JAKARTA | MEDIA BELA RAKYAT — Ketika bencana menyisakan luka dan jarak membuat tangan tak mudah menjangkau, seni menemukan caranya sendiri untuk hadir. Bukan sekadar pertunjukan, bukan pula panggung untuk bertepuk tangan, melainkan ruang untuk mengingat, mendoakan, dan mengulurkan kepedulian. Semangat itulah yang dibawa dalam Jum’at Aksi Seni (JAS) “Solidaritas untuk Flores, NTT”, yang digelar di Selasar depan Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Jumat, 4 September 2026.
Rangkaian kegiatan dimulai sejak pukul 13.00 WIB dengan persiapan dan pengecekan tata suara. Namun, denyut utama acara baru terasa ketika MC membuka panggung pada pukul 16.30 WIB. Lagu Indonesia Raya dikumandangkan sebagai penanda bahwa solidaritas kemanusiaan tidak mengenal batas geografis. Dari Jakarta, pesan sederhana dikirimkan: bahwa penderitaan di Flores bukanlah cerita yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari luka kemanusiaan Indonesia.
Suasana kemudian ditundukkan dalam doa bagi para korban Flores, Nusa Tenggara Timur. Doa dipimpin Ustadz Yogi Karmas, sebelum panggung beralih menjadi ruang ekspresi melalui parade pembacaan puisi. Sharon, Yon Bayu, Ina SK, Nuyang Jaimee, Jack A, Dyah Kencono, Mini SBJ Mandiri, dan Megawati hadir membawa kata-kata sebagai medium perenungan. Puisi, dalam konteks ini, tidak berhenti sebagai estetika bahasa; ia menjadi kesaksian batin tentang duka, kehilangan, dan harapan yang ingin tetap hidup.
Humas/Public Relations FPS-TIM, Tia Fairuz, mengatakan bahwa JAS dirancang sebagai bentuk solidaritas yang menempatkan seni bukan hanya sebagai tontonan, tetapi sebagai energi sosial yang dapat menggerakkan kepedulian masyarakat.
“JAS ini bukan sekadar acara seni. Kami ingin menjadikan ruang seni sebagai ruang kemanusiaan dimana tempat kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk, mengingat saudara-saudara kita di Flores, mendoakan mereka, sekaligus mengajak masyarakat untuk bersama-sama menunjukkan solidaritas melalui donasi,” ujar Tia Fairuz kepada awak media, Jum’at (4/9/2026).
Memasuki petang, suasana dibuat lebih cair melalui sesi istirahat, shalat, dan ngopi santai. Tetapi jeda tersebut bukan akhir dari pesan yang hendak disampaikan. Sekitar pukul 19.15 WIB, acara kembali dilanjutkan dengan ajakan berdonasi untuk solidaritas Flores, NTT. Musik dari SMRT yang diperkuat Ega, Boy, dan Tora kemudian membuka rangkaian pertunjukan malam, disusul monolog Yogi Karmas yang menghadirkan bahasa panggung sebagai cermin kegelisahan manusia ketika berhadapan dengan tragedi.
Panggung selanjutnya diisi penampilan Rapp dari Rapper mungil nan cantik jelita, Mila Nabilah, kemudian musik Dedy Zwarna, yang dikenal pernah menjadi bagian dari Marjinal dan Romi and the Jahats. Ragam ekspresi tersebut memperlihatkan satu hal: musik, puisi, monolog, dan seni pertunjukan dapat bertemu dalam satu simpul ketika tujuan akhirnya bukan sekadar hiburan, melainkan kepedulian. Panggung menjadi medium; manusia dan kemanusiaan tetap menjadi pusatnya.
Secara konstitusional, kegiatan berekspresi dan berkumpul merupakan bagian dari ruang kebebasan warga negara yang dijamin Pasal 28E ayat (3) UUD 1945, sementara penyampaian pendapat di muka umum juga memiliki kerangka hukum melalui Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. Dalam perspektif kebudayaan, ruang seperti TIM semestinya dapat terus menjadi tempat bertemunya gagasan, kreativitas, dialog publik, dan solidaritas sosial selama pelaksanaannya menghormati ketertiban, hak orang lain, serta ketentuan hukum yang berlaku.
Pada akhirnya, JAS ditutup sekitar pukul 21.00 WIB dengan pembacaan hasil donasi solidaritas dan foto bersama. Angka donasi menjadi catatan administratif; tetapi makna yang lebih besar berada di baliknya. Sebab dalam setiap rupiah yang diberikan, ada pesan bahwa jarak Jakarta–Flores tidak seharusnya menjadi jarak kemanusiaan. Dari sebuah selasar, para seniman dan masyarakat mencoba mengirimkan sesuatu yang jauh lebih panjang daripada suara musik: pesan bahwa duka yang terjadi di tanah Flores tidak berjalan sendirian.
Seni boleh selesai ketika lampu panggung dipadamkan, namun solidaritas tidak akan pernah padam.
(CP/red)






