbuat dari batu bata dan panjang kelilingnya mencapai beberapa puluh li.²

Ketika raja keluar, ia duduk di atas perahu. Tubuhnya dibungkus kain man-pu. Ia dilindungi payung sutra dan dikawal orang-orang yang membawa tombak emas.
Penduduk tinggal tersebar di luar kota atau tinggal di atas air menggunakan rakit papan yang ditutupi alang-alang. Mereka yang tinggal di atas rakit tersebut dibebaskan dari pajak.
Mereka ahli berperang baik di darat maupun di air.

Ketika hendak berperang melawan negara lain, mereka mengumpulkan pasukan sesuai kebutuhan. Mereka menunjuk para kepala dan pemimpin, sementara setiap orang menyediakan sendiri perlengkapan perang dan persediaan makanan.

Dalam menghadapi musuh dan menghadapi kematian, mereka tidak tertandingi oleh bangsa-bangsa lain.

Mereka tidak menggunakan uang tembaga berbentuk koin. Dalam transaksi mereka menggunakan potongan-potongan perak.

*Iklim*

Iklimnya hampir sepanjang tahun panas dan hanya sedikit mengalami cuaca dingin.
Mereka memiliki minuman fermentasi (tuak) yang dibuat dari bunga kelapa, pinang dan madu (tuak dari mayang kelapa, enau, dan jenis-jenis pohon yang sama). Minuman tersebut dibuat tanpa ragi tetapi dapat memabukkan (tuak).

Dalam dokumen resmi mereka menggunakan huruf asing, dan cap kerajaan digunakan sebagai segel. Mereka juga mengenal huruf Tionghoa dan menggunakannya ketika mengirim surat resmi kepada istana Tiongkok.
*Hukum Pidana*

Hukum negeri ini sangat keras. Perzinaan menyebabkan hukuman paling berat, yaitu hukuman mati.

*Kefanatikan Komunal*

Ketika raja meninggal, rakyat berkabung dengan mencukur kepala. Para pengikut pribadi atau pejabat istana raja, menurut catatan ini, memilih mati secara sukarela dengan melompat ke dalam api pembakaran jenazah. Tindakan tersebut disebut “menyelam dan mati bersama”.

Di San-fo-ts’i terdapat sebuah Buddha atau patung yang disebut “Bukit Emas dan Perak”, yang dibuat dari emas.
Setiap raja yang hendak naik tahta membuat patung emas yang menggambarkan dirinya. Mereka sangat berhati-hati dalam mempersembahkan bejana emas kepada patung-patung tersebut. Patung dan bejana emas diberi tulisan yang memperingatkan generasi mendatang agar tidak meleburnya.

*Moral Gemar Berderma*

Ketika seseorang sakit keras, ia membagikan perak seberat berat tubuhnya kepada orang miskin di negeri itu. Hal ini dianggap sebagai cara untuk menunda kematian.

Raja mereka disebut Lung-ts’ing.³ Ia tidak boleh makan biji-bijian, tetapi diberi makan sha-hu atau sagu. Jika ia melakukan sebaliknya, dipercaya tahun itu akan menjadi tahun kering dan harga biji-bijian menjadi mahal.
Ia juga mandi dengan air mawar. Jika ia menggunakan air biasa, dipercaya akan terjadi banjir besar.

Raja memiliki topi emas tinggi yang dihiasi ratusan permata dan sangat berat (mahkota raja). Pada upacara istana besar hanya raja yang mampu mengenakannya. Ketika tahta kosong, seluruh putra raja berkumpul. Topi (mahkota) tersebut diberikan kepada mereka, dan siapa yang mampu menahan beratnya akan menjadi raja.

*Legenda*

Terdapat sebuah tradisi lama bahwa tanah di negeri ini pernah tiba-tiba terbelah. Dari dalam gua keluar beribu-ribu ternak (kerbau liar) yang berlari menuju pegunungan, sementara rakyat berusaha menangkapnya untuk dimakan. Kemudian celah tersebut tertutup oleh bambu dan pepohonan dan menghilang.

*Komoditas Asli Berupa Rempah-rempah*

Produk asli negeri ini antara lain tempurung penyu, kapur barus, berbagai jenis kayu gaharu, lada, cengkih, kayu cendana dan kapulaga.
Selain itu terdapat mutiara, kemenyan, air mawar, bunga gardenia, mur (kemenyan), gaharu, asafoetida, putchuk, storaks cair, gading gajah, koral, mata kucing, amber, kain katun asing dan bilah pedang.
Menurut sumber ini, barang-barang terakhir tersebut merupakan produk para pedagang Arab.

Sebagai gantinya, pedagang asing membawa emas, perak, porselen, kain sutra brokat, benang sutra, kain sutra tipis, gula, besi, samshu, beras, lengkuas kering, rhubarb dan kapur barus.

