Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI /F-PKS / Kalimantan Selatan I
Saudaraku yang dirahmati Allah…
Ada satu ibadah yang hampir setiap hari kita lakukan. Tidak hanya sekali. Tidak hanya dua kali. Tetapi lima kali sehari semalam. Ibadah itu adalah shalat.
Namun, sebuah pertanyaan penting perlu kita ajukan kepada diri sendiri: Apakah selama ini kita benar-benar “hadir” ketika shalat? Ataukah tubuh kita berada di atas sajadah, tetapi pikiran kita berada di tempat lain?
Lisan membaca Al-Fatihah, tetapi hati sedang memikirkan pekerjaan. Tangan bersedekap, tetapi pikiran memikirkan urusan dunia. Ruku’ dilakukan, tetapi hati sibuk memikirkan masalah.
Sujud dilakukan, tetapi yang dipikirkan justru pesan WhatsApp, pekerjaan, keluarga, bisnis, utang, jabatan, ataupun berbagai persoalan kehidupan.
Kita berdiri menghadap kiblat, tetapi hati tidak benar-benar menghadap Allah. Inilah salah satu persoalan terbesar dalam kehidupan seorang Muslim.
SHALAT BUKAN SEKADAR GERAKAN
Shalat bukan sekadar berdiri. Bukan sekadar ruku’. Bukan sekadar sujud. Bukan sekadar membaca bacaan yang telah kita hafalkan sejak kecil.
Shalat adalah ibadah yang memiliki dimensi lahir dan batin. Tubuh kita menghadap kiblat, sementara hati juga harus diarahkan kepada Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaha: 14)
Perhatikan ayat tersebut. Allah tidak mengatakan bahwa tujuan shalat hanya agar kita melakukan gerakan tertentu.
Tetapi Allah menyebut: “Untuk mengingat Aku.” Maka salah satu ruh shalat adalah dzikrullah, mengingat Allah.
Karena itu, semakin seseorang memahami apa yang sedang ia baca, semakin mudah hatinya menghadirkan Allah dalam shalat.
Sebaliknya, ketika seseorang hanya mengucapkan bacaan tanpa memahami maknanya, shalat dapat berubah menjadi rutinitas yang dilakukan secara otomatis.
Mulut bergerak. Tubuh bergerak. Tetapi hati tidak ikut bergerak.
SHALAT ADALAH MOMEN PALING MULIA DALAM KEHIDUPAN SEORANG HAMBA
Bayangkan seseorang yang sangat kita cintai tiba-tiba meminta kita untuk berhenti sejenak dari seluruh kesibukan, kemudian berbicara kepada kita secara langsung.
Tentu kita akan berusaha mendengarkan. Kita akan berusaha fokus. Kita tidak ingin kehilangan satu kata pun.
Lalu bagaimana jika yang sedang kita hadapi adalah Rabbul ‘Alamin, Tuhan semesta alam? Allah yang menciptakan kita. Allah yang memberikan kita kehidupan. Allah yang memberikan kita rezeki. Allah yang menjaga kita ketika kita tidur. Allah yang menghidupkan kita ketika bangun. Allah yang memberikan kesehatan. Allah yang mengampuni dosa.
Kemudian, Allah yang mengetahui kesedihan yang tidak diketahui manusia. Allah yang mengetahui air mata yang kita sembunyikan. Allah yang mengetahui doa yang bahkan belum sempat kita ucapkan.
Lalu ketika kita berdiri di hadapan-Nya dalam shalat… Apakah hati kita sudah benar-benar hadir? Inilah yang perlu kita renungkan.
SHALAT BUKAN BEBAN, TETAPI KEBUTUHAN
Banyak orang memandang shalat sebagai kewajiban yang harus diselesaikan. “Sudah shalat belum?” “Sudah menggugurkan kewajiban.”
Padahal seorang mukmin seharusnya tidak hanya memandang shalat sebagai kewajiban.
Shalat semestinya menjadi kebutuhan jiwa. Tubuh membutuhkan makanan. Tubuh membutuhkan air.
Tetapi jiwa membutuhkan hubungan dengan Allah. Karena itulah Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjadikan shalat sebagai sesuatu yang sangat beliau cintai.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan an-Nasa’i, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Dijadikan kecintaanku kepada wanita dan wewangian, dan dijadikan penyejuk mataku di dalam shalat.”
Ungkapan:
وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ
“Dan dijadikan penyejuk mataku di dalam shalat.” adalah ungkapan yang sangat dalam.
Bagi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, shalat bukan sekadar kewajiban. Shalat adalah qurratu ‘ain. Penyejuk mata. Penyejuk hati. Tempat ketenangan.
Selanjutnya shalat adalah, tempat kembali. Tempat mengadu.Tempat menguatkan diri.
MENGAPA KITA SERING TIDAK KHUSYUK?
Salah satu penyebabnya adalah kita tidak memahami apa yang sedang kita ucapkan.
Kita hafal: Allahu Akbar. Tetapi apakah kita benar-benar merasakan bahwa Allah lebih besar daripada semua persoalan kita?
Kita membaca: Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin.Tetapi apakah kita benar-benar menyadari bahwa segala puji hanya milik Allah?
Kita membaca: Ar-Rahmaanir-Rahiim.
Tetapi apakah hati kita benar-benar mengingat luasnya rahmat Allah?
Kita membaca: Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin. “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
Tetapi apakah kita benar-benar merasa bahwa hanya Allah tempat bergantung?
Kita membaca: Ihdinash-shiraathal mustaqiim. “Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
Tetapi apakah kita benar-benar sedang meminta hidayah? Inilah pentingnya memahami bacaan shalat.
AL-FATIHAH: DIALOG SEORANG HAMBA DENGAN ALLAH
Salah satu bacaan terpenting dalam shalat adalah Surah Al-Fatihah. Surah ini bukan sekadar bacaan wajib yang kita ulang-ulang.
Ia adalah doa. Ia adalah pujian.Ia adalah pengakuan. Ia adalah permohonan.
Bahkan dalam hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Muslim, Allah menjelaskan pembagian Al-Fatihah antara Allah dan hamba-Nya.
Ketika seorang hamba mengucapkan:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.”
Allah menjawab bahwa hamba-Nya telah memuji-Nya. Ketika seorang hamba membaca:
الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
“Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.” Allah menjawab bahwa hamba-Nya telah menyanjung-Nya.
Ketika membaca:
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
“Pemilik hari pembalasan.” Allah menyatakan bahwa hamba-Nya telah mengagungkan-Nya.
Kemudian ketika kita membaca:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
Allah menyatakan: “Ini antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.”
Bayangkan… Ketika kita membaca Al-Fatihah dengan penuh kesadaran, kita sedang berdialog dengan Allah.
Bukan dialog dengan manusia. Bukan dialog dengan makhluk. Tetapi dialog antara hamba dengan Rabb-nya.
Maka sungguh sayang jika Al-Fatihah hanya keluar dari lisan tanpa pernah menyentuh hati.
TAKBIR: MENINGGALKAN DUNIA DI BELAKANG
Ketika kita mengangkat tangan dan mengucapkan:
اللَّهُ أَكْبَرُ
Allahu Akbar. “Allah Mahabesar.”
Apa maknanya? Allah lebih besar. Lebih besar daripada pekerjaan kita. Lebih besar daripada masalah kita. Lebih besar daripada kekhawatiran kita. Lebih besar daripada jabatan kita. Lebih besar daripada harta kita. Lebih besar daripada pujian manusia. Lebih besar daripada ketakutan kita. Lebih besar daripada musuh kita. Lebih besar daripada segala sesuatu.
Maka ketika kita mengucapkan “Allahu Akbar”, seharusnya kita belajar meletakkan dunia di belakang kita.
Masalah tetap ada. Tetapi kita tahu siapa yang memiliki solusi. Kesulitan tetap ada.
Tetapi kita tahu kepada siapa kita meminta pertolongan. Kita belum tahu masa depan. Tetapi kita tahu siapa yang menguasai masa depan.
RUKU’: BELAJAR MERENDAHKAN DIRI
Ketika ruku’, kita membaca:
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ
“Mahasuci Tuhanku Yang Mahaagung.”
Tubuh kita membungkuk. Punggung direndahkan. Kepala ditundukkan. Ini adalah pendidikan jiwa.
Manusia yang sering merasa hebat di luar shalat, di dalam shalat diajarkan untuk merendah. Kita mungkin memiliki jabatan.
Tetapi di hadapan Allah kita hanyalah hamba. Kita mungkin memiliki banyak uang.
Tetapi di hadapan Allah kita tetap membutuhkan-Nya. Kita mungkin dikenal banyak manusia.
Tetapi di hadapan Allah kita tidak memiliki apa-apa kecuali amal dan rahmat-Nya.
Ruku’ mengajarkan: Jangan sombong. Karena sebesar apa pun kita di hadapan manusia, kita tetap kecil di hadapan Allah.
I’TIDAL: BELAJAR MENGINGAT NIKMAT
Setelah ruku’, kita berdiri dan membaca:
سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ
“Allah mendengar orang yang memuji-Nya.”
Kemudian:
رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ
“Wahai Tuhan kami, bagi-Mu segala puji.”
Ini adalah pengingat bahwa seluruh pujian pada akhirnya kembali kepada Allah.
Ketika mendapatkan keberhasilan, jangan lupa Allah. Ketika mendapatkan rezeki, jangan lupa Allah. Ketika mendapatkan jabatan, jangan lupa Allah. Ketika mendapatkan kesembuhan, jangan lupa Allah. Ketika mendapatkan kebahagiaan, jangan lupa Allah. Sebab semua itu berasal dari-Nya.
SUJUD: POSISI TERDEKAT SEORANG HAMBA DENGAN ALLAH
Ada sesuatu yang sangat indah dalam shalat. Semakin tinggi seseorang ingin mendekat kepada Allah, ia justru harus semakin merendahkan dirinya.
Ketika sujud, dahi kita menyentuh tanah. Bagian tubuh yang biasanya kita jaga dan muliakan kita letakkan di tempat paling rendah.
Kita membaca:
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى
“Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi.”
Dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabb-nya adalah ketika ia sedang sujud, maka perbanyaklah doa.” (HR. Muslim)
Masya Allah. Justru ketika tubuh kita berada di posisi paling rendah, hubungan kita dengan Allah berada pada posisi yang sangat dekat.
Maka jangan terburu-buru ketika sujud. Jangan jadikan sujud hanya sebagai gerakan singkat.
Karena boleh jadi, di antara seluruh bagian shalat kita, sujud adalah kesempatan paling indah untuk mencurahkan isi hati kepada Allah.
DOA DI ANTARA DUA SUJUD
Setelah sujud pertama, kita duduk dan membaca:
رَبِّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَاهْدِنِي، وَعَافِنِي، وَارْزُقْنِي
“Ya Rabbku, ampunilah aku, rahmatilah aku, berilah aku petunjuk, berilah aku kesehatan/keselamatan, dan berilah aku rezeki.”
Dalam lafaz-lafaz doa yang diajarkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam terdapat permohonan yang sangat lengkap.
Kita meminta ampun. Kita meminta rahmat. Kita meminta petunjuk. Kita meminta keselamatan. Kita meminta rezeki.
Bayangkan jika kita benar-benar memahami doa ini. Setiap kali duduk di antara dua sujud, kita sedang mengakui:
“Ya Allah, aku banyak dosa. Ampunilah aku.”
“Ya Allah, aku lemah. Rahmatilah aku.”
“Ya Allah, aku mudah tersesat. Berilah aku petunjuk.”
“Ya Allah, aku membutuhkan keselamatan. Selamatkanlah aku.”
“Ya Allah, aku membutuhkan rezeki. Cukupilah aku.”
Maka jangan sekadar membaca. Rasakan.
KETIKA SHALAT MENJADI TEMPAT MENGADU
Setiap manusia memiliki masalah. Ada yang sedang menghadapi masalah rumah tangga. Ada yang sedang memikirkan anak. Ada yang sedang mencari pekerjaan. Ada yang sedang terlilit utang.
Tak hanya itu, ada juga yang sedang sakit. Ada yang sedang kehilangan orang tercinta. Ada yang sedang menghadapi fitnah. Ada yang sedang berjuang keluar dari kesulitan.
Bahkan ada pula yang terlihat tersenyum di hadapan manusia, tetapi menangis ketika sendirian.
Allah mengetahui semuanya. Dan salah satu tempat terbaik untuk mengadukan semuanya adalah shalat.
Allah berfirman:
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.” (QS. Al-Baqarah: 153)
Perhatikan. Allah tidak mengatakan bahwa orang beriman tidak akan memiliki masalah.
Tetapi Allah mengajarkan ke mana kita harus kembali ketika masalah datang:
Sabar dan shalat. Maka ketika hidup terasa berat, jangan hanya mencari manusia.
Cari Allah. Ketika hati terasa sempit, jangan hanya membuka media sosial.
Buka sajadah. Ketika pikiran kacau, jangan hanya mencari hiburan.
Ambillah wudhu. Ketika air mata tidak mampu menjelaskan perasaan, bawalah air mata itu ke dalam sujud.
KHUSYUK BUKAN BERARTI TIDAK PERNAH TERGANGGU
Perlu kita pahami bahwa khusyuk bukan berarti pikiran tidak pernah terlintas ke mana-mana.
Manusia tetap bisa lupa. Pikiran bisa teralihkan. Setan berusaha mengganggu manusia dalam shalat. Yang penting adalah kita kembali.
Ketika pikiran melayang, kembalikan kepada bacaan. Ketika hati terganggu, kembali mengingat Allah..Ketika muncul urusan dunia, lepaskan perlahan.
Jangan menyerah. Jangan berkata: “Saya memang tidak bisa khusyuk.”
Teruslah belajar. Khusyuk adalah sesuatu yang harus diperjuangkan.
BELAJAR MEMAHAMI BACAAN SHALAT
Jika kita ingin meningkatkan kualitas shalat, salah satu langkah sederhana adalah mulai mempelajari arti bacaan shalat. Tidak perlu sekaligus.
Mulailah dari:
1. Allahu Akbar: Allah Mahabesar.
2. Al-Fatihah: Pahami ayat demi ayat.
3. Tasbih ruku’: Subhaana Rabbiyal ‘Azhiim. Mahasuci Tuhanku Yang Mahaagung.
4. Tasbih sujud: Subhaana Rabbiyal A’laa. Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi.
5. Doa antara dua sujud Rabbighfirlii… Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, berilah aku petunjuk, keselamatan dan rezeki.
6. Tasyahhud Pelajari makna setiap kalimatnya.
7. Shalawat kepada Nabi Pahami bahwa kita memohon kepada Allah untuk melimpahkan rahmat dan keberkahan kepada Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Ketika makna bacaan mulai kita pahami, shalat akan terasa berbeda.
JANGAN TERBURU-BURU DALAM SHALAT
Salah satu penyakit shalat zaman sekarang adalah tergesa-gesa.
Takbir cepat. Al-Fatihah cepat. Ruku’ sebentar. I’tidal sebentar. Sujud sebentar. Bangkit lagi.
Seolah-olah kita sedang mengejar sesuatu. Padahal kita sedang berdiri di hadapan Allah.
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah menegur seseorang yang shalatnya terlalu cepat dan tidak melakukan thuma’ninah dengan benar.
Ini menunjukkan bahwa shalat bukan perlombaan. Shalat bukan tentang siapa yang paling cepat selesai.
Shalat adalah tentang siapa yang paling sadar bahwa dirinya sedang menghadap Allah.
KETIKA ADZAN TERDENGAR
Adzan sebenarnya adalah panggilan. Bayangkan jika kita menerima telepon dari orang yang sangat penting.
Kita segera menjawab. Tetapi ketika muazin berkata:
حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ
“Mari menuju shalat.” Bagaimana respons kita?
Apakah kita berkata dalam hati: “Sebentar, masih sibuk.” “Nanti saja.” “Masih ada urusan.”
Padahal yang memanggil kita adalah Allah melalui syariat-Nya. Maka mari kita ubah cara pandang.
Bukan: “Saya harus shalat.”
Tetapi: “Allah sedang memberi saya kesempatan untuk menghadap-Nya.”
Bukan: “Saya harus meninggalkan pekerjaan untuk shalat.”
Tetapi: “Saya sedang meninggalkan sejenak urusan dunia untuk bertemu dengan Rabb yang mengatur seluruh urusan saya.”
DUNIA TIDAK AKAN BERHENTI HANYA KARENA KITA SHALAT
Pekerjaan tidak akan pernah benar-benar selesai. Pesan akan selalu berdatangan. Telepon akan selalu berbunyi. Berita akan terus muncul. Masalah akan selalu ada. Target akan terus mengejar.
Tetapi umur kita juga terus berjalan. Hari ini kita masih bisa berdiri. Besok belum tentu. Hari ini kita masih bisa bersujud.
Besok belum tentu. Hari ini kita masih bisa mengucapkan: Allahu Akbar. Besok mungkin lisan kita sudah tidak mampu lagi mengucapkannya.
Karena itu, jangan menunggu tua untuk mulai mencintai shalat.
Jangan menunggu sakit untuk menghargai kesehatan. Jangan menunggu kematian untuk memahami arti kehidupan.
SUATU HARI KITA AKAN MENINGGALKAN SEMUANYA
Rumah akan kita tinggalkan. Mobil akan kita tinggalkan. Harta akan kita tinggalkan. Jabatan akan kita tinggalkan.
Popularitas akan kita tinggalkan. Media sosial akan kita tinggalkan. Jumlah pengikut akan kita tinggalkan.
Tetapi amal akan menemani kita. Maka sungguh aneh apabila seseorang begitu sibuk memperindah rumahnya, tetapi lupa memperindah tempat kembalinya.
Begitu sibuk memperbaiki penampilan, tetapi lupa memperbaiki shalat.
Begitu takut kehilangan harta, tetapi tidak takut kehilangan kekhusyukan.
SHALAT YANG BAIK AKAN MEMENGARUHI KEHIDUPAN
Allah berfirman:
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)
Artinya, shalat bukan hanya ritual yang selesai ketika kita mengucapkan salam.
Shalat seharusnya meninggalkan bekas. Setelah shalat, kita menjadi lebih jujur.
Lebih sabar. Lebih rendah hati. Lebih menjaga lisan. Lebih menjaga pandangan. Lebih mudah memaafkan. Lebih takut berbuat zalim. Lebih peduli kepada sesama. Lebih sadar bahwa Allah selalu melihat kita.
Kalau shalat kita semakin banyak tetapi akhlak tidak berubah, maka kita perlu bertanya: Sudahkah shalat itu benar-benar masuk ke dalam hati kita?
MULAILAH MEMPERBAIKI SHALAT DARI SEKARANG
Tidak perlu menunggu Ramadan. Tidak perlu menunggu tua.
Tidak perlu menunggu menjadi ustaz. Tidak perlu menunggu merasa sempurna.
Mulailah dari shalat berikutnya. Ketika takbir, hadirkan hati. Ketika membaca Al-Fatihah, pahami maknanya. Ketika ruku’, rendahkan diri. Ketika i’tidal, bersyukur. Ketika sujud, dekatkan diri kepada Allah. Ketika duduk di antara dua sujud, mintalah apa yang kita butuhkan.
Kemudian, ketika tasyahhud, ingatlah bahwa kita sedang mengagungkan Allah dan bershalawat kepada Rasulullah.Ketika salam, keluarlah dari shalat dengan tekad menjadi manusia yang lebih baik.
DOA AGAR DIBERI KEKHUSYUKAN
Kita tidak bisa mengandalkan kemampuan diri sendiri. Mintalah kepada Allah.
Sebab hati berada dalam kekuasaan Allah. Kita bisa berusaha, tetapi Allah yang memberikan pertolongan.
Kita bisa belajar, tetapi Allah yang memberikan pemahaman. Kita bisa menjaga shalat, tetapi Allah yang memberikan kekhusyukan.
Maka berdoalah:
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.” (HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i)
Dan kita dapat memohon:
اللَّهُمَّ اجْعَلْ قُرَّةَ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ
“Ya Allah, jadikanlah shalat sebagai penyejuk mataku.”
Namun yang paling penting adalah mengikuti doa-doa yang shahih dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan terus memohon kepada Allah agar hati kita dilembutkan.
JANGAN HANYA MENGAJARKAN ANAK CARA SHALAT, AJARKAN MEREKA MENCINTAI SHALAT
Anak-anak jangan hanya diajarkan: “Shalat karena itu wajib.”
Tetapi ajarkan juga: “Shalat karena Allah mencintaimu.”
Ajarkan mereka bahwa ketika mereka sedih, mereka memiliki tempat untuk kembali. Ketika takut, mereka memiliki tempat untuk berlindung.
Ketika bingung, mereka memiliki tempat untuk bertanya. Ketika bahagia, mereka memiliki tempat untuk bersyukur. Ketika gagal, mereka memiliki tempat untuk bangkit.
Tempat itu adalah: Allah.
Dan salah satu jalan untuk mendekat kepada Allah adalah shalat.
UNTUK SAUDARAKU YANG MERASA SHALATNYA BELUM KHUSYUK
Jangan putus asa. Jangan merasa bahwa Allah tidak menerima kita hanya karena kita masih sering kehilangan fokus.
Teruslah shalat. Teruslah belajar. Teruslah berusaha. Teruslah memperbaiki. Jangan meninggalkan shalat hanya karena merasa belum bisa khusyuk. Justru shalatlah untuk belajar khusyuk.
Berdirilah di hadapan Allah meskipun hati kita masih berantakan. Datanglah kepada Allah meskipun dosa kita banyak. Sujudlah meskipun kita merasa tidak layak.
Karena Allah bukan hanya Tuhan bagi orang-orang yang merasa dirinya sudah baik.Allah adalah Rabb bagi seluruh hamba-Nya.
MUNGKIN SAAT INI HIDUP KITA SEDANG BERAT
Mungkin ada doa yang belum terkabul. Mungkin ada masalah yang belum selesai.
Mungkin ada seseorang yang kita rindukan. Mungkin ada kesalahan masa lalu yang terus menghantui. Mungkin ada masa depan yang membuat kita takut. Mungkin kita sedang berjuang tanpa diketahui banyak orang.
Tidak apa-apa. Bawalah semuanya ke dalam sujud. Tidak semua manusia harus tahu masalah kita. Tetapi Allah sudah mengetahui semuanya.
Kita tidak perlu menjelaskan kepada Allah apa yang sudah Dia ketahui. Cukup datang dengan hati yang jujur. Menangislah jika ingin menangis.
Berdoalah. Bersujudlah. Katakan dalam hati: “Ya Allah, aku tidak kuat tanpa-Mu.”
“Ya Allah, aku tidak tahu jalan keluarnya, tetapi Engkau Mahatahu.”
“Ya Allah, aku tidak mampu mengubah keadaan ini sendirian. Tolonglah aku.”
“Ya Allah, jika sesuatu itu baik untukku, mudahkanlah. Jika tidak baik, jauhkanlah dan berikanlah yang lebih baik.”
SHALAT ADALAH SEKOLAH KEHIDUPAN
Lima waktu shalat sebenarnya adalah lima kali kesempatan setiap hari untuk memperbaiki diri.
Subuh mengajarkan kita memulai hari bersama Allah.
Dzuhur mengingatkan kita di tengah kesibukan bahwa Allah tidak boleh dilupakan.
Ashar mengingatkan bahwa waktu terus berjalan.
Maghrib mengingatkan bahwa hari telah berakhir.
Isya mengajarkan kita menyerahkan diri kepada Allah sebelum beristirahat.
Lima waktu. Lima kesempatan. Lima kali sehari Allah memberi kita ruang untuk kembali.
Maka jangan melihat shalat sebagai sesuatu yang mengganggu kehidupan. Shalat justru yang menjaga kehidupan kita agar tidak kehilangan arah.
AKHIRNYA, APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?
Mulailah dari hal sederhana.
Pertama, jaga shalat lima waktu.
Kedua, usahakan shalat di awal waktu.
Ketiga, pelajari arti bacaan shalat sedikit demi sedikit.
Keempat, jangan tergesa-gesa.
Kelima, hadirkan hati ketika takbir.
Keenam, pahami Al-Fatihah.
Ketujuh, perpanjang sujud dengan doa-doa yang diajarkan.
Kedelapan, jauhkan gangguan sebelum shalat.
