Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI /F-PKS / Kalimantan Selatan I
Pernahkah kita bertanya dalam hati:
“Kalau Allah sudah mengetahui siapa yang akan masuk surga dan siapa yang akan masuk neraka, bahkan semuanya sudah ditulis dalam takdir-Nya, lalu untuk apa kita beribadah?”
Kalau seseorang sudah ditetapkan menjadi penghuni surga, apakah ia tetap harus shalat?
Kalau seseorang sudah ditetapkan menjadi penghuni neraka, apakah amal baiknya tidak ada gunanya?
Kalau Allah sudah mengetahui sejak sebelum kita lahir bagaimana akhir kehidupan kita, apakah usaha kita mengubah diri menjadi orang baik masih berarti?
Pertanyaan seperti ini bukanlah pertanyaan sederhana.
Ia menyentuh salah satu pembahasan paling dalam dalam akidah Islam: hubungan antara takdir Allah, ilmu Allah, kehendak manusia, amal, dan pertanggungjawaban di hadapan-Nya.
Namun, kita harus berhati-hati. Jangan sampai pertanyaan tentang takdir justru membuat kita meninggalkan kewajiban.
Sebab Islam tidak pernah mengajarkan manusia untuk duduk pasrah sambil berkata:
“Kalau sudah ditakdirkan masuk surga, pasti masuk surga. Kalau sudah ditakdirkan masuk neraka, buat apa beramal?”
Justru Nabi ﷺ mengajarkan sesuatu yang sangat indah: Beramallah.
Karena manusia tidak mengetahui apa yang telah ditetapkan untuk dirinya.
ALLAH MENGETAHUI AKHIR KITA, TETAPI KITA TIDAK MENGETAHUINYA
Allah Maha Mengetahui. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari ilmu-Nya.
Allah mengetahui masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Bahkan sebelum sesuatu terjadi, Allah telah mengetahuinya.
Allah berfirman:
وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ ۖ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya.” (QS. Al-An’am: 59)
Tetapi ada satu hal yang harus kita pahami: Allah mengetahui pilihan kita bukan berarti Allah memaksa kita memilih.
Pengetahuan Allah tidak sama dengan paksaan Allah. Seorang manusia dapat mengetahui sesuatu tanpa menjadi penyebab terjadinya sesuatu itu.
Sedangkan ilmu Allah jauh lebih sempurna daripada ilmu manusia. Allah tidak “menebak” masa depan.
Allah tidak “memprediksi” apa yang akan kita lakukan. Allah mengetahui apa yang akan kita lakukan.
Tetapi kita tetap menjalani kehidupan dengan pilihan, kehendak, usaha, dan tanggung jawab kita.
Inilah sebabnya Allah tetap memerintahkan: “Kerjakan.”
Bukan: “Tunggu saja apa yang sudah ditakdirkan.”
TAKDIR BUKAN ALASAN UNTUK MENINGGALKAN IKHTIAR
Perhatikan bagaimana para sahabat Nabi ﷺ memahami takdir.
Ketika terjadi wabah, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu memilih untuk tidak memasuki wilayah yang sedang terkena wabah.
Ada yang bertanya kepadanya: “Apakah engkau lari dari takdir Allah?”
Umar menjawab: “Kita lari dari takdir Allah menuju takdir Allah.”
Inilah pemahaman yang sangat dalam. Menghindari penyakit adalah takdir. Berobat adalah takdir. Bekerja adalah takdir. Belajar adalah takdir. Berdoa adalah takdir. Bersedekah adalah takdir. Bertaubat adalah takdir.
Dan memilih untuk bermaksiat juga merupakan perbuatan manusia yang kelak dipertanggungjawabkan.
Karena itu, jangan menggunakan takdir untuk membenarkan kemalasan.
Jangan berkata: “Kalau rezeki sudah ditentukan, buat apa bekerja?”
Jangan berkata: “Kalau sembuh sudah ditentukan, buat apa berobat?”
Dan jangan berkata: “Kalau masuk surga sudah ditentukan, buat apa shalat?”
Cara berpikir seperti itu keliru. Sebab kita tidak mengetahui takdir kita.
Yang kita ketahui adalah perintah Allah. Allah memerintahkan kita untuk beribadah. Allah memerintahkan kita untuk berbuat baik. Allah memerintahkan kita untuk menjauhi dosa. Allah memerintahkan kita untuk bertaubat.
Maka tugas kita adalah menjalankan perintah tersebut.
NABI SENDIRI MENJAWAB PERTANYAAN TENTANG TAKDIR
Suatu ketika para sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ tentang orang-orang yang telah ditentukan tempatnya.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Nabi ﷺ menjelaskan bahwa setiap orang dimudahkan menuju apa yang telah diciptakan untuknya.
Kemudian beliau membaca firman Allah:
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ
“Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa, serta membenarkan adanya pahala yang terbaik, maka Kami akan memudahkan baginya jalan menuju kemudahan.” (QS. Al-Lail: 5–7)
Dan bagi orang yang memilih jalan sebaliknya, Allah menyebutkan jalan kesukaran.
Maka Nabi ﷺ tidak mengatakan: “Karena semuanya sudah ditakdirkan, kalian tidak perlu beramal.”
Justru Nabi ﷺ memerintahkan: “Beramallah.”
Mengapa? Karena amal adalah bagian dari takdir itu sendiri.
TAKDIR ALLAH TIDAK PERNAH MEMBATALKAN KEWAJIBAN MANUSIA
Bayangkan seorang anak sedang belajar. Orang tuanya mungkin sudah mengetahui bahwa anak itu memiliki kemampuan besar.
Tetapi sang anak tetap harus belajar. Apakah pengetahuan orang tua membuat proses belajar menjadi sia-sia?
Tidak. Begitu pula Allah.
Allah mengetahui hasil akhirnya, tetapi kehidupan yang kita jalani tetap merupakan proses nyata.
Kita shalat. Kita berdoa. Kita menangis. Kita berjuang melawan hawa nafsu. Kita jatuh. Kita berdosa. Kita menyesal. Kita bertaubat. Kita kembali kepada Allah.
Semua itu bukan sesuatu yang sia-sia. Justru itulah perjalanan yang akan menjadi bagian dari pertanggungjawaban kita.
ALLAH TIDAK MENGHUKUM SESEORANG HANYA KARENA “TAKDIR”
Ini bagian yang sangat penting. Allah tidak akan berkata kepada seseorang:
“Aku sudah menentukan engkau menjadi pendosa, maka Aku menghukummu karena sesuatu yang tidak pernah engkau pilih.”
Tidak demikian. Allah Maha Adil.
Allah berfirman:
وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا
“Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang pun.” (QS. Al-Kahfi: 49)
Allah juga berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ
“Sesungguhnya Allah tidak menzalimi walaupun sebesar zarrah.” (QS. An-Nisa: 40)
Karena itu, manusia tidak boleh menjadikan takdir sebagai pembenaran atas dosa.
Seorang pencuri tidak bisa berkata: “Aku mencuri karena sudah ditakdirkan.”
Seorang pezina tidak bisa berkata: “Aku berzina karena sudah ditakdirkan.”
Seorang pembohong tidak bisa berkata: “Aku berbohong karena Allah sudah menakdirkannya.”
Kalau alasan seperti itu diterima, maka tidak akan ada makna perintah, larangan, pahala, dosa, pengadilan, dan pertanggungjawaban.
Padahal Allah telah memberikan manusia kemampuan untuk memilih dan membedakan jalan.
“SESUNGGUHNYA AKU MENGETAHUI APA YANG TIDAK KAMU KETAHUI”
Ketika Allah hendak menciptakan Adam عليه السلام, Allah berfirman kepada para malaikat:
إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.”
Para malaikat bertanya:
أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ
“Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di sana?”
Lalu Allah menjawab:
إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah: 30)
Ayat ini mengajarkan kepada kita satu prinsip besar: Pengetahuan makhluk terbatas. Pengetahuan Allah tidak terbatas.
Kita melihat satu bagian dari kehidupan. Allah mengetahui seluruh kehidupan.
Kita melihat seseorang hari ini sebagai pendosa. Allah mengetahui bagaimana akhir hidupnya.
Kita melihat seseorang hari ini sebagai orang baik. Allah mengetahui bagaimana perjalanan hidupnya sampai akhir.
Karena itu, jangan terlalu cepat memvonis seseorang. Seseorang yang hari ini jauh dari Allah bisa saja besok menjadi orang yang sangat dekat dengan-Nya.
Seseorang yang hari ini menangis karena dosa bisa saja kelak menjadi wali Allah.
Dan seseorang yang hari ini tampak baik pun tetap harus menjaga dirinya agar tidak terjatuh.
MANUSIA MEMIKUL AMANAH YANG BESAR
Allah berfirman:
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan memikul amanah itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Kemudian manusia memikul amanah itu.” (QS. Al-Ahzab: 72)
Ayat ini bukan sekadar kisah tentang “keberanian manusia”.
Justru ayat tersebut juga mengandung peringatan yang sangat berat.
Di akhir ayat Allah berfirman:
إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
“Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.”
Jadi, amanah manusia bukanlah tanda bahwa manusia pasti lebih mulia daripada semua makhluk dalam setiap aspek.
Amanah adalah tanggung jawab. Manusia diberikan perintah dan larangan. Manusia diberikan kemampuan memahami.
Manusia diberikan kehendak dan pilihan dalam batas yang Allah tetapkan. Karena itu manusia akan dimintai pertanggungjawaban.
MANUSIA BUKAN ROBOT
Inilah salah satu perbedaan penting. Allah menciptakan malaikat dengan sifat yang selalu taat kepada-Nya.
Allah berfirman:
لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)
Manusia berbeda. Manusia bisa taat. Manusia juga bisa durhaka. Manusia bisa jatuh.
Tetapi manusia juga bisa bangkit. Manusia bisa tersesat.
Tetapi manusia juga bisa menemukan jalan pulang. Manusia bisa menangis karena dunia.
Tetapi manusia juga bisa menangis karena takut kepada Allah. Dan di situlah ujian manusia.
ALLAH TIDAK MEMINTA KITA MENGETAHUI TAKDIR
Perhatikan baik-baik. Allah tidak pernah memerintahkan: “Cari tahu apakah engkau sudah ditakdirkan masuk surga atau neraka.”
Tidak. Allah memerintahkan: “Beribadahlah kepada-Ku.”
Allah tidak menyuruh kita membuka Lauhul Mahfuz untuk mencari nama kita.
Kita tidak diberi akses kepada catatan takdir tersebut. Lalu mengapa?
Karena kalau manusia mengetahui secara pasti bahwa dirinya penghuni surga, mungkin ia akan merasa aman dari dosa.
Kalau manusia mengetahui bahwa dirinya penghuni neraka, mungkin ia akan putus asa.
Maka Allah merahasiakan takdir akhir kita. Yang Allah berikan kepada kita adalah kesempatan untuk beramal.
KITA TIDAK TAHU AKHIR HIDUP KITA
Ada orang yang sepanjang hidupnya biasa saja, tetapi meninggal dalam keadaan husnul khatimah.
Ada pula orang yang pernah melakukan dosa besar, kemudian bertaubat dengan sungguh-sungguh dan meninggal dalam keadaan baik.
Sebaliknya, ada orang yang tampak sangat baik tetapi kemudian mengalami ujian berat.
Karena itu Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk tidak merasa aman terhadap diri sendiri.
Kita tidak boleh berkata: “Aku sudah pasti masuk surga.”
Dan kita juga tidak boleh berkata: “Aku pasti masuk neraka.”
Selama nyawa belum sampai tenggorokan, pintu taubat masih terbuka.
JANGAN PUTUS ASA KARENA MERASA “SUDAH DITAKDIRKAN”
Ini mungkin salah satu jebakan setan yang paling halus. Seseorang ingin berubah.
Tetapi ia berkata: “Saya memang begini.”
Ia ingin meninggalkan maksiat. Tetapi ia berkata:n“Mungkin saya sudah ditakdirkan menjadi orang buruk.”
Ia ingin kembali shalat. Tetapi ia berkata: “Allah mungkin tidak menghendaki saya menjadi orang baik.”
Jangan berpikir seperti itu. Karena kita tidak pernah mengetahui takdir kita.
Yang kita tahu adalah: Allah memanggil kita untuk kembali.
Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53)
Perhatikan. Allah tidak berkata: “Wahai orang-orang yang tidak pernah berdosa.”
Tetapi: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri.”
Artinya, bahkan manusia yang telah jauh sekalipun masih dipanggil: “Hamba-Ku.” Betapa luas rahmat Allah.
ALLAH MENCINTAI TAUBAT
Nabi ﷺ bersabda bahwa Allah lebih bergembira dengan taubat seorang hamba daripada kegembiraan seseorang yang menemukan kembali kendaraannya setelah hilang di padang pasir.
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim. Bayangkan.
Seorang manusia yang tersesat jauh dari Allah, kemudian kembali.
Allah tidak berkata: “Kenapa baru kembali sekarang?”
Allah membuka pintu. Allah menerima taubat. Allah mengampuni.
Allah bahkan dapat mengganti keburukan menjadi kebaikan bagi orang yang benar-benar bertaubat.
Allah berfirman:
إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ
“Kecuali orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan.” (QS. Al-Furqan: 70)
Maka jangan pernah mengatakan: “Saya sudah terlalu kotor untuk kembali kepada Allah.”
Tidak! Justru kembalilah sekarang.
LALU, APA GUNANYA TAAT DAN BERIMAN?
Jawabannya sangat jelas: Karena kita tidak beribadah untuk mengubah ilmu Allah. Kita beribadah untuk menjalankan perintah-Nya. Kita tidak beribadah untuk memberi tahu Allah siapa diri kita.
Allah sudah mengetahui kita. Kita beribadah karena kita adalah hamba-Nya.
Dan ibadah merupakan bentuk penghambaan kita kepada-Nya.
Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Jadi tujuan hidup manusia bukan sekadar mencari kekayaan. Bukan sekadar mengejar jabatan. Bukan sekadar membangun rumah. Bukan sekadar membesarkan anak. Bukan sekadar mengejar popularitas.
Semua itu boleh. Tetapi semuanya harus berada di bawah tujuan yang lebih tinggi: menjadi hamba Allah.
IBADAH BUKAN UNTUK ALLAH, TETAPI KITA YANG MEMBUTUHKANNYA
Allah tidak membutuhkan shalat kita. Allah tidak menjadi lebih mulia karena kita bersujud. Allah tidak menjadi lebih kaya karena kita bersedekah. Allah tidak menjadi lebih besar karena kita bertakbir.
Justru kitalah yang membutuhkan semua itu. Shalat memperbaiki hati. Dzikir menenangkan jiwa. Sedekah membersihkan harta. Puasa melatih hawa nafsu.
Di mana Al-Qur’an menerangi kehidupan. Taubat membersihkan dosa. Doa membuat kita sadar bahwa kita adalah makhluk yang lemah.
Maka ketika kita beribadah, sebenarnya kita sedang menyelamatkan diri kita sendiri.
KALAU ALLAH SUDAH TAHU, APA DOA MASIH BERGUNA?
Tentu. Karena doa juga bagian dari takdir Allah.
Jangan membayangkan takdir seperti sebuah garis mati yang membuat manusia tidak perlu melakukan apa-apa.
Doa adalah salah satu sebab yang Allah tetapkan. Sebagaimana makan menjadi sebab kenyang.
Minum menjadi sebab hilangnya haus.
Obat menjadi sebab kesembuhan dengan izin Allah. Belajar menjadi sebab bertambahnya ilmu.
Begitu pula doa menjadi sebab datangnya pertolongan Allah. Karena itu Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk berdoa.
Bukan berkata: “Kalau Allah sudah menentukan, saya tidak perlu berdoa.”
Justru karena kita tidak mengetahui apa yang Allah tetapkan, maka kita berdoa, berusaha, dan bertawakal.
TAKDIR MEMBUAT KITA TAWAKAL, BUKAN MALAS
Ada dua kesalahan besar dalam memahami takdir. Yang pertama: Menganggap manusia sepenuhnya bebas tanpa kehendak Allah.
Yang kedua: Menganggap manusia tidak memiliki pilihan sama sekali.
Islam berada di jalan tengah. Allah adalah Al-Khaliq, Sang Pencipta. Manusia adalah makhluk.
Allah memiliki kehendak yang sempurna. Manusia memiliki kehendak dan pilihan yang nyata, tetapi tetap berada di bawah kehendak dan kekuasaan Allah.
Allah berfirman:
لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Bagi siapa di antara kamu yang ingin menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila Allah menghendaki, Tuhan seluruh alam.” (QS. At-Takwir: 28–29)
Ayat ini menunjukkan bahwa manusia memiliki kehendak, tetapi kehendak manusia tidak keluar dari kehendak Allah.
JANGAN TERLALU SIBUK MEMIKIRKAN TAKDIR, SAMPAI MELUPAKAN AMAL
Ada orang yang menghabiskan waktunya bertanya: “Saya ini ditakdirkan masuk surga atau neraka?” Padahal shalatnya belum dijaga.
Ada yang sibuk membahas takdir tetapi masih menyakiti orang tua. Ada yang berdebat tentang qadha dan qadar tetapi masih mengambil hak orang lain.
Ada yang berbicara panjang tentang surga dan neraka tetapi tidak mau bertaubat. Padahal pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: “Hari ini saya sudah melakukan apa untuk Allah?”
Bukan: “Apa yang sudah ditulis Allah untuk saya?”
Karena kita tidak mengetahui tulisan itu. Tetapi kita mengetahui perintah-Nya.
KITA TIDAK TAHU TAKDIR, TETAPI KITA TAHU ARAH
Kita tidak tahu apakah tahun depan kita masih hidup. Tetapi kita tahu bahwa hari ini kita harus shalat.
Kita tidak tahu apakah besok rezeki kita bertambah. Tetapi kita tahu bahwa kita harus bekerja dengan halal.
Kita tidak tahu kapan ajal datang. Tetapi kita tahu bahwa kita harus mempersiapkan kematian.
Kita tidak tahu apakah amal kita diterima. Tetapi kita harus tetap beramal.
Kita tidak tahu apakah kita akan menjadi penghuni surga. Tetapi kita harus memohon kepada Allah agar dimasukkan ke dalamnya.
Inilah sikap seorang mukmin. Beramal seolah-olah kesempatan kita sangat sedikit, tetapi berharap kepada rahmat Allah seolah-olah rahmat-Nya tidak terbatas.
SURGA BUKAN KARENA AMAL SEMATA, TETAPI AMAL ADALAH JALANNYA
Nabi ﷺ bersabda: “Tidak seorang pun di antara kalian yang amalnya dapat memasukkannya ke dalam surga.”
Para sahabat bertanya: “Tidak juga engkau, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab bahwa beliau pun tidak, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat-Nya.
Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Hadis tersebut bukan berarti amal tidak penting.
Justru amal adalah sebab menuju rahmat Allah. Kita tidak bisa berkata: “Kalau masuk surga hanya karena rahmat Allah, saya tidak perlu shalat.”
Salah. Nabi ﷺ sendiri adalah manusia yang paling banyak beribadah.
Beliau shalat sampai kedua kakinya bengkak. Ketika ditanya mengapa beliau melakukan itu padahal dosa beliau telah diampuni, beliau menjawab:
“Tidakkah aku menjadi hamba yang bersyukur?” Inilah rahasia ibadah.
Kita beribadah bukan karena Allah membutuhkan kita. Kita beribadah karena kita membutuhkan Allah.
JANGAN MERASA AMAN HANYA KARENA MERASA SUDAH BANYAK BERAMAL
Ada orang yang merasa: “Saya sudah banyak sedekah.” “Saya sudah lama mengaji.” “Saya sudah sering umrah.” “Saya sudah banyak membantu orang.”
Semua itu baik. Tetapi jangan sampai amal melahirkan kesombongan. Karena kita tidak tahu apakah amal itu diterima.
Maka seorang mukmin setelah beramal justru berharap: “Ya Allah, terimalah amal kami.”
Nabi Ibrahim عليه السلام dan Nabi Ismail عليه السلام, ketika meninggikan fondasi Ka’bah, berdoa:
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا
“Ya Tuhan kami, terimalah dari kami.” (QS. Al-Baqarah: 127)
Padahal mereka adalah manusia pilihan Allah. Mereka tetap takut amalnya tidak diterima. Lalu bagaimana dengan kita?
JANGAN JUGA PUTUS ASA HANYA KARENA MERASA DOSA TERLALU BANYAK
Setan memiliki dua cara untuk menjauhkan manusia dari Allah.
Pertama: Membuat manusia merasa terlalu hebat.
Kedua: Membuat manusia merasa terlalu kotor untuk kembali.
Keduanya berbahaya. Jika kita merasa terlalu baik, kita menjadi sombong.
Jika kita merasa terlalu buruk, kita menjadi putus asa. Padahal Allah ingin kita berada di antara khauf dan raja’: takut kepada-Nya, tetapi juga berharap kepada rahmat-Nya.
Takut membuat kita tidak berani bermaksiat. Harapan membuat kita tidak berhenti bertaubat.
BISA JADI DOSA YANG MEMBUAT KITA MENANGIS JUSTRU MENJADI PINTU KEMBALI KEPADA ALLAH
Jangan meremehkan hati yang pernah hancur. Bisa jadi seseorang pernah sangat jauh dari Allah. Kemudian suatu malam ia sendirian.
Ia mengambil wudhu. Ia membentangkan sajadah. Ia mengangkat kedua tangan.
Lalu berkata: “Ya Allah, aku sudah terlalu jauh. Tetapi aku tidak punya tempat kembali selain kepada-Mu.”
Air matanya jatuh. Tidak ada kamera. Tidak ada manusia yang melihat.
Tidak ada tepuk tangan. Hanya dia dan Allah.
Bisa jadi malam itulah awal perubahan seluruh hidupnya. Maka jangan pernah meremehkan satu langkah kecil menuju Allah.
ALLAH MELIHAT PERJUANGAN KITA
Mungkin hari ini kita belum menjadi orang yang baik sepenuhnya. Tidak apa-apa.
Yang penting jangan berhenti berjalan. Hari ini mungkin kita masih sulit bangun tahajud. Cobalah dua rakaat.
Hari ini mungkin kita belum mampu membaca Al-Qur’an satu juz. Mulailah satu halaman.
Hari ini mungkin kita masih sering marah. Belajarlah menahan satu kemarahan.
Hari ini mungkin kita masih sulit bersedekah banyak. Mulailah dari sedikit.
Hari ini mungkin kita masih sering jatuh ke dalam dosa. Setiap kali jatuh, bangkit lagi.
Jangan menunggu menjadi sempurna untuk mendekati Allah. Mendekatlah kepada Allah agar Allah memperbaiki kita.
KARENA KITA TIDAK TAHU KAPAN PERJALANAN INI BERAKHIR
Tidak ada seorang pun yang tahu kapan ajalnya. Kita membuat rencana untuk sepuluh tahun. Tetapi belum tentu kita melewati malam ini.
Kita membeli rumah untuk puluhan tahun. Tetapi belum tentu kita tinggal di dalamnya selama itu.
Kita menabung untuk masa depan. Tetapi belum tentu kita melihat masa depan tersebut.
Karena itu, jangan menunda taubat. Jangan menunda shalat. Jangan menunda meminta maaf. Jangan menunda berbakti kepada orang tua. Jangan menunda bersedekah. Jangan menunda membaca Al-Qur’an. Jangan menunda kembali kepada Allah. Karena kematian tidak menunggu kita siap.
PADA AKHIRNYA, PERTANYAANNYA BUKAN “APA YANG SUDAH DITETAPKAN?”
Tetapi: “APA YANG AKAN KITA LAKUKAN DENGAN KESEMPATAN YANG ALLAH BERIKAN?”
Kita tidak mengetahui catatan takdir. Tetapi kita memiliki hari ini. Kita memiliki waktu. Kita memiliki kesempatan. Kita memiliki akal. Kita memiliki hati. Kita memiliki kemampuan untuk memilih. Kita memiliki pintu taubat.
Dan selama nyawa belum berakhir, kita masih memiliki kesempatan untuk kembali. Maka jangan gunakan takdir sebagai alasan untuk berhenti beramal.
Gunakan iman kepada takdir sebagai alasan untuk lebih tenang dalam menghadapi kehidupan, lebih kuat dalam berusaha, lebih sabar ketika diuji, lebih rendah hati ketika berhasil, dan lebih cepat bertaubat ketika jatuh.