Sriwijaya Merantai Selat

San-fo-ts’i menguasai jalur laut penting melalui selat yang harus dilewati kapal-kapal asing yang bergerak dari satu arah ke arah lainnya.

Pada zaman dahulu mereka menggunakan rantai besi sebagai penghalang untuk mencegah bajak laut dari negeri lain. Rantai tersebut dapat dinaikkan dan diturunkan dengan alat tertentu.
Jika kapal dagang datang, rantai diturunkan. Setelah bertahun-tahun dalam keadaan damai dan rantai tersebut tidak lagi diperlukan, rantai itu akhirnya dilepas dan diletakkan tergulung di pantai.

Penduduk menghormatinya seperti Buddha dan kapal-kapal yang datang mempersembahkan korban kepadanya. Ketika digosok dengan minyak, rantai itu bersinar seperti baru. Bahkan buaya dipercaya tidak berani melewatinya.

Jika kapal dagang melewati tempat itu tanpa masuk, perahu-perahu mereka akan keluar untuk menyerang bersama-sama, dan semuanya siap mempertaruhkan nyawa. Karena itulah San-fo-ts’i menjadi pusat pelayaran yang sangat besar.

Dependensi (negeri bawahan) San-fo-ts’i yang disebutkan meliputi P’eng-feng (Pahang Malaysia), Tan-ma-ling (kawasan Nakhon Si Thammarat atau Ligor, di bagian selatan Thailand), Tong-ya-nong (wilayah Terengganu (sebuah negara bagian di Malaysia saat ini), Kia-lo-hi (Grahi atau Chaiya, yang terletak di Suratthani, pantai timur Semenanjung Malaya (Thailand bagian selatan), Ling-ya-ssi-kia (Langkasuka atau Patani Thailand saat ini), Pa-lin-fong (Pelembang Indonesia), Ki-lan-tan (Kelantan Malaysia), Sin-t’o (Sunda Indonesia), Fo-lo-an (Kuala Berang, Kedah Malaysia), Kien-pi (Kampar), Ji-lo-t’ing (Jelutong yang terletak di pantai timur Semenanjung Malaya), Lan-wu-li (Lamuri Aceh), Ts’ien-mai (Chiang Mai, utara Thailand), Si-lan (Ceylon, Srilanka) dan Pa-t’a (Batahan Barus).⁴

Negeri ini mulai berhubungan dengan Tiongkok pada masa T’ang sekitar 904–907. Pada masa 960–963, San-fo-ts’i mengirim upeti tiga kali.
Pada tahun 992 mereka melaporkan bahwa telah diserang oleh Sho-p’o (Jowo atau Jawa) dan meminta agar dikeluarkan maklumat kekaisaran yang mengizinkan mereka kembali tunduk.

Pada tahun 1003 mereka melaporkan bahwa sebuah kuil Buddha telah dibangun untuk mendoakan panjang umur Kaisar. Kaisar menyetujui permintaan tersebut dan memberikan nama serta lonceng kepada kuil itu.
Pada periode-periode berikutnya, San-fo-ts’i terus mengirim sejumlah misi upeti ke istana Tiongkok.

Notes:

¹. Ling ya mon adalah Pulau Lingga atau Selat Lingga yang terletak di Kepulauan Lingga, Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia sekarang.
Beberapa poin penting mengenai letak dan fungsi geografis Ling-ya-mon dalam catatan kuno tersebut:

(a) Gerbang Masuk Sriwijaya: Ling-ya-mon dicatat sebagai tempat persinggahan sepertiga kapal dagang asing sebelum mereka memasuki wilayah inti kerajaan Sanfotsi (Sriwijaya/Melayu-Jambi).

(b) Pos Pajak dan Tol Laut: Kapal-kapal dagang yang hendak menuju pusat Sriwijaya diwajibkan menurunkan sepertiga muatannya di Pulau Lingga sebagai bentuk pembayaran pajak tol laut.

². Satu li (里) dalam ukuran panjang atau jarak modern di Tiongkok ditetapkan setara dengan 500 meter (setengah kilometer). Berarti “20 puluh li” saja, setara dengan 20.000 meter. Berapa kilometer luas kotanya, kalau begitu?

³. Secara harfiah, “Lung-tsing” (atau “Longjing” dalam ejaan Pinyin modern) artinya “Sumur Naga”.

⁴. Sriwijaya ini merupakan kerajaan perdagangan maritim dan berada dalam lalulintas paling sibuk, yaitu Selat yang diapit oleh Pulau Sumatera dan Semenanjung Malaysia ditambah dengan Selat Sunda. Tidak terbayangkan betapa kuat dan majunya negara Sriwijaya tersebut yang berabad-abad mengontrol hubungan China India Persia Romawi yang tergantung dengan Selat Malaka saat ini dan Selat Sunda.

Oleh: Syahrul E Dasopang, penulis dan penggemar seharah geopolitik

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *