Koruptor yang Pilih-pilih Jenis Neraka

Oleh: Toto Izul Fatah, Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA

Kasus korupsi yang makin vulgar dan telanjang belakangan ini seperti tontonan drama para koruptor yang sedang memilih jenis neraka.

Bacaan Lainnya

Ada yang seolah memilih neraka dengan api paling panas. Ada yang memilih neraka dengan panas sedang. Ada pula yang mungkin merasa cukup memilih api kecil karena uang negara yang dicurinya hanya puluhan atau ratusan juta rupiah.

Mereka seperti sedang berdiri di depan daftar menu dosa. Koruptor kelas kakap memilih angka triliunan hingga ratusan triliun rupiah. Koruptor kelas menengah bermain dalam proyek bernilai miliaran.

Sementara, koruptor kelas teri mencuri dana desa, bantuan sosial, anggaran sekolah, honor pegawai atau uang pembangunan kampung yang nilainya ratusan juta rupiah.

Semuanya berbeda kelas. Berbeda jabatan, berbeda modus, berbeda jumlah uang dan berbeda luas kerusakannya. Namun, hakikat perbuatannya sama: mengambil sesuatu yang bukan haknya yang disitu ada hak rakyat.

Inilah kelompok yang, dalam metafora tulisan ini, para koruptor seolah sedang memilih api neraka, antara yang paling panas dan sedang. Tentu, tergantung situasi, kondisi, dan kebutuhan yang ingin dikorupsinya.

Ada yang tak lagi mengambil satu dua potong kayu bakar. Tapi, mereka membawa berton-ton bahan bakar sendiri, menumpuknya, menyiramnya dengan minyak, lalu menyalakan apinya.

Namun, pada kelas yang lebih kecil, faktanya tidak kalah memprihatinkan. Di Kabupaten Banjarnegara, perkara penyalahgunaan dana Desa Majatengah diperkirakan menimbulkan kerugian negara sekitar Rp418,68 juta.

Di Kulon Progo, Kejaksaan pada Juni 2026 mengembalikan uang rampasan dari dua perkara korupsi kepada pemerintah kalurahan. Nilainya masing-masing sekitar Rp271,97 juta dan Rp72,3 juta.

Padahal, nilai yang kecil dalam pembukuan negara belum tentu kecil bagi rakyat yang kehilangan manfaatnya.
Di sinilah muncul pertanyaan yang terdengar satiris tetapi sesungguhnya serius: untuk apa melakukan korupsi secara tanggung?

Kalau seseorang telah berani melanggar hukum, mengkhianati sumpah jabatan, mengambil hak rakyat dan mempertaruhkan kehormatan keluarganya, mengapa hanya untuk puluhan juta rupiah?

Jika sama-sama harus berhadapan dengan proses hukum, kehilangan jabatan, masuk penjara dan menanggung rasa malu, mengapa memilih korupsi kelas teri? Padahal, kecil atau besar korupsinya, jenis neraka apapun tetap panas.

Tentu pertanyaan tersebut bukan anjuran agar orang melakukan korupsi lebih besar. Justru sebaliknya. Pertanyaan itu dimaksudkan untuk membongkar betapa tidak masuk akalnya perilaku koruptif.

Korupsi besar maupun kecil sama-sama merupakan jalan kehancuran. Tidak ada korupsi yang layak dilakukan. Tidak ada uang haram yang menjadi halal hanya karena jumlahnya sedikit.

Seperti api, yang kecil tetap membakar. Api sedang tetap melukai. Api besar dapat menghanguskan seluruh bangunan.

Demikian pula dosa dan kejahatan. Dosa kecil yang dibiarkan dapat menjadi kebiasaan. Kebiasaan berubah menjadi karakter. Karakter buruk yang memperoleh jabatan dan kekuasaan dapat berubah menjadi kejahatan besar.

Karena itu, Al-Qur’an mengingatkan bahwa siapa pun yang mengerjakan kebaikan seberat zarah akan melihat balasannya, dan siapa pun yang mengerjakan keburukan seberat zarah juga akan melihat balasannya.

Pesan Surah Az-Zalzalah ayat 7–8 itu menegaskan bahwa dalam pandangan Tuhan, perbuatan sekecil apa pun tidak hilang dari perhitungan.

Korupsi jangan diperlakukan seperti kalkulasi bisnis: berapa uang yang dapat diambil, berapa yang harus dibagikan, berapa biaya pengacara, berapa lama kemungkinan dipenjara dan seterusnya.

Koruptor kecil dan koruptor besar sama-sama harus dihukum. Namun, semakin besar uang yang dicuri, semakin luas dampak yang ditimbulkan dan semakin tinggi jabatan yang dikhianati.

Dalam hukum manusia, tingkatan kerusakan harus memengaruhi beratnya hukuman. Dalam urusan akhirat, biarlah Tuhan yang menghitung dengan keadilan-Nya yang sempurna.

Para koruptor boleh saja merasa sedang memilih antara api besar, api sedang atau api kecil. Namun, mereka lupa bahwa semua api tetap membakar.

Tidak ada neraka yang sejuk. Tidak ada uang haram yang membawa ketenteraman sejati. Tidak ada hasil korupsi yang dapat membeli kedamaian batin.

Karena itu, pertanyaan yang tepat bukanlah: neraka jenis apa yang dipilih para koruptor? Tapi, mengapa mereka tetap memilih jalan menuju api, padahal jalan untuk pulang, bertobat dan hidup terhormat masih terbuka?

Jakarta, Agustus 2026

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *