Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI /F-PKS / Kalimantan Selatan I
Kita sering lupa, dunia ini bukan rumah. Ia hanya terminal transit. Kita datang bukan untuk menetap, tapi untuk mengumpulkan bekal pulang.
Imam Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata: “Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu hanyalah kumpulan hari-hari. Setiap satu hari berlalu, maka sebagian dirimu telah pergi.”
Kita terlalu percaya diri seolah umur kita masih panjang. Kita menunda taubat, menunda shalat, menunda minta maaf, seolah kontrak hidup kita masih 30 tahun lagi. Padahal Rasulullah SAW sudah mengingatkan kita dengan jujur:
“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan, yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi)
Hari ini kita masih berjalan di atas tanah dengan sombong. Besok bisa jadi tanah yang berjalan di atas kita.
1. DALIL – Allah Sudah Bicara Dengan Sangat Jelas
Allah tidak menciptakan kita untuk main-main.
a. Tujuan Hidup Kita:
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat yang kamu tulis ini adalah porosnya. Jika hidup bukan untuk ibadah, lalu untuk apa? Kerja kita, tidur kita, makan kita, akan menjadi sia-sia jika tidak kita niatkan sebagai ibadah.
b. Kematian Itu Pasti dan Tepat Waktu:
“Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak pula memajukannya.” (QS. Al-A’raf: 34)
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An-Nisa: 78)
Tidak ada yang bisa nego dengan Malaikat Maut. Ia tidak menunggu kita jadi baik dulu, tidak menunggu kita selesai S2, tidak menunggu kita kaya, tidak menunggu anak kita menikah.
c. Pintu Ampunan Itu Terbatas:
“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan (sakaratul maut).” (HR. Tirmidzi)
Kita menganggap pintu taubat selalu terbuka, padahal kita tidak tahu kapan tenggorokan kita yang terakhir bernafas.
2. KISAH SEJARAH – Mereka Yang Paham Arti Sisa Usia
Kisah Umar bin Khattab RA.
Setiap malam, Umar memegang cambuk kecil dan berkata pada dirinya sendiri: “Apa yang kau kerjakan hari ini, wahai Umar?” Beliau melakukan muhasabah harian. Padahal beliau adalah orang yang dijamin surga.
Kisah Umar bin Abdul Aziz.
Saat menjadi Khalifah paling berkuasa di dunia, ia justru sering menangis di atas sajadah. Istrinya bertanya kenapa. Beliau menjawab: “Aku teringat pada orang yang kelaparan, orang yang sakit, orang yang tidak punya pakaian, dan aku akan ditanya Allah tentang mereka semua.”
Kisah Sufyan Ats-Tsauri.
Seorang ulama besar, saat menjelang wafat ia menangis tersedu-sedu. Muridnya bertanya: “Apakah engkau takut dosa?” Ia menjawab: “Aku khawatir, aku membawa bekal yang sedikit untuk perjalanan yang sangat jauh.”
Mereka yang shalih justru paling takut. Kita yang banyak dosa justru paling santai.
3. KONTEKS KEKINIAN – Kapan Disebut Mengejar Dunia Berlebihan?
Dulu, mengejar dunia berlebihan itu terlihat jelas: Qarun dengan hartanya. Sekarang, bentuknya lebih halus dan menipu.
Kamu disebut mengejar dunia berlebihan BUKAN ketika kamu punya mobil bagus, rumah besar, atau pekerjaan mapan. Islam tidak melarang kaya. Yang berlebihan adalah ketika:
a. Ketika Shalat Sudah Kamu Tinggalkan Dengan Sengaja.
Ini barometer paling jujur. Jika demi meeting, demi game, demi scroll TikTok, demi nongkrong, kamu rela menunda atau meninggalkan shalat, maka dunia sudah di hatimu, bukan lagi di tanganmu. Padahal Rasulullah ﷺ menjadikan shalat sebagai pembeda iman dan kufur.
b. Ketika Hati Tidak Pernah Tenang.
Hari ini dapat iPhone 15, besok sudah gelisah ingin iPhone 16. Dapat gaji naik, bukannya bersyukur malah stres karena tetangga lebih naik lagi. Itulah tipu daya dunia. Allah berfirman: “Ketahuilah, bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan.” (QS. Al-Hadid: 20)
c. Ketika Kamu Lebih Takut Miskin Daripada Takut Neraka.
Kita rela lembur sampai tidak shalat karena takut dipecat atasan, tapi tidak takut ketika Allah mengancam meninggalkan shalat. Kita cek saldo M-Banking 10 kali sehari, tapi sudah berapa lama tidak cek dosa kita hari ini?
Hari ini, kematian datang bukan hanya di rumah sakit. Ia datang lewat story Instagram: “Innalillahi, teman kita kecelakaan.” Lewat grup WA: “Teman SMA kita meninggal mendadak.” Usia 20-an, 30-an, tanpa sakit.
4. MENURUTKU, APA YANG TERBAIK UNTUK USIA YANG TERSISA?
J
ika sisa usia ini adalah episode terakhir, maka jadikan ia episode taubat. Ini yang terbaik yang bisa kita lakukan, menurutku:
1. Jadikan Taubat Sebagai Rutinitas, Bukan Event Tahunan.
Jangan tunggu Ramadhan atau tunggu sakit. Setiap habis shalat, istighfar 3 kali dengan kesadaran penuh. Rasulullah ﷺ yang tanpa dosa saja beristighfar lebih dari 70 kali sehari.
2. Perbaiki Shalat, Maka Allah Akan Perbaiki Hidupmu.
Jika pekerjaanmu menghalangi shalat, tinggalkan pekerjaan itu saat adzan. Bukan tinggalkan shalat demi pekerjaan. Mulai dari tepat waktu, berjamaah di masjid bagi laki-laki, dan pahami artinya. Shalat adalah tiang. Jika tiangnya rapuh, roboh semua.
3. Rumus 3 Amal Harian Untuk Bekal.
Jangan berat-berat. Konsisten saja:
• Sedekah Subuh: Walau 2.000 rupiah setiap hari. Sedekah di waktu malaikat mendoakan.
• 2 Rakaat Dhuha dan Witir: Dhuha sebagai syukur atas tubuhmu, Witir sebagai penutup hari.
• Bacaan Qur’an 1 Halaman: Bukan 1 Juz kalau tidak mampu. Tapi jangan sampai 1 hari pun tanpa Kalamullah.
4. Berbuat Baik Yang Diam-Diam.
Di zaman semua kebaikan ingin diposting, carilah satu kebaikan yang hanya kamu dan Allah yang tahu. Membayar hutang orang diam-diam, memberi makan kucing liar, mendoakan teman yang membencimu. Karena kematian tidak menunggu kita viral jadi orang baik, ia hanya butuh kita tulus.
Semoga tulisanmu yang awal itu menjadi saksi di akhirat, bahwa kamu pernah mengingatkan orang lain tentang kematian. Dan semoga setiap detik dari usia kita yang tersisa, benar-benar menjadi episode taubat kita.
Kamu akan melupa, kamu akan menua, dan akhirnya kamu akan menuai. Maka tanamlah sekarang apa yang ingin kamu tuai nanti.
Wallahu a’lam bishawab.