Matikan atau jauhkan ponsel jika memungkinkan. Selesaikan kebutuhan mendesak. Pilih tempat yang tenang.
Kesembilan, berdoalah agar Allah memberikan kekhusyukan.
Kesepuluh, jangan berhenti belajar memperbaiki shalat sampai ajal menjemput.
RENUNGAN PENUTUP
Saudaraku…
Suatu saat nanti akan datang waktu ketika kita tidak lagi dipanggil: “Sudah shalat?”
Tetapi kita akan ditanya tentang shalat kita. Suatu saat nanti kita tidak lagi memiliki kesempatan untuk memperbaiki rakaat yang kita lakukan.
Tidak ada lagi kesempatan untuk mengulang Subuh yang kita tinggalkan. Tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki shalat yang kita lakukan terburu-buru.
Tidak ada lagi kesempatan untuk mengatakan: “Nanti saya akan lebih khusyuk.”
Karena itu, jangan tunggu nanti. Perbaiki shalat kita sekarang. Jika selama ini kita shalat tetapi hati sering lalai, mari belajar.
Jika selama ini kita tidak memahami bacaan, mari belajar artinya. Jika selama ini kita tergesa-gesa, mari perlahan.
Bahkabln, jika selama ini kita jarang berdoa dalam sujud, mari manfaatkan kesempatan itu. Jika selama ini kita memandang shalat sebagai beban, mari ubah cara pandang.
Katakan kepada diri kita: “Aku tidak sedang dipaksa untuk shalat.” “Aku sedang diberi kesempatan untuk bertemu dengan Allah.”
Karena dunia boleh membuat kita lelah. Manusia boleh mengecewakan. Keadaan boleh berubah. Harta bisa berkurang. Jabatan bisa hilang. Kesehatan bisa melemah. Tetapi Allah tetap ada.
Dan ketika semua pintu terasa tertutup, pintu Allah selalu terbuka bagi hamba yang kembali kepada-Nya.
Maka… Jangan tinggalkan shalat. Jangan remehkan shalat. Jangan terburu-buru dalam shalat. Jangan hanya menggerakkan tubuh ketika shalat. Gerakkan juga hati. Pahami bacaannya. Rasakan maknanya. Hadirkan Allah.
Dan jadikan shalat sebagai tempat kita pulang. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendirikan shalat dengan benar, menjaga shalat lima waktu, mencintai shalat, memahami bacaannya, memperoleh kekhusyukan, serta mendapatkan pertolongan melalui shalat.
Semoga Allah menjadikan shalat kita sebagai cahaya di dunia, penolong ketika kita menghadapi kesulitan, dan menjadi sebab keselamatan kita di akhirat.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, dosa kedua orang tua kita, keluarga kita, guru-guru kita, serta seluruh kaum Muslimin dan Muslimat.
اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Ya Allah, bantulah kami untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.”
اللَّهُمَّ اجْعَلِ الصَّلَاةَ قُرَّةَ أَعْيُنِنَا، وَنُورَ قُلُوبِنَا، وَسَكِينَةً لِنُفُوسِنَا.
“Ya Allah, jadikanlah shalat sebagai penyejuk mata kami, cahaya bagi hati kami, dan ketenangan bagi jiwa kami.”
آمِين يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ
Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
PESAN UNTUK DIRI SENDIRI
Kalau hari ini kita masih diberi kesempatan untuk bersujud, jangan sia-siakan.
Sebab bisa jadi, sajadah yang hari ini kita gunakan untuk bersujud adalah salah satu tempat terakhir di dunia tempat kita menghadap Allah sebelum suatu hari kita menghadap-Nya tanpa bisa kembali lagi.
Maka, mari perbaiki shalat kita sebelum kita dipanggil untuk mempertanggungjawabkannya.
Shalatlah dengan tubuhmu. Pahami dengan akalmu. Hayati dengan hatimu. Dan ikhlaskan hanya untuk Allah.
Insya Allah, shalat yang kita jaga akan menjaga kita. Semoga versi ini bisa menjadi artikel tausiyah panjang untuk WhatsApp, Facebook, website, atau bahan kajian, sekaligus tetap mudah dibaca dan menyentuh hati.






