Rapor Merah Persaudaraan: Ketika Ego Jadi Panggung Saling Telanjang Aib

Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin

Ada yang sedang sakit dalam kehidupan kita hari ini. Bukan hanya politik, ekonomi, atau institusi, tetapi sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kita: persaudaraan.

Di zaman ketika semua orang begitu mudah berbicara, berkomentar, dan menyebarkan sesuatu, kita justru semakin sulit belajar memahami, memaafkan, dan menahan diri. Perbedaan berubah menjadi permusuhan. Kekecewaan berubah menjadi pembongkaran aib. Kesalahan seseorang seakan menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa kitalah yang paling benar.

Padahal, mempermalukan orang lain tidak pernah membuat kita lebih mulia.

Kadang kita begitu sibuk mencari kesalahan orang lain, sampai lupa bahwa setiap manusia memiliki sisi yang tidak ingin dilihat dunia. Jika Allah membuka seluruh aib kita hari ini, apakah kita masih sanggup berdiri dengan kepala tegak?

Al-Qur’an telah mengingatkan:
“Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.”(QS. Al-Hujurat: 12)

Namun menutup aib juga tidak berarti membenarkan kesalahan. Ada batas yang harus jelas. Kesalahan pribadi yang tidak merugikan orang lain semestinya dinasihati dengan cara yang menjaga kehormatan dan memberi ruang untuk berubah.

Tetapi ketika kesalahan telah menjadi kezaliman, penipuan, kekerasan, pengkhianatan amanah, atau membahayakan orang lain, diam bukan lagi bentuk menjaga aib. Pada titik itu, kebenaran harus ditegakkan dan pihak yang dirugikan harus dilindungi.

Aib ditutup agar manusia memiliki ruang untuk memperbaiki diri, kezaliman diungkap agar tidak terus melukai. Karena itu, kita bisa tegas tanpa membenci. Kita bisa mengkritik tanpa menghina. Kita bisa menegur tanpa mempermalukan. Kita bisa berbeda tanpa bermusuhan.

Kebenaran yang kehilangan kasih sayang mudah berubah menjadi kekerasan. Dan nasihat yang kehilangan keikhlasan dapat berubah menjadi senjata.

Persaudaraan sejati justru diuji ketika kepentingan berbeda, ketika pendapat tidak lagi sama, ketika hati terluka, dan ketika ego meminta kita membalas.

Pada saat seperti itu, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan lagi, “Siapa yang salah?”, tetapi “Bagaimana kita memperbaikinya tanpa menghancurkan persaudaraan?”

Jangan jadikan aib sebagai senjata. Jangan jadikan perbedaan sebagai alasan untuk bermusuhan. Dan jangan jadikan kebenaran sebagai panggung untuk merasa paling suci.

Tidak ada kemenangan yang indah jika untuk meraihnya kita harus kehilangan persaudaraan.

Kemenangan terbesar bukanlah ketika kita berhasil mengalahkan orang lain, tetapi ketika kita mampu mengalahkan ego dalam diri sendiri.

Kehormatan tertinggi bukan ketika kita mampu membuka aib seseorang, tetapi ketika kita memiliki kesempatan untuk membukanya lalu memilih menutupinya, selama menutupinya tidak berarti membiarkan kezaliman terus terjadi.

Semoga Allah melembutkan hati kita, menjaga lisan kita, membersihkan niat kita, dan mengajarkan kita bahwa menjadi benar tidak harus membuat orang lain merasa hina.

Sebab persaudaraan bukan tentang tidak pernah terluka. Persaudaraan adalah tentang tetap memilih menjaga, meski hati pernah terluka.

Jangan sampai ego memenangkan perdebatan, tetapi kita kehilangan persaudaraan. Jangan sampai kita merasa menang di hadapan manusia, tetapi kalah di hadapan Allah.

Sebab pada akhirnya, yang dinilai bukan berapa banyak aib yang berhasil kita bongkar, melainkan berapa banyak kehormatan yang mampu kita jaga dan berapa banyak kerusakan yang mampu kita cegah.

Di situlah rapor persaudaraan kita sedang dinilai. Dan di situlah pula rapor kehidupan kita sedang ditulis.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *