Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI /F-PKS / Kalimantan Selatan I
Manusia tidak pernah dibiarkan tanpa petunjuk. Setiap zaman Allah SWT utus seorang Rasul sebagai cahaya. Dan puncaknya, sebagai penutup seluruh risalah, Allah mengutus kekasih-Nya, Nabi Muhammad SAW. Bukan untuk satu kaum, bukan untuk satu masa, melainkan untuk seluruh alam semesta.
Allah berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)
Lalu, apa tujuan inti dari pengutusan beliau yang mulia ini?
1. Menyempurnakan Akhlak Manusia
Rasulullah SAW sendiri yang menjelaskan misi utamanya dalam sebuah hadits yang sangat terkenal:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Al-Baihaqi, Ahmad)
Di zaman Jahiliyah, manusia cerdas secara intelektual, hebat dalam syair dan perdagangan, namun akhlaknya runtuh. Anak perempuan dikubur hidup-hidup, riba merajalela, yang kuat menindas yang lemah. Rasulullah datang bukan hanya mengajarkan cara shalat dan puasa, tapi merombak cara manusia memandang Allah dan sesama manusia.
Akhlak kepada Allah: dari menyembah berhala menjadi menyembah Allah Yang Esa.
Akhlak kepada sesama: dari kesombongan kesukuan menjadi persaudaraan.
Akhlak kepada diri sendiri: dari hawa nafsu menjadi kesucian jiwa.
Inilah dakwah yang sesungguhnya. Dakwah bukan hanya ceramah di mimbar, tapi perubahan karakter.
2. Warisan Yang Abadi: Bukan Harta, tapi Ilmu
Jika para raja mewariskan tahta, jika para saudagar mewariskan harta, maka Rasulullah SAW mewariskan sesuatu yang jauh lebih abadi: ILMU.
Kisah Abu Hurairah r.a di pasar Madinah adalah pelajaran yang menampar kita semua.
Dikisahkan, suatu hari Abu Hurairah melewati pasar Madinah yang sangat ramai. Orang-orang sibuk menimbang, menawar, menghitung untung-rugi. Lalu beliau berseru: “Alangkah lemah dan meruginya kalian!”
Orang-orang pasar terkejut, “Ada apa wahai Abu Hurairah?”
Beliau menjawab, “Warisan Rasulullah SAW sedang dibagi-bagikan di masjid, mengapa kalian masih di sini sibuk dengan dunia?”
Mendengar kata “warisan”, semua orang langsung meninggalkan toko, menutup dagangan, berlari ke Masjid Nabawi dengan angan-angan akan mendapat emas, perak, dan dinar.
Namun apa yang mereka lihat di dalam masjid? Tidak ada tumpukan harta.
Yang mereka lihat hanyalah:
• Satu halaqah sedang membahas halal dan haram (Fiqih)
• Satu halaqah sedang membaca Al-Qur’an
• Satu halaqah sedang shalat sunnah dan berdzikir
Mereka pun kembali ke pasar dengan kecewa dan berkata, “Engkau telah membohongi kami, ya Abu Hurairah!”
Maka Abu Hurairah tersenyum dan berkata dengan kalimat yang abadi:
“Celakalah kalian! Itulah warisan Rasulullah SAW yang sebenarnya. Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka hanya mewariskan ilmu.”
Perkataan beliau bersandar pada Hadits Shahih:
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanya mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang sangat banyak.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dishahihkan Al-Albani)
Kenapa harus ilmu?
Karena Allah sendiri yang menjawab dalam surat Al-Mujadalah yang engkau kutip:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadalah: 11)
Harta bisa habis, tahta bisa tumbang, gelar bisa hilang. Ilmu yang diamalkan akan menjadi cahaya di alam kubur dan pemberat timbangan amal di hari kiamat.
Imam Asy-Syafi’i berkata: “Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka harus dengan ilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka harus dengan ilmu.”
Dan Imam Ahmad meriwayatkan: “Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada orang yang Dia cintai dan yang tidak Dia cintai. Tetapi Allah tidak memberikan ilmu kecuali kepada orang yang Dia cintai.”
3. Konteks Kekinian: Kita Adalah Penduduk Pasar Madinah di Era Digital
Kisah di atas bukan sekadar sejarah 14 abad lalu. Kita hari ini adalah penduduk pasar itu.
Pasar kita hari ini bernama:
• Marketplace, TikTok Shop, Saham, Crypto, Trading. Kita sibuk dari pagi sampai malam mengejar angka di rekening
. • Media Sosial. Kita sibuk membangun citra, mencari validasi, menghitung like dan followers.
• Gadget. Jari kita lebih fasih membuka Instagram daripada membuka mushaf Al-Qur’an.
Kita mengira warisan itu adalah gaji, rumah, mobil, jabatan. Kita mengira sukses adalah viral dan kaya. Padahal Rasulullah tidak pernah meninggalkan satu pun dari itu.
Lihatlah masjid-masjid kita hari ini. Halaqah ilmu sepi. Kajian Subuh hanya diisi beberapa orang tua. Sementara warung kopi, mall, dan live TikTok penuh sesak sampai tengah malam. Kita persis seperti penduduk pasar Madinah: berlari mengejar bayangan harta, dan meninggalkan warisan hakiki di dalam masjid.
Padahal tantangan akhlak hari ini jauh lebih dahsyat daripada Jahiliyah:
Jahiliyah dulu membunuh anak secara fisik. Jahiliyah modern membunuh karakter anak melalui pornografi, game online yang melalaikan, dan tontonan yang merusak.
Jahiliyah dulu riba dengan timbangan curang. Jahiliyah modern riba dengan pinjaman online, judi online, dan flexing harta haram.
Jahiliyah dulu menyembah Latta dan Uzza. Jahiliyah modern menyembah like, subscriber, dan hawa nafsu.
Maka, apa tugas kita sebagai pewaris dakwah?
Sepeninggal Rasulullah, estafet dakwah dilanjutkan para Sahabat, Tabi’in, dan para ulama. Hari ini estafet itu ada di pundak kita. Dakwah bukan hanya tugas ustadz bersorban. Dakwah adalah tugas setiap Muslim.
Dakwah di zaman ini bukan harus naik mimbar. Dakwah bisa dengan:
1. Menjadi pedagang yang jujur di tengah maraknya penipuan.
2. Menjadi konten kreator yang menyebar ilmu, bukan menyebar aib dan joget-jogetan.
3. Menjadi ayah dan ibu yang menghidupkan halaqah Qur’an di rumah, bukan hanya menghidupkan WiFi.
4. Menjaga lisan di kolom komentar, itulah akhlak digital.
Mari kita kembali ke masjid. Bukan hanya jasadnya yang ke masjid, tapi hatinya. Ambil kembali warisan Rasulullah. Hadiri satu halaqah ilmu, baca satu halaman Qur’an dengan maknanya, pelajari satu hukum halal-haram. Itu lebih berharga dari seluruh isi pasar.
Karena pada akhirnya, ketika kita wafat, yang ditanya bukan berapa saldo ATM kita, tapi seberapa dalam ilmu dan akhlak kita.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang mencintai ilmu, berakhlak seperti akhlak Rasulullah, dan istiqomah menjaga warisan terindah beliau.
Wallahu A’lam Bishawab.