KESIMPULAN: KITA TIDAK DITUGASKAN MENGETAHUI TAKDIR, KITA DITUGASKAN MENJALANI AMANAH
Allah sudah mengetahui siapa yang akan masuk surga dan siapa yang akan masuk neraka.
Benar. Tetapi kita tidak mengetahui siapa diri kita di antara keduanya.
Karena itu, jangan merasa aman. Jangan pula berputus asa.
Berusahalah. Berdoalah. Bertaubatlah. Perbaiki shalat. Perbaiki akhlak. Perbaiki hubungan dengan manusia. Perbanyak sedekah. Perbanyak istighfar.
Dekatkan diri kepada Al-Qur’an. Dan teruslah memohon: “Ya Allah, jangan jadikan kami orang yang Engkau jauhkan dari rahmat-Mu.”
“Ya Allah, tetapkan hati kami di atas agama-Mu.”
“Ya Allah, berikan kami husnul khatimah.”
“Ya Allah, masukkan kami ke dalam surga-Mu dengan rahmat-Mu.”
Sebab kita tidak tahu apa yang tertulis dalam takdir. Tetapi kita tahu bahwa Allah adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim.
Kita tahu bahwa Dia membuka pintu taubat. Kita tahu bahwa Dia menyukai orang-orang yang bertaubat. Kita tahu bahwa Dia memerintahkan kita untuk beramal. Kita tahu bahwa Dia tidak menyia-nyiakan amal orang yang berbuat baik.
Dan kita tahu bahwa tugas kita bukan mengintip takdir. Tugas kita adalah beribadah.
Bukan mencari tahu apakah kita akan masuk surga. Tetapi berjalan menuju surga.
Bukan sibuk bertanya apakah kita ditakdirkan menjadi orang baik. Tetapi berusaha menjadi orang baik.
Bukan menyerah karena takut takdir. Tetapi berjuang, berdoa, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
SEBAB ITU, JAWABAN ATAS PERTANYAAN “APA GUNANYA TAAT DAN BERIMAN?” ADALAH: Karena kita adalah hamba Allah.
Karena kita diperintahkan untuk beribadah. Karena kita tidak mengetahui takdir akhir kita. Karena amal adalah bagian dari perjalanan menuju apa yang Allah tetapkan. Karena iman memberikan makna kepada kehidupan. Karena taubat masih terbuka.
Karena setiap kebaikan tidak pernah sia-sia di sisi Allah.
Dan yang paling penting: KITA TIDAK BERIBADAH KARENA TAHU AKHIR KITA AKAN KE MANA.
KITA BERIBADAH KARENA KITA TAHU SIAPA TUHAN KITA.
Dialah Allah. Yang menciptakan kita. Yang memberi kita kehidupan. Yang memberi kita kesempatan. Yang menutup aib kita. Yang menerima taubat kita. Yang mendengar doa kita. Yang mengetahui air mata kita. Yang mengetahui perjuangan kita.
Dan yang kepada-Nya kelak kita semua akan kembali.
Allah berfirman:
وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ الْمُنتَهَىٰ
“Dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahan segala sesuatu.” (QS. An-Najm: 42)
Maka selama masih diberi umur: Jangan berhenti berbuat baik.
Selama masih diberi napas: Jangan berhenti bertaubat.
Selama masih diberi waktu: Jangan tinggalkan shalat.
Selama masih diberi kesempatan: Jangan jauh dari Al-Qur’an.
Dan selama hati masih mampu berdoa: Jangan pernah berhenti berharap kepada Allah.
Karena boleh jadi kita merasa sedang berjalan menuju Allah dengan langkah yang sangat kecil.
Tetapi bagi Allah, langkah kecil yang dilakukan dengan hati yang tulus bisa menjadi awal dari perjalanan besar menuju ampunan dan surga-Nya.
Semoga Allah meneguhkan iman kita, menerima amal kita, mengampuni dosa-dosa kita, memberikan kita husnul khatimah, dan mengumpulkan kita bersama orang-orang saleh di dalam Jannatul Firdaus.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
والله أعلم بالصواب
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
🌹 صَبَاحُ الْخَيْرِ 🌷
Selamat pagi. Semoga hari ini menjadi hari yang lebih dekat dengan Allah daripada hari kemarin.





